Tampilkan postingan dengan label In Memoriam. Tampilkan semua postingan

Dokumentasi perjalanan mengikuti Workshop di Hotel Soechi Medan International  

Posted by Unknown in , ,

Syukur alhamdulillah mendapat kepercayaan untuk mengikuti Workshop Guru-guru B. Inggris di Hotel Soechi Medan International, tepat pada hari sabtu kemarin. Sudah barang tentu hal ini adalah kesempatan berharga bagi saya untuk dapat menimba ilmu serta wawasan yang banyak demi mengembangkan potensi khususnya di bidang pengajaran B. Inggris. Ya, maklumlah, masih tahap pengabdian. Masih banyak hal yang harus dipelajari untuk lebih mencapai target kompetensi pengajaran. Minimnya ilmu, serta kurangnya mentalitas yang mesti di sempurnakan lagi, serta kesiapan dalam menghadapi segala aral rintangan hendaklah di perhatikan. Karena tidak ingin pengajaran yang selama ini saya geluti, berlalu begitu saja tanpa membekas di dalam diri sendiri. Saya terapkan dalam diri agar apa yang saya ajarkan ini, juga mampu mengajarkan diri saya untuk memperbaiki mentalitas dan kuantitas. Semoga ini menjadi pembelajaran yang konsisten untuk saya lakukan dan tanamkan, khususnya selama masa pengabdian di bumi waqaf ini.


Tepat pada hari sabtu, saatnya mempersiapkan diri mengikuti workshop tersebut. Bersama ke-tujuh rekan pengajar yang masing-masing telah di bagi menjadi 2 kategori, yaitu pengajar pelajaran B.Inggris dan pengajar pelajaran Matematika. Ini terbentuk setelah seminggu sebelumnya di utus dan di tetapkan oleh Bapak Kabid Pendidikan atas musyawarah guru-guru bahasa inggris dari kelas I-VI tepatnya di kantor guru, membicarakan perihal siapa yang akan di utus atas undangan yang telah di terima dari kantor Tsanawiyah. Keputusan dari kabid sendiri sebelum adanya sanggahan, bahwa yang diutus adalah mereka guru-guru senior yang kiranya di percayakan mampu untuk mengadopsikan kembali ilmu tersebut kepada anak-anak kedepannya. Namun, salah seorang guru senior yang juga mendengar keputusan tersebut seketika angkat bicara dan mengusulkan agar kami yang masih terbilang baru sebagai staff pengajar selayaknya yang mengikuti workshop tersebut. Dengan alasan yang sangat sederhana, setelah melihat berkas undangan yang diterima bahwa materi yang akan di berikan adalah materi yang di khususkan kepada anak-anak strata SD. Dan melihat pengalaman mereka yang mungkin kiranya sudah sering mengikuti pelatihan maupun workshop-workshop di moment tertentu, membuat rekan guru senior saya tadi mengusulkan agar memberikan kesempatan kepada kami yang mungkin belum memiliki pengalaman banyak akan hal ini. Sungguh kebesaran jiwa sebagai sesama pengajar yang patut saya tiru akan sikap dewasa ini. Ya, betapa tidak, kesempatan di depan mata di sia-siakan begitu saja demi kepentingan orang lain yang mungkin lebih membutuhkannya. Sejurus dengan masukan ustad tersebut, akhirnya Kabid mengiyakan sembari menanyakan kepada kami yang hadir saat itu juga, siapakah gerangan yang diantara kami yang siap menjadi utusan mewakili pondok. Satu persatu nama disebutkan, baik itu pengajar B.Inggris juga Matematika. Yang paling di utamakan ketika itu adalah mereka yang hadir pada saat perkumpulan itu juga. Walaupun mungkin ada yang berkeinginan untuk mengkutinya di antara guru-guru pengajar yang tidak hadir, namun untuk menjunjung loyalitas kedisiplinan, maka lebih di utamakan para pengajar yang hadir ketika itu. Dan Alhamdulillah, saya terpilih untuk mengikutinya. Melihat minimnya kegiatan juga perlunya pemebelajaran selama pengabdian, menjadikan saya masuk kategori sebagai utusan. Terlebih karena saya merupakan guru pengajar Materi Bahasa Inggris, otomatis agar lebih menguasai sistem pembe
lajaran dan pengajaran kepada anak-didik nantinya.

Bersama ke-tiga rekan satu profesi, yakni pengajar B.Inggris. Saya, rekan saya Irfansyah Putra, Sri Wahyuni Bangun, dan Fitri Mirnawati, bersiap diri untuk bergegas ke hotel tersebut sedini mungkin. Karena pendaftaran ulang peserta di mulai pada pukul 13.00-13.30, kami merencanakan pukul 12.00 harus tiba di tempat tujuan, mewanti-wanti kalau saja di hotel tersebut tidak ada tempat untuk menunaikan shalat dzuhur. Ya, mengapa? setelah mengetahui bahwa hotel tersebut adalah miliki orang cina, yang mayoritas pegawai dan pemiliknya beragamakan budha, mungkin saja tidak di sediakan mushala untuk shalat.
Saya bersama rekan saya irfansyah berangkat dari pondok setelah istirahat ke dua anak-anak di kelas. Dengan mengendarai sepeda motor, kamipun pergi ke hotel tujuan. Sedangkan dua rekan lagi, menaiki mobil pondok yang kebetulan lagi kosong. Setiba di tempat, saya melihat suasana yang lain. Ya, maklumlah jarang masuk hotel, apalagi menginap, hiks.
Berpose di salah satu bilik hotel
Arsitektur, juga berbagai macam perabot yang megah tersuguhkan , mengkilap dimata yang memandangnya. Kami naiki tangga eskalator yang mati, loh ko' bisa mati nih, pikirku saat itu. Hotel megah seperti ini ko' bisa mati eskalatornya? Ya sudahlah, nikmati apa yang ada saja. Langkah demi langkah mengantarkan kami ke ruang-ruang penginapan dan perjamuan. Nama setiap ruang yang kami kunjungi unik-unik. Ada ruang Sumatera, karo, nias, dll. Yang mana disesuaikan dengan nama suku dan adat istiadat. Wah, unik sekali nih. bisik hati ketika itu.

Waktu masih menunjukkan pukul 12.15 di mana acara masih satu jam lagi di mulai. Sejurus dengan itu, perut saya sudah mulai lapar karena tidak sempat sarapan pagi sebelumnya. Eh, ternyata rekan saya yuni dan fitri juga demikian, merasa lapar karena belum makan pagi juga. Wah, kalau begitu satu hati dong..hehehe. Namun tidak dengan rekan saya irfansyah, ia masih merasa kenyang karena telah makan pagi jam 10.00 sebelum berangkat. Ya sudahlah, akhirnya saya hanya bertiga dengan ke dua saudari saya untuk mencari rumah makan di sekitar hotel yang harganya terjangkau, takut seandainya makan di hotel dana tak mencukupi, bisa malu tuh!. Sembari berjalan-jalan sekitar hotel untuk turun, ternyata ada lift yang telah tersedia di hotel tersebut. kami pun menunggu turunnya lift hingga tiba di lantai 5 tempat kami berada. Duh, ko tidak dari tadi tahunya, kalau ada lift di sini. Kalau tahukan bisa menghemat tenaga, ketus salah seorang rekanku tadi. Keluar dari hotel segera kami meniliki rumah makan yang berada di sekitarnya, Sembari mencari masjid untuk shalat, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 12.30. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga ke rumah makan samping pasar, tepatnya dekat masjid Maa'ul Hayat samping gedung Tirtanadhi. Wah, kebetulan sekali tuh. Tidak memakan waktu banyak untuk mencari tempat shalat. Makan, Shalat, dan terakhir kamipun kembali ke hotel.

PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN

Akhirnya tibalah saatnya untuk mendengarkan materi yang akan di berikan oleh Mrs Faraah Aida Rahmat, (Bachelor degree in Education, Mojoring in English Language and a Master in Cultural Studies in Singapore). Ya, tamunya sengaja di datangkan in singapura, tidak lain mengingat banyaknya pengalaman yang di tekuni olehnya khususnya dalam pengajaran berhasa inggris, matematika, juga sains. Sekaligus membandingkan cara pengajaran yang efektif baik itu di indonesia maupun di singapura.
Adalah Mr Steven Lim, selaku manajer pemasaran international dari Marshall Cavendish Singapura. Ia membuka acara wokrshop sekaligus mengenalkan sistem pengajaran di singapura, bahwa singapura mengutamakan tiga bidang keilmuan yang di antaranya : B.Inggris, Matematika, dan Sains sebagai pelajaran inti yang harus di enyam oleh anak didik mereka. Dengan berbagai alasan yang di utarakannya, saya kurang begitu menangkap apa yang ia bicarakan karena minimnya perbendaharaan yang saya miliki untuk lebih menyimak dan memahami apa yang di utarakannya itu. Ya, maklumlah, saya juga masih tahap pembelajaran untuk itu. Kemudian di lanjutkan sambutan oleh Mrs. Djuni Rimba selaku general manajer buku mentari indonesia, yang kurang lebihnya memaparkan perihal buku-buku yang mereka terbitkan khususnya yang berkenaan tentang pembelajaran berbahasa inggris di sekolah.

Dan tibalah masuk acara inti yang di tunggu-tunggu. Dengan senyum sembari menyambut para hadirin, Mrs Farah memperkenalkan diri memakai bahasa inggris. Ketakjuban seketika menyelusup di diri saya ketika itu, betapa tidak, lancarnya ia dalam bicara seketika membawa saya pada lamunan yang tinggi. Saya ingat akan novel ayat-ayat cinta yang konon mengkisahkan sosok fahri yang lancar akan berbahasa inggris, arab, dan jerman. Begitupun saya amat mengidolakan sosok fahri yang multitelenta itu, sembari ingin menjadi seperti dirinya yang dapat melanjutkan study diluar negeri. Ya, sekolah di luar negeri dengan mahir dalam berbahasa baik itu Inggris maupun Berbahasa arab, karena memang itulah yang saya pelajari dari pondok selama ini. Dan keduanya pula yang kini lagi saya kembangkan agar dapat meraih cita dan angan saya itu.
Materi yang akan di berikan untuk kali ini adalah " Teaching Speaking and Grammar in Different Ways" yakni Pengajaran Berbicara dan Tata Bahasa dalam Berbagai Cara. Nah, disini saya mendapati setruman-setruman yang mendekatkan saya kepada sistem pengajaran yang efektif dan mudah untuk di ajarkan kepada anak didik di antaranya :

I. Teaching Grammar Through Speaking ( Mengajar Tata Bahasa Melalaui Berbicara)

~> Mengintegrasikan berbagai macam komunikasi lisan yaitu mendengarkan, berbicara, presentasi keterampilan
~> Menciptakan banyak kesempatan bagi siswa untuk menggunakan keterampilan ini dalam bermakna, punya tujuan dan dipahami cara
~>Mengekspos siswa untuk semua jenis teks lisan baik formal dan informal

Walaupun dengan berbahasa Inggris yang lancar, namun saya mencoba memahaminya dengan bahasa saya sendiri yang mungkin masih terbilang minim untuk ini. Namun, tetap saya berusaha untuk itu yakni dengan bertanya dengan teman yang duduk di samping saya, baik itu rekan saya irfansyah, juga yang lainnya.
Kemudian di lanjutkan kepada berbagai permainan dan strategi pembelajaran di antara:

~>Mengambil keuntungan dari pembelajaran kolaboratif untuk mengembangkan keterampilan komunikasi lisan
~>Membuat Kelompok dan pekerjaan pasangan yang dapat di integrasikan ke berbagai kegiatan tangan atau permainan. Baik itu dengan menceritakan kisah dengan berbahasa inggris yaitu dengan kata " One Day" seperti "One day I woke up late for school/ work, atau permainan Yes/No yaitu permainan yang mengajarkan anak-anak agar lebih aktif dan kreatif dalam mengolah kosa kata, dengan cara membuat sebuah kelompok yang masing-masing di berikan waktu 1 hingga 2 menit untuk menjauhi daripada jawaban Yes/No ketika diberkan beberapa pertanyaan yang nantinya di ajukan dari sahabatnya yang bertanya. contoh : Have you been to Jakarta? So you havent been to Jakarta. Nah, anak yang di minta untuk menjawab di anjurkan menggunakan kalimat baru selain Yes/No, yakni dengan kata "I do", I am ", "Thats true", "That isn't true", "Thats not correct", "exactly dll. Dengan itu anak di ajarkan kepada mencari solusi kata dengan kata yang berbeda dan tidak cenderung kepada kata Yers/No.
~>permainan selanjutnya adalah permainan "Who Am I"? Ya, permainan siapa aku?. Nah, permainan ini di harapkan agar anak-didik mencari dan menggali potensinya untuk menemukan sebuah kata. Cara permainannya yakni, anak pertama di anjurkan untuk menanyakan perihal suatu kata baik itu idola, binatang kesayangan, atau apa saja yang sedang di simpan di pikiran sahabatnya. contoh : Do you work with your hands? Do you wear a uniform? Nah, sedangkan temannya yang di tanya hanya menjawab Yes/No saja tanpa menjelaskan apa itu. Kalau kata yang di maksud belum tepat, maka si penanya harus lebih mengkerucutkan pertanyaannya lebih dalam lagi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00, saatnya untuk Coffe Break. Ya, sitiraharat selama 30 menit untuk sekedar meminum secangkir kopi atau teh yang telah disediakan oleh panitia di luar ruangan pertemuan. Sungguh ini pertama kalinya saya mengetahui cara istirahat ala hotel yang konon menjadi ajang yang di tunggu-tunggu oleh peserta, khususnya untuk saling kenal dan bersilaturrahmi antar peserta yang hadir. Wah, disini saya mendapati banyak peserta yang menjadi turis dadakan, hehehe. Di sana-sini saya mendengar pembicaraan yang menggunakan bahasa inggris, walaupun sebenarnya bukan orang inggris alias turis ala indon. Dengan bangganya meneguk segelas teh sembari bercaka-cakap riuh ditengah banyaknya orang, saya hanya dapat menikmati kesyukuran ini dengan mengucap syukur alhamdulillah karena dapat menyaksikan moment yang jarang saya ikuti ini. Walaupun sebelumnya pernah juga mengikuti Seminar B. Arab International yang di adakan Universitas Sumatera Utara, kira-kira 3 bulan yang lalu, yang juga sama halnya menjadi orang arab dadakan karena mendengar banyaknya orang berbahasa arab untuk saat itu.hiks, serba dadakan ya....
But it's ok, katanya kalau ingin mampu berbahasa arab ya harus seperti orang arab, berbicara pakai bahasa arab. Begitu juga bahasa inggris, ya harus berbahasa inggris, agar mampu menguasainya.

Masuk pada sesi: Teaching Grammar Through Speaking II ( Mengajar Tata Bahasa Melalui Berbicara II)

Pada sesi ini lebih interaktif lagi, karena berbagai macam pertanyaan banyak diajukan oleh peserta, juga banyaknya masukan-masukan tentang sistem pengajaran tentunya dari ke dua belah pihak sebagai perbandingan antara Indonesia dan Singapura.
Namun, tak lepas dari pemahaman saya akan pembicaraan Mrs Farah, saya hanya mampu menangkap beberapa poin saja yang kiranya dapat saya bagikan kepada teman-teman, diantaranya :

~>Menciptakan kesadaran di kalangan pelajar dari sifat dinamis dari komunikasi lisan yang tidak hanya tergantung pada mendapatkan pesan menyeberang ke pendengar, tetapi juga sikap budaya yang spesifik dan emosi

~>Mengatur kegiatan kelas terstruktur yang menciptakan kesempatan bagi siswa untuk melatih kemampuan interaksi mereka dan mengembangkan mereka

~>Peran guru dalam bermain : Siswa seringkali lebih sangat menyadari konvensi dan pola interaksi jika mereka diberikan peran dalam pengalaman mereka untuk bermain, misalnya guru, teman sekelas, seorang dll. Semua peran orangtua membawa konvensi dan murid yang akrab dengan harapan dan menciptakan peluang bagi pengembangan keterampilan interaksi.

Dan masih banyak lagi penjelasan-penjelasan yang di sampaikan oleh Mrs Farah yang tidak sempat saya tangkap dan pahami, sehingga kiranya ini menjadi pelajaran yang mungkin dapat saya kembangkan setelah mengikuti workshop ini. Dan akhirnya, saya bersama rekan-rekan saya berphoto bersama Mrs Farah, sebagai rasa terima kasih kami untuk pengarahan yang telah ia berikan. Sungguh hal ini memberikan motivasi bagi saya agar terus memperbaiki sistem yang selama ini telah saya dapati di pondok.
Berpose bersama Mrs. Farah Aida Rahmah. Bachelor degree in Education Majoring in English Language and Literature and a Master in cultural studies


Wah, sekian perjalanan untuk workshop Bahasa Inggris kali ini. Mudah-mudahan di beri kesempatan lagi kedepannya...Amien....

NB: Duh, sorry kepanjangan ceritanya ya friend, semoga bermanfaat ya......

"Bersakit-sakit dahulu, Semoga tak sakit lagi kedua kalinya"  

Posted by Unknown in ,



    Mataku tertuju pada selembar Koran didepanku. Ku ambil Koran itu, tak sengaja mataku terpusat kepada satu berita di ujung halaman utama. Terlihat jelas sebuah pengumuman sayembara Karya Tulis berwarna biru yang membuat hatiku berdesir seketika. Ku teliti baik-baik kata-demi kata persyaratan yang diajukan. Adakah syarat yang memungkinkan bagiku untuk mengikutinya, karena ku takut ada satu persyaratan yang tidak kusanggupi seperti biasanya Yaitu faktor Status. Kebanyakan perlombaan yang kulihat selama ini hanya ditujukan kepada para pelajar saja. Otomatis status ku tidak memungkinkan untuk ikut serta didalamnya.
Alhamdulillah ternyata syaratnya memungkinkan, tidak mempersulit, bahkan dibuka untuk umum. Ya, untuk umum, sekali lagi bathin ku bersyukur akan syarat yang sederhana ini. Terlebih saat ku melihat total hadiah yang menggiurkan untuk orang sepertiku yang terbilang masih minim financial. Lantas ku terbayang-bayang sebuah laptop yang ingin kumiliki segera, terbesit dibenakku seandainya saja ku menang dalam sayembara ini, hadiahnya akan ku manfaatkan untuk membeli laptop demi menunjang hobiku dalam dunia tulis-menulis. ( belum lagi menang, dah ngayal yeah hihi….)
Tapi itulah yang kurasakan saat ini, sebuah hasrat yang terlanjur cinta dalam dunia baru ini, Menulis dan menulis. Mungkin hal ini juga dialami bagi penulis pemula yang lain, yang ingin mengembangkan hobinya ke taraf yang lebih tinggi, juga ingin menjadikannya tulis menulis sebagai lahan rejeki. Pastinya perlombaan seperti ini amatlah dinantikan.
Segera ku pasang kuda-kuda (hehe..kayak mau bertarung aje yeah, tapi memang mau bertarung ko’ melawan saingan githu…) demi target pencapaian, agar kiranya waktu ku yang gunakan efektif dan tidak mengganggu kesibukan lainnya. Karena disaat ujian ma’had seperti ini,biasanya produktifitas otak lebih banyak dituangkan kepada koreksian hasil ujian adik-adik. Selain mata lelah, otak juga di maksimalkan demi ketelitian dalam mengoreksi agar kiranya tidak ada kekeliruan nantinya.
Yups, selama lima hari kupusatkan segenap pikiran untuk lomba ini, kupilih cerpen dan puisi sebagai lahan tulisanku. Ya maklum lah kalau artikel sedikit berat bagiku untuk ngelakoninya. Masih tahap belajar nih…hehehe…
Walhasil peluh keringat hasil memeras otak membuahkan 3 buah cerpen dan 4 puisi (duh masa sih otak diperas , emang cucian apa?? Wah gawaat tuh gimana caranya yah!!) yach, kukira cukup bagiku untuk waktu sesingkat ini, (walaupun masih kurang ide kali yeah). Tak sebanyak tulisan-tulisan orang lain biasanya, mungkin ini yang sanggup kulakukan diwaktu sesempit ini disamping mengoreksi ujian.
Tepatnya kemarin tanggal 3 kuantarkan karyaku ini kekantor WASPADA yang terletak dijalan Brigjen Katamso dekat istana Maimun. Walaupun sebelumnya ku dihadapkan berbagai rintangan, yakni tatkala ku tak tahu jalan. Karena ku sendiri masih terbilang awam untuk sekedar menghafal jalan-jalan dimedan, yach minal ma’lum selama 6 tahun dipesantren pulang balek dari Medan-Siantar kerumah mengendarai kereta api saja, sesekali saja mengendarai sodako yang itupun hanya menuju stasiun. (Duh kasian yeah…hihi)
ku ajak bebrapa teman yang berasal dari medan, namun ternyata mereka memiliki kesibukkan yang lain, ku lantas maklum mendengar alasana mereka karena memang sibuknya kegiatan dimasa-masa ujian seperti ini, yang tak hanya menguras otak, namun juga fisik sehabis mengawas ujian seharian dikelas.
Lantas ku pergi sendri dengan mengendarai speda motor teman, ku berpikir sejenak dapatkah aku sampai tujuan dengan pengetahuan yang sedikit mengenai jalan dimedan ini , terlebih ku belum memiliki SIM untuk membawa kereta pinjamanku ini,
      Bismillah…kuniatkan dalam hati semoga perlajalanan yang hanya berbekal STNK ini dipermudah Oleh Allah. Sebelumnya ku hanya bertanya kalau jalan yang selama ini kulalui mungkinkah menjurus ke jalan yang akan kutempuh. Sekedar Tanya saja lah …mungkin ditengah jalan nanti ketemu juga pikirku inget pepatah nih, yang mengatakan “Malu bertanya Sesat dijalan”. ( awas ntar kesesat lu yeah…)
Ternyata apa yang kuharapkan tak sesuai dengan kenyata’an, jalan yang kutempuh buntu. Kutak tahu harus kemana ku lajukan sepeda motorku ini. Walaupun telah bertanya-tanya kepada orang-orang pingiran jalan namun itu lah, tetap saja ku tak paham kemana arah yang mereka tujukan kepdaku.
“Oh mau kearah istana Maimun dek, dari sini kesini…ntar terus aje …pasti nyampe’ tuh….!”

“Nanti dari kantor Pos, belok kiri menuju deli tua, sampai perempatan jalan deli tua, belok kekiri dek…baru jalan lurussss….aje. ntar lihat Istana Maimun, nah disana tuh dah sampe jalan yang adek tuju brigjen katamso kan…???

“kalau tidak gini aje dek, ikutan aje kenderaan yang menuju kesana, Ntar ikutin Motor ini…insyaAllah pasti nyampe tuh….!


     Waduh, gawat nih banyak kali persepsi orang-orang.., yangmana yeah yang dipilih. Ah…sudah lah pikirku “Be Your Self” bro…, akhirnya ku memilih mengikutin motor yang nuju kesana. Mungkin inilah yang dikatakan Malu bertanya sesat dijalan, tapi aku dah nanya ko’ mo gimana lagi? . lebih tepatnya lagi kayaknya “Malu bertanya Jalan-jalan deh” hehe….
Tapi Alhamdulillah, setelah satu jam ku keliling-keliling membuahkan hasil juga( duh sampe nampak bintang-bintang tuh muter-muter diatas kepala *0*) Istana Maimun terpampang megah dihadapanku, namun lagi-lagi kulihat kesekeliling, melihat keberadaan Kantor WASPADA yang katanya dekat Istana Maimun. “Duh , ko’ belum nampak juga nih”. Batinku bertanya
“Jalan-jalan lagi deh…huh, tapi katanya kalau sudah sampai keistana Maimun jalan lurus aje” ntar nyampe ko’.kata orang yang kutanyai tadi
     Ya sudahlah, kulihat papan iklan dipinggir jalan “Jalan Brigjen Katamso No 11” wach dah mau sampai nih, batinku gembira. Ku lajukan sepeda motorku, dan melaju lurus kesepanjang jalan.
“loh ko’ dah ganti nama nih jalannya, jalan Pasar Baru. Duh gawat nih, kuputar haluan dan memotong jalan yang sejalur ke jalan Brigjen Katamso tadi, tak terlihat didepan ku ternyata seorang polisi sudah menantikan kedatanganku.

“Dik…dik pinggir, ayo pinggirkan keretamu….”seorang polisi dengan logat medannya menyentak dan menghampiriku.

"Tak kau lihat dilarang putar haluan itu, ayo pinggirkan keretamu..”garang wajahnya memuat hatiku ciut seketika.” Ya Allah cobaan apa lagi nih, dah tak tahu jalan jumpa lagi ma yang beginian, kereta pinjaman lagi, Mohon pertolonganMU ya Allah…”! Batinku merintih tak tahu apa yang harus kulakukan. Seketika badanku lemas, semangatku hilang tak kuat menahan cobaan yang datang. Dalam pikiranku hanya bagaimana seandainya pak polisi dini menanyakan perihal SIMku, juga kereta yang kubawa. Seakan pertanyaan itu serigala yang hendak memburuku dengan taringnya yang tajam.

“sini kau dik, Mana SIM mu….” Ia memanggilku garang.

     Tak kuasa ku kokohkan kaki ini, apa yang kutakutkan datang juga. Ia menanyakan SIMku, padahal aku belum memilikinya sama sekali. Hati berdebar tak karuan, wajahku dingin seketika mendengar apa yang ia tanyakan.
     Tapi sejenak kutenangkan diri ini, agar kiranya kegugupan ku tak terihat olehnya. Lantas ku ingat perkataan Ustad Subhan( salah seorang guruku yang terkenal kocak namun tatkala tegas, suaranya akan menggelegar kemana-mana) mengatakan “Jujur saja, Minta maaf kalau ada salah, jangan bohong” insya Allah kesalahan apapun itu, ketika kita jujur dan bertanggung jawab pasti akan dimaklumi dan dipermudah, dan satu lagi jangan bertele-tele”. ucapnya ketika dikelas saat aku masih santri dulu. Kuterapkan ucapannya dalam kondisi ku ketika itu. Kuberhati hati menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkannya kepadaku, takut menyinggung hatinya yang mungkin lelah seharian mengatur kenderaan di jalan.

“Anak mana kau, ? tanyanya.

“Anak pesantren, pak di medan tuntungan” jawabku lugu.

“tahu kau, dilarang memutar haluan kan, mana SIM mu….?


“Maaf pak, sebelumnya saya minta maaf. Karena telah berbuat salah. Sejujurnya saya tidak tahu pak, karena tidak melihat ada petanda larangan memutar haluan, saya lihat kenderaan lainnya juga ada yang memutar haluan, oleh karena itu saya ikutan pak lagi pula tidak mengganggu aktifitas kenderaan lainnya. Mengenai SIM saya , saya memang belum memiliki SIM pak. Karena saya baru tamat pesantren, sekali lagi saya minta maaf pak..! jawab ku tulus.

“kamu kan tahu, apabila belum memilki SIM tidak diperbolehkan mengendarai kenderaan apapun itu, dari mana asalmu hei nak…?
“Saya dari Siantar pak, baru menjelajahi jalan-jalan dimedan, karena tak tahu jalan. Kebetulan tadi abang saya dipesantren lagi tidak menggunakan Sepeda Motor, lantas saya pinjam keretanya. Saya hendak mengirimkan Karya tulis saya pak Ke kantor WASPADA,namun saya tidak tahu dimana kantornya pak? Karena itu saya masih mencari jalan menuju kantor tersebut yang katanya di jalan Brigjen Katamso No 1 , maafkan saya kalau saya keliru tadi pak! Ku jawab kembali pertanyaan tersebut dengan kenyataan yang kualami ketika itu.
“Oh mau ke WASPADA nya kamu, tak kau lihat kantor didepan itu…? Tanyanya seraya menunjuk kantor didepan POS tempat ia duduk.
Kulihat kantor yang ditunjukkannya padaku, lantas kubaca tulisan besar tepat didepannya “HarianWaspada”. Sejenak ku gembira karena telah sampai pada tujuan, tapi masih ada masalah besar yang kuhadapi bersama polisi didepanku.
“Begini pak, saya hendak mengirimkan cerpen juga puisi untuk lomba di WASPADA pak, namun tuh tadi karena tak tahu jalan beginilah jadinya pak? Maafkan saya pak…?
Lantas ia meminta amplop yang berisi cerpen juga puisi yang akan kukirim, sekedar membenarkan pernyataanku. Dilihatnya dengan teliti, sambil sesekali menganggukkan kepalanya. Kulihat raut wajahnya yang garang memudar seketika. Tak tahu apa yang sedang ia amati dari tulisanku tadi.

“ya sudah dek, kau ambil kuncimu, pergi lah kau kesana…., tapi ingat jangan sekali-kali berani mengendarai kenderaan bermotor sebelum memilliki SIM yah…! Oh yah nanti kamu putar kereta kamu dari ujung jalan sana, jangan memotong jalan lagi. Inget tuh yah…!!

    Seketika embun kesejukan menyirami hatiku, kegugupanku pudar seketika. Melihat reaksi dari pak polisi didepanku. Jarang-jarang ku mendapati pak Polisi seperti ini, karena terkadang ada juga yang hendak meminta tebusan sebagai jaminan SIM yang belum dimiliki. Tapi tidak untuk kasusku saat itu, ia lantas meberikan kebebasan dengan mudahnya kepadaku. Kulantas bersyukur kepada Allah atas apa yang telah kualami ketika itu sembari berterima kasih kepada pak Polisi yang semula kupikir hendak melumatku mentah mentah (hehe…emang sumanto apa?)
Aku pun menganggukkan kepala seraya menghidupkan kembali sepeda motorku yang hampir menangis melihatku ( emang ada yah kereta yang bisa menangis) atas apa yang telah kami alami bersama.
Ku engkolkan gigi depan, sembari menoleh kepada pak Polisi Baik Hati itu dan sekali lagi ku berterima kasih banyak atas tindakkannya yang sungguh bijaksana. Semoga banyak polisi-polisi lain sepertinya kelak.
Sesampai dikantor Waspada ku serahkan amplop berisikan tulisanku itu kepada pak satpam yang berada didepan kantor. Ku langkahkan kaki ini keluar kantor dengan perasaan lega, seakan beban yang dari tadi menghimpit pikiran terbuang sudah. Berkat pak polisi tadi. Seandainya tidak distopnya, pastinya ku tak tahu keberadaan kantor tersebut yang ternyata berada didepan kantor tempat ia berjaga. Senyum seketika berkembang diwajahku yang kusut oleh debu, sejenak ku mengambil I’tibar dari apa yang kualami hari ini. Bahwa untuk mencapai sebuah tujuan tidaklah mudah, pastinya halangan dan rintangan akan senantiasa datang dengan sendirinya. Pastinya dengan kesungguhan, juga ijtihad yang diolah dengan kejujuran dan tanggung jawab tatkala menghadapi suatu masalah akan menjadikan masalah tersebut menjadi lebih mudah. Bahkan berbuahkan hasil yang tidak diduga-duga.
Semoga apa yang kualami kemarin menjadi pelajaran berharga untuk hidupku kedepannya, dan langkah awal menuju kesuksesan.

****
Mohon doanya dari teman-teman, semoga apa yang telah saya usahakan berbuahkan hasil yang diharapkan, cerita ini benar adanya dan terjadi padaku kemarin tatkala hendak mengirimkan hasil karyaku keWaspada. Walaupun ku tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, pastinya kumasih mengharap semoga Allah mengabulkan doa dan usahaku, yang mungkin dapat diperkuat dengan doa-doa teman semuanya.

SYUKRON A'LA KULLI DU'AI

Kisah Perjuangan Kami  

Posted by Unknown in ,

     Mataku masih enggan terkatup untuk malam yang sudah berlarut menuju pagi, ntah mengapa rasa kantuk belum menghinggap untuk saat ini. Sesaat ku merenungi malamku yang sungguh nikmat terasa, bukan sekedar membuang waktu sia-sia sepeti apa yang ditafsirkan orang-orang biasanya. Namun malam ini sungguh ku ingin mengembara memaknai malam yang memiliki arti tersendiri bagiku,yang kian larut dengan torehan tinta di atas kertas putih dihadapanku.
    Kunyalakan musik instrument my heart will go on (soundtrack titanic) juga Dying young dilaptop, sekedar memanjakan diri dalam menyelami sekelumit makna kehidupan, begitu nikmat terasa...alunan melody yang berdendang. Terbesit bayangan adik-adikku ketika belajar malam setelah isya dikelas, tatkala antusias belajar terpacu, waktu dan juhdun menyatu dalam alunan qalbu.
    Lantas ku tersenyum, sesuatu berbisik dihatiku "Begitu semangatnya mereka belajar...., suatu kata yang amat kurindukan saat ini. Belajar..., yah belajar untuk saat ini ku tunda studyku untuk suatu yang lebih bermakna, namun semangat itu senantiasa menghampiri. Seakan pengembara yang haus akan ilmu ditengah sahara kerinduan, akan ku simpan niat suci ini dalam hati untuk saat ini.
Ku mondar-mandir kesetiap ruangan kelas, sekedar melihat perjuangan mereka yang mungkin dengan itu ku dapat menyumbangakan segelintir ilmu yang kudapat dan kumiliki kepada mereka yang saat ini lagi membutuhkannya.

   Sesekali mereka menanyakan tentang suatu perkara yang mereka anggap sulit dipahami kepadaku, ada juga yang sungkan bertanya namun ingin sekali mendapatkan suatu penjelasan lebih. untuk mengakalinya ku mencoba menanyakan perihal pelajaran yang mereka pegang, ada yang malu-malu, dan tersenyum tatkala tak bisa melontarkan soal yang ku beri. keberikan penjelasan tambahan walaupun pada akhirnya ku tak tahu apakah mereka paham atau tidak akan penjelasan yang kuberi, Namun ku berharap penuh, semoga apa yang ku sampaikan dapat membuka cakrawala pemahaman mereka.

   Ku merasa takjub melihat berbgai perjuangan yang mereka tempuh untuk sekedar menghilangkan setan kantuk yang sering menggantung dipelupuk mata, berbagai usaha mereka lakukan, dari membawa segelas air teh ataupun susu, membiasakan wudhu atapun mencuci muka, bahkan ada yang membawa sebotol Aqua yang diisi air putih bersih,dan dibuat lubang kecil di tutp botol lantas di siraminya wajahnya dengan air tersebut. Ini semua seakan mewarnai hari-hari di ma'had selama ujian berlangsung, mungkin inilah yang dinamakan "Ijhad walaa taksal walaa taku ghaafilan, fanadamatul 'uqbaa liman yatakaasal" Bersungguh sungguhlah dan jangan malas terlebih lagi lalai, karena itu penyesalan itu akan datang kepada orang-orang malas.  Tak terlepas dari itu berbgai ibadah tambahan juga dilakoni, dari menunaikan shalat tahajjud, Dhuha, ataupun shalat-shalat nawafil lainnya seakan menambah hiruk pikuk suasana malam di ma'had. dengan harapan yang penuh mendapatkan Nurul I'lmi dari yang Maha Pemilik Ilmu.
    Ku langkahkan kembali langkahku menelusuri ruang kelas, terlihat satu dua orang adik-adikku yang terkalahkan oleh setan kantuk yang menggoda. lantas tertidur diatas meja dengan berbantalkan lembaran buku yang terbuka. Ku hampiri mereka untuk sekedar meringankan rasa letih dimata, ku kusuk-kusuk bahu mereka, spontan merekapun terbangun dan menampakkan wajah mereka yang kusut oleh rasa kantuk, dan mereka pun tersenyum malu. Ku balas senyuman itu dengan  menyuruh mereka berwudhu' , Namun, walaupun begitu ternyata masih ada diantara mereka yang enggan bernjak lantas terkalahkan oleh kantuk dan kembali tidur.
   huh...ya sudahlah..., pikirku. Mungkin ini merupakan pernak pernik ujian yang mereka hadapi, yang pastinya di tanggapi dengan berbgai persepsi, tak hanya ujian pikiran, namun bathin juga diuji.


   Ku menerawang kembali saat-saat dimanaku menjadi santri dulu, sama seperti apa yang mereka alami saat ini. Segala usaha, upaya serta doa' seakan menjadi teman sehari-hari yang kian menghiasi. Bertemu dengan guru ataupun ustad menjadi dambaan hati, tatkala arahan dan bimbingan menjadi kebutuhan, serta ilmu yang dicurahkan mejadi bibit yang menghasilkan   sosok yang luar biasa. walaupun pada saat-saat tertentu menjadi sebaliknya yaitu tatkala Hukuman datang dan menghampiri, seakan dunia ma'had yang berkisar 10 hektar menjadi lebih sempit dari ukuran sebenarnya.


    Kini ku dipercayakan untuk menyumbangkan sekelumit ilmu yang ku miliki kepada adik-adikku sebgai Guru, Orang tua , bahkan sahabat bagi mereka. walupun kumenyadari bahwa ilmuku belumlah ada apa-apanya, bak masih" berumur jangung", demi membimbing serta mendidik mereka kedepannya.
Di usiaku yang relatif muda, dah barang tentu ini merupakan amanah terberat yang selama ini tak pernah kudapatkan sebelumnya. walaupun begitu ku tak mengalami hal ini dengan sendirinya, bersama ketujuh sahabat ku, kami ingin memberikan hal yang terbaik untuk ma'had tercinta. Namun ku masih menyadari bahwa apa yang telah kuberikan selama ini belumlah cukup untuk menorehkan tinta emas bagi Ibu kami( ma'had).


    Ini merupakan pelajaran sekaligus pengalaman berharga yang tak ternilai harganya, yang harus kulukiskan dalam skema hidupku, sala satunya dengan mengabdikan diriku sepenuh hati ( kaffah) untuk umat, juga ma'had terlabih lagi kepadaNya semata.


   Akankah ku mendapatkan semua yang kudapatkan saat ini untuk kedepannya, seperti kepercayaan, kehangatan persahabatan, indahnya kasih sayang, ataupun yang lainnya yang tak dapat terlukiskan oleh kata-kata di pena ini.
Kesemuanya itu seakan memberikan warna-warni yang menyinari hari-hari yang penuh cobaan maupun rintangan , yang kerap menghampiri bahkan menjadi tantangan baru yang menguji mental serta kualitas hidup ku.


   Walaupun ku terkadang lebih banyak terkalahkan oleh nafsu dan godaan, yang kadang melemahkan semangat perjuangan, namun ku berusaha penuh untuk menanggulanginya dengan menuliskan sekelumit kisah yang tertorehkan. moga nantinya mendapatkan jawaban, walau tidak untuk saat ini. kedepannya pasti ada jalan keluar yang terbuka untuk kami.
Yaa Muqallibal Quluub Tsabbit Qulubana A'la Diinika Wa'ala Tho'Atika
Subhaanaka Inna kunna minadhzalimin, wa Dho'iffin.
Allahumma ma rajaqtana mimma nuhibbu faj'alhu quwwatan lanaa fiimaa tuhib
Allahumma ma jawaita 'anna mimma nuhibbu faj'alhu firoghan lanaa fiimaa tuhib.
Tulisan ini ku hadiahkan kepada teman-teman seperjuangan dimana pun berada, yang telah sama-sama berjuang demi Ibunda tercinta (ma'had), terkhusus kepadake7 teman dan juga ustad ustadzah di ma'had yang telah mencurahkan asa dan doa demi generasi bangsa. semoga semangat tak akan luntur untukberjuang menumbuhkan "bibit-bibit unggul"demi masa depan diri, Agama, Maupun bangsa kedepannya.




                                                                                               (Jum'at25-12-09/10.30 WIB)


NB:1. Nih bukan untuk memperingati hari natal yach....hehehe
      2. Sorry klo tulisannya masih banyak kekurangan, baik penullisan ataupun bahasa yang     tersampaikan




Sambutan Terakhir, Diakhir masa bakti  

Posted by Unknown in ,

"Suatu kemulian bagi diri untuk dapat berdiri dihadapan majelis pengasuh, Bapak Direktur, Asatidz wal ustadzat, rekan seperjuangan, serta adik-adik warga OPRH di moment yang bersejarah akhir kepemimpinan kami ini.
Tak banyak kata yang terucap selain ras terima kasih kami yang dapat kami titipkan di hati segenap para pembimbing, terkhusus selama kami mengemban amanah yang suci ini, walaupun disana-sini masih banyak kelemahan untuk menyempurnakan itu semua.
Adikku pengurus baru....., kini kamu telah dihadapkan kepada sebuah lorong waktu yang amat gelap, dimana disetiap sisinya kamu akan mendapati berbagai duri dan kerikil cobaan yang siap menerpamu, baik beruoa cemohan maupun makian, akan tetapi jangan kau takut...! karena duri ini adalah duri setangkai mawar yang harum, warna merahnya yang merekah bagaikan keberania untukbertindak bijaksana, yang senantiasa menjadikannya berkualitas dan menimbulkan suatu kecintaan kepadanya.
Terangilah lorong tersebut dengan cahaya mu'awanah kebersamaan, karena sewaktu-waktu kamu akan mendapati kemunafikan didalam jubah kewibawaan yang akan kamu sandanag.
Adikku pengurus baru......, kami yakin kamu lebih baik dari kami, Jadikannya penyesalan kami atas segala kekurangan kamu sebagai penyesalan awal diawal kepengurusan kalian saat ini, dan lengkapilah kekurangan itu dengan sepenuh hati.
Lihatlah sekililingmu, banyak orang yang tahu apa yang seharusnya ia kerjakan, namun alangkah sedikitnya mengerjakan apa yang ia tahu. Tahu saja tidak cukup, maka berbuatlah demi bumi waqaf tecinta.
Percayalah bahwa selalu ada kemungkinan dalam segala hal, tak peduli betapa gelap tampak. Angkat wajahmu tataplah segala kemungkinan yang ada, karena kemungkina itu selalu ada.
Bijaksanalah dalam berbuat dan bertuturkatarlah, jangan sampai perkataanmua melibihi kesanggupanmu, karena semakin bijaksana seseorang makin pandailah dia menjaga lisannya.
 Adikku pengurus baru...., suatu ketika salaman al-Farisi pernah berkata;"Ingatlah Rabbmu disaat susah, ingatlah Rabbmu disaat memutuskan hukuman, dan ingatlah Rabbmu disaat tanganmu bergerak setelah bersumpah.
Maka ingatlah sumpahmu yang telah engkau ikrarkan, beribu pasang mata menjadi saksi hidup dihadapanmu saat ini. Berjuanglah dan berbuatlah, kami senantiasa membantumu.
Kepada rekan seperjuangan pengurus OPRH yang lama, ketahuilah..., bahwa perjuangan kita belum terhenti sampai disini.
Berbagai kewajiban masih terpampang lebar dihadapan kita, Jadikanlah amanah yang kita dapatkan sebagai produk yang amat berkualitas yang akan kita distribusikan untuk selanjutnya dimasyarakat kelak. Sebgai i'tibar, cobalah kita lihat seekor kuda dalam pacuan, ia akan berpacu untuk meraih kemenangan. Dan apabila ia menang dalam suatu perlombaan, maka ia kan senantiasa diberi kemapanan dan dijunjung bahkan diperlombakan keajang yanglebih bergengsi, begitu pula kita, anggaplah kepengurusan kita selam ini sebagai wadah latihan dan berpacu untuk menjadi yang terbaik, dan setelah kepengurusan ini, kita akan dihadapkan kepada ajang yang lebih bergengsi lagi, yaitu mempertanggungjawabkan apa yang selama ini kita ucapkan. Sesuaikah itu dengan perbuatan kita, karena hakikatnya seseorang biasa dihormati dimasa kepemimpinannya, akan tetapi alangkah luar biasanya jikalau ia dihormati setelah usai masa kepemimpinanya.
Cukuplah sudah apa yang telah dialami rekan kita yang lebih duhulu meninggalkan kita dari bumi waqaf ini, untuk selanjutnya kita doakan diri kita menjadi alumni yang husnul khatimah.
Kepada Adik-adikku warga OPRH, hari ini detik ini, kami takkan lagi menjadi pemimpin dihadapanmu. Setiap kali melihat tingkah lakumu kadang membuat kami prihatin. Kami berusaha sekuat mungkin untuk mengarahkan, dan membimbingmu menuju yang lebih baik, tetapi apalah daya, sampai disinilah kemampuan kami. Estafet kepengurusan akan dilanjutkan ke pengurus yang baru. Andai engkau tahu apa yang kami rasakan dan kami pikirkan, dan apa yang kami usahakan untukmu, tetapi tak usahlah kamu sampaikan hal itu, karena kami takut hal ini membebani pikiranmu.
Pengaduanmu, tangismu, senyumanmu, akan menjadi sebuah kisah yang tak terlupakan bagi kami, terukir abadi dilubuk hati setelah kepengurusan kami ini.
Terimalah kami..., terimalah kami selaku abang dan kakakmu yang mungkin pernah menyakiti hatimu, Kami merindukan cahaya kasih sayang dari sorot matamu yang mungkin selama ini masih kau simpan rona kedzoliman yang telah kami perbuat. Hamdi, handoko, pimpinlah sahabatmu..., pimpinlah adik-adikmu dengan baik dan bijaksana, karena kami kuyakin, kau berdua lebih baik dari kami. Tegakkanlah sunnah pesantren dan perjuangkanlah..., jangan biarkan ia runtuh.
Akhirnya kepada Allah SWT kami memohon pertolongan dihari dimana pertangungjawaban akan dituntut atas apa yang kami perbuat di yaumil akhir kelak, dan doakan kami agar kamimenjadi alumni yang husnul khatimah..! amien Ya Rabbal 'Alamin.
Be the best in your organization dan good Job"!!

Ini adalah sambutan terakhir di akhir masa jabatanku selaku ketua OPRH dima'had, seakan masih terngiang ditelinga, sorakan adik-adikku yang saling mencuat satu sama lain, berteriak sambil berdiri demi memuaskan hasrat terpendam ketika salah seorang dari setiap bagian membacakan laporan didepan para hadirin ketika itu,Pastinya ada makna tersendiri dari setiap sorakan yang digemakan. Sekarang sorakan itu seakan kerinduan yang mendalam tatkala tiada lagi beban yang diamanahkan.
Rasa bahagia  tak dapat disembunyikan tatkala kupersembhkan sebuah cenderamata kepada Buya Syahid, sesaat setelah adik-adikku pengurus baru diba'iat, dengan candanya yang hangat kusunggingkan sebuah senyuman haru dan bahagia yang mungkin takkan terulang kembali untuk yang kedua kalinya.
Akan kah ku masih dapat merasakan suasana itu.......
suasana dimana hitam putih cobaan, dapat dihadapi dengan cahaya kebersamaan.
semoga nantinya segala amalan yang telah diusahan diterima Allah SWT. amien..
Wassalamualaikum wr.wb