Tak ku sangka rangkaianmu begitu indah
melantun huruf kata demi kata
menari mesra di bait cintamu pada sang pujangga
mengayunkan pena peradabanmu merajut kisah
lembaran-lembaran kasihmu seakan merona
penuh dakwah dan embun dahaga
Itukah buah tanganmu saudaraku?
Ukiranmu landaskan penat sejuta ragu
lukiskan laman-laman hikmah dibalik sembilu
adakah sirah nabawy yang meramu
di balik kisahmu
Itulah yang semakin merajai
Jejaring iriku yang ku labuhkan pada suamu
dengan taburan tinta yang meribu
kuatkan rinduku pada-Nya menghamba seduh
Jejaring penamu menjerat hatiku
seraya terombang ambing oleh seratnya kisah
harapku suatu hari dapat menjamahnya
faktakan pena yang kian bertahta meraja jiwa
Baiklah,
kiniku hanya dapat menahan qalbuku pada jejaring penamu
kuatkan pula jejaring iriku pada sebuah impian ditunggu
akan ku susul peradabanmu dengan langkah tetapah
meniti kata merangkai jiwa yang gundah dengan oase hikmah
dalam tarian tinta
Muhammad Nur
Pengembara Jati Diri
17/04/10
diamku selalu bertanya kepada alam
untuk mengungkap misteri yang masih meresah
landaku kalut menyapa
Ketika ku terdiam oleh kata-kata
sembari tak mampu ungkapkan rasa
namun ku coba tuk pasrah
dalam tarian tinta
obati hati dengan rintihan jiwa
suci, putihmu lepaskan hasratku yang terpendam
jauh di lubuk hati yang terdalam
Kaulah yang mampu menemaniku
jalani terjalnya dunia
dengan titian syahdu
merangkai jiwaku yang terurai
dalam catatan jiwa.
Muhammad Nur
Pengembara Jati Diri
15/04/.10
Sudah lama ku mengenal kata ini
namun kerap kuasingkan diri
lewati penuh dengan titian duri
kuhardik penuh benci
namun, tanpa makna berarti
Kau selalu berikan aku misteri
mengungkap rasa dan asingnya kata
mengintip di bilik hatiku yang kian sempit
dari sebuah arti yang tak tahu kapan menghampiri
sapaku ceria
Orang sering katakan itu
kepadaku seraya mengadu
namun aku juga tak tahu
apa maksud di balik kata itu
Orang katakan aku menjadi seperti ini
haruslah siapkan diri membawa panji
tebarkan salam kepada pejuang syari'at
mereka muda gigih berani
Namun, lagi ku bingun akan sebuah arti
arti kata yang terus bersembunyi di hatiku yang perih
Ia senantiasa berujar, namun tak sanggupku bawa
Ia nasehatiku berkelakar, namun tak kelak kusapa
Aku harus gigih penuh jerih
ungkapkan jati diri melawan nafsu yang merajai
kepadamu wahai Ilahi
penebar Ikhlas jauhkan diri
dari onak berduri
Aku harus berdiri melawan pilu
Ikhlaskan hati penuh rindu
mengharapkan ridho ditunggu
hampiriku penuh syahdu
Ajarkan aku Iklas
Oh Tuhanku,
Ajarkan aku Ikhlas
Oh Rabbku,
tuk tebarkan salam kasih-Mu
agar mereka tahu indahnya jamahan-Mu
yang mulai menghiasi hariku dilaman rindu
kepada-Mu merajut Qalbu ditepian ragu
kokohkan hatiku..
Muhammad Nur
Pengembara Jati Diri
14/04/10
orang-orang menari indah
kisahkan sejuta canda dan tawa
bersama titian mimpi melaman cita
akankah kau dapat merasakan itu?
Tatkala ku mencari jalan
telusuri penatnya cobaan
cuba ku kelamkan sejenak
dalam tarian alam cintaku pada-Nya
tahukah kau tentang diriku dalam diam?
Tatkala ku mencoba berlari
dari serpihan kaca elakkan diri
menghadangku tanpa henti
bilamana ku harus meratapi tanpa arti
akankah kau dapat menemani?
Ku dengar angin yang menyapa dan berbisik
kau umbar petala senyummu yang hambar
umbar kata
umbar rasa
umbar kisah
tentang diriku disini
tanpa kau sedari ku kehilangan arti
yang hendak ku raih untuk saat ini
Namun kau coba hentikanku dalam mimpi
indahnya awan yang sedang menghiasi hitam hatiku
kau hanya berhias kata
tebarkan sejuta pesona dan raga
kisahkanku dengan penuh gelora
namun bukan sebenarnya
Mungkin, hanyalah aku dan Tuhanku
yang tahu benar akan diri dan isi hatiku
kau tak mampu berujar
namun tetap saja berkelakar
umbar celah yang menganga
ditepian hatiku yang semakin tersiksa
dengan kata-kata
Hanya aku dan Tuhanku yang tahu
isi hatiku
isi kalutku
isi ronaku
namun, mengapa kau tebar sembilu
bersama mereka mengumbar keluh
tanpa kau sedari aku
menitip salam kasihku padamu
Hanya aku dan Tuhanku yang tahu
nuraniku yang tipis
tipis iman
tipis rasa
ungkapkan gelora.
[Ku dedikasikan teruntuk hati yang terlanjur resah dengan kata-kata. Namun mencoba untuk bangkit dengan segenap asa dan rasa. Marilah untuk mengerti walaupun hanya mampu bertepi dipucuk hati ini]
Muhammad Nur
Pengembara Jati Diri
14/04/10
ada ‘entah’ dalam kebingungan...
bahwa aku hanya bisa belajar dan belajar- dalam hidup yang sederhana,
hal sekecil apapun bisa membuat ku bersyukur.
ada ‘entah’ dalam kebingungan...
yang membuat ku sadar
bahwa ku telah hidup dari penderitaan orang lain.
ada ‘entah’ dalam kebingungan...
yang membuat ku sadar,
optimis tidak sama dengan obsesif!
ada ‘entah’ dalam kebingungan...
yang membuat ku kaget,
ternyata ku bungkam karena ku tahu!
ada ‘entah’ dalam kebingungan...
yang membuat ku sadar,
bahwa ku sedang setengah frustasi
dengan menjalankan hidup secara normal
ada ‘entah’ dalam kebingungan...
yang membuat ku sadar,
ternyata ku takut hidup dengan jujur
ada ‘entah’ dalam kebingungan...
yang ternyata membuat ku sadar,
ku tidak berani mencintai seseorang dengan berani!
ada ‘entah’ dalam kebingungan...
yang membuatku tidak mau bingung!
dan menganggap diri tidak sedang bingung!
karena ada entah dalam kebingungan,
yang ternyata membuat aku malu.
Muhammad Nur25/03/10
aku bisu...
aku diam...
aku kelam....
Bingung, harus berbuat apa
tatkala renungku padu dalam kesunyian
suara-suara menyeruak dari peratapan
aku lelah...
aku gelisah
aku resah...
waktu senja melambaikan memori
tatkala hitam menjadi karang
membekukan kepenatan yang meradang
aku kembali ke jurang nista
dustakan nurani menyapa
lantas, mengapa ku bahagia?
aku menilik sebuah kisah
tentangkan diri di masa indah
walau hanya sekedar merasa
namun, mengapa mereka gerah?
aku bebas dan berkarya
gerakkan segenap asa
di atas puing-puing nasehat yang pudar
tapi apakah itu berguna
rujuk diri nan gundah
Kebingungan kembali menyapaku
dalam lamunan meliput rindu
tentang masa indahku
bertumpuh kepada-Mu
Kebingungan merapat bimbang
hatiku kian meradang diatas titian renggang
engkau melucuti segenggam ruang
untuk ku raih di sini
ah sudahlah...
ingat dirimu sobat
masih ada ruang yang tersisa untukmu
jangan lupa seri, dan arti
hayati hidup, dan berbenah diri
mogakan tetap di ridhoi
Muhammad Nur 24/03/10
Malam ini tak ada satupun bintang ,
bahkan bulan juga belum mau datang
hanya sekedar tuk duduk bertandang
tuk sekedar menghapus rindu yang berdendang.
Keabadian malam yang begitu kelam,
seakan tenggelam dalam diam.
secerca asa yang terbungkam,
berikan cinta walau hitam.
Ketika candaku adalah air matamu
deru bisu seakan merongrongku
menusuk puing-puing cintaku padamu
meski sayup terdengar langkahmu
tuk pergi tinggalkanku.
Ini aurora nyata yang menyiksa
berasal dari kisah pujangga yang membenci cinta
Cinta yang hidup sebgai fatamorgana
hadir tuk sembunyikan realita yang ada
Disaat lisan tak berkata yang sebenarnya
hati kecil menjerit akan kedustaannya.
akhir dari sebuah cerita
ketika pena manuliskan rasa yang sebenarnya.
Ernyitan jangkrik laksana musik menemani
Sepoi dingin angin malam menusuk kulit seakan lentera menyelimuti,
menyertai pedih hidup ini
Ia membawa jiwaku melayang, terbang tinggi menuju khalayan yang tak pasti.
mendengarkan bisikan hatiku bergemuruh
Awan hitam sehilir mengikuti langkahku,
Seakan ia tahu suara jerit hati kuingkari
Ingin ku lewati lembar hidup yang tak indah,
Namun harus kujalani dan hadapi
Membawa pikiranku melayang menerawang, melintasi awan nan kelam.
Tanpa arah dan tujuan yang pasti...
Andai aku bisa menggapai semua angan dan sejuta impian
Kan ku buang jauh semua khalayan yang kini,
yang harus terbayang dihati.
Ya Allahi...
Ingin kucurahkan hati ini bersamamu,
menyelami kefanaan dunia yang sibuk dengan berbagai urusan hidup.
Ya Qayyum....
Teguhkanlah qiyamku dalam menghadapi kemelut kebimbangan
yang menghantui setiap waktu
Ya Rahman.....
Siramilah jiwa gersang ini,
embun kedamaian yang menyejukkan sendi-sendi perjuanganku di bumi waqaf ini
Ya Qodir.......
Seandainya memang inilah taqdirku, yang Kau nabatkan atas diri.
Berilah petunjukMu sebagai pelita menyinari kelamnya cobaan.
Mentari... aku tahu tiap hariku tak kan lewat tanpa sinarmu. Pun kini rasanya namamu telah mengisi ruang-ruang hati. Ada sepucuk harapan yang kadang timbul lalu pergi, bahwa diri ini selalu mencari kapan waktunya tiba untuk menjemputmu turun, ke sini".
Ummi,
Tahukah kamu, bahwa kalimat-kalimat di atas telah terukir dalam dadaku semenjak aku belum mendapatkanmu. Walau sederhana, namun ia mewakili hasrat hatiku untuk mendapatkan seorang mentari, seperti dirimu.
Ummi,
Tak terhitung ucap syukurku saat Dia membawamu ke hadapanku, saat itu. Saat kamu berkenan untuk membagi hidupmu denganku, saat kamu menyambut tawaranku untuk meminangmu, saat ikrar itu kulantunkan dan mulai detik itu kamu kan menghabiskan hari denganku, saat itu.
Mulai saat itu,
Rasanya tak terhitung keindahan yang telah kamu suguhkan padaku. Melalui senyum yang kulihat setiap memulai hari, melalui tutur katamu yang bak nyanyian bidadari, melalui belai lembutmu yang telah menghapus penatku, melalui tawamu yang menyegarkan hatiku, ... semua itu adalah keindahan tak berbilang yang tak sanggup lagi kuuraikan.
Mulai saat itu,
Tak sanggup pula kuhitung bilangan bubuk cinta yang telah kau taburkan, hingga laksana heroin-ia telah kuhirup dan memabukkanku sampai kini. Ketika kau basuh lukaku dengan kelembutanmu, kala aku terjatuh hingga tersungkur-dan kau memapahku hingga berdiri. Ketika kau hapus air mataku dengan kesabaranmu, kala langkahku tertatih-nyaris tak sanggup lagi menghadapi kesulitan yang pernah kita hadapi-dan kau memberikan kasihmu dengan caramu hingga tangisku berubah menjadi senyumku. Dan aku semakin cinta.
Mencintaimu,
Adalah memiliki kedua permata kecil kita, Dan aku seolah tak menginginkan apapun lagi.
Mencintaimu,
Adalah memiliki rumah sederhana kita, Dan di sanalah selalu tempatku kembali.
Mencintaimu,
Adalah memiliki seluruh detik yang telah kita lewati bersama, Dan dengannya kupersembahkan cinta ini. Walau tak terucapkan, walau mungkin tak kau rasakan, tapi percayalah, diriku mencintamu.
Mentariku,
Kau menghangatiku di sini.
* * * *
Menyatakan cinta kadang menjadi hal yang tidak familiar dan terasa vulgar untuk dilakukan. Sebagian orang bilang, cinta itu tak perlu dinyatakan, namun tercermin dari perilaku. Cinta itu tak perlu diperdengarkan bak rayuan gombal anak-anak muda yang sedang kasmaran, sebab cinta bisa diperlihatkan dari sikap dan tingkah laku.
Benarkah demikian?
Di saat lelah mulai merayapi hari-hari kebersamaan bersama pasangan tercinta, di saat waktu telah membuka setiap celah kelemahan dan membentangkan kenyataan dari sosok pasangan yang mendampingi kita, di saat segala bentuk persiapan dan perencanaan hidup mulai menguakkan keberhasilan atau kegagalan, di saat kita mulai menyadari betapa berartinya ia yang telah menjadi penopang kala kita lemah, penyemangat kala diri ini lelah, penghibur kala terserang gundah, ia telah menjadi teman sejati.
Jadi,
Masihkah ragu menyatakan cinta padanya?
* * * *
Saat Kusentuh Jemarimu Dengan Mesra
Jemari itu tak lagi lentik, terasa beda saat pertama
kali disentuh kala malam pertama. Kulitnya bersisik
dan berkerut, karena getir kehidupan. Guratan bekas
parutan pun membuatnya bertambah kasar. Tak jarang
jemari itu basah, menahan kristal-kristal bening yang
menggenang di telaga mata, pedih... teringat pedasnya
kata-kata yang pernah menusuk hati.
Kala keheningan malam menjamu temaramnya rembulan,
diukirnya do'a-do'a dengan goresan harapan, khusyu',
berharap regukan kasih sayang dari Sang Pemilik Cinta.
Hingga tubuh penat itupun bangkit, menatap belahan
jiwa dengan tatapan cinta, kemudian perlahan
dikecupnya sang kakanda dengan mesra.
Indah...
Sungguh teramat indah Al Qur'an melukiskannya, "Mereka
itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian
bagi mereka." [Al-Baqarah 187]
Adakah yang lebih indah dari rasa kasih sayang
diantara kedua insan yang berlainan jenis dalam sebuah
ikatan pernikahan? Ia adalah sebuah mitsaqan ghalidza
(perjanjian yang kuat), karenanya yang haram menjadi
halal, maksiat menjadi ibadah, kekejian menjadi
kesucian dan kebebasan pun menjadi sebuah tanggung
jawab.
Dua hati yang berserakan akhirnya bertautan, ibadah...
hanya itu yang dijadikan alasan.
Keindahan cinta dalam sebuah mahligai pernikahan
adalah harapan penghuninya. Cinta akan membuat
seseorang lebih mengutamakan yang dicintainya,
sehingga seorang istri akan mengutamakan suami dalam
keluarga, dan seorang suami tentu akan mengutamakan
perlindungan dan pemberian nafkah kepada istri
tercinta.
Cinta memang dapat berbentuk kecupan sayang,
kehangatan, dan perhatian, namun bunga cinta tetaplah
membutuhkan pupuk agar selalu bersemi indah.
Karenanya, segala kekurangan akan menumbuhkan
kebesaran jiwa, bahkan air mata yang mengalir itu pun
adalah sebagai tanda kesyukuran kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala, karena IA telah memberikan pasangan hidup
yang selalu bersama mengharap keridhoan-Nya.
Lalu, masihkah kehangatan itu nyata seiring
bertambahnya usia pernikahan?
Aaah...
Kadang kita sebagai suami lebih sering bersikap
dzalim. Kesibukan tiada henti, rutinitas yang selalu
dijumpai, lebih menjadi 'istri' daripada makna istri
itu sendiri. Masihkah ada curahan kelembutan dari
seorang qowwam (pemimpin) yang teduh? Adakah belaian
kasih sayang yang begitu hangat seperti kala pertama
kedua hati bersatu?
Saat-saat awal pernikahan, duhai sungguh romantis.
Rona mata penuh makna cinta terpancar saat saling
berpandangan, kedua tangan saling bergandengan, hingga
jemari tersulam mesra. Tak lupa bibir melantunkan
seuntai nada ...Sambutlah tanganku ini / Belailah
dengan mesra / Kasihmu hanya untukku / Hingga akhir
nanti...
Amboi... sungguh membuat iri mata yang memandang.
Malam dan siang silih berganti mewarnai hari, susah
senang hilang timbul bagaikan gelombang laut, keluh
dan bosan pun kadang menelusup, hingga akhirnya lirik
lagu cinta pun meredup ...Sepanjang jalan kenangan
kita selalu bergandeng tangan / Sepanjang jalan
kenangan kupeluk dirimu mesra / Hujan yang
rintik-rintik di awal bulan itu / Menambah nikmatnya
malam syahdu...
Akhirnya kemesraan pun hanyalah sekedar kenangan.
Entahlah...
Entah kemana canda yang dahulu pernah membuat istri
kita tertawa bahagia, ciuman di kening seraya berpesan
"Baik-baik ya di rumah," atau pun sekedar ucapan salam
"Assalaamu alaykum ummi," saat akan keluar rumah.
Bahkan, lupa kapan terakhir tangan ini menyentuh,
menggenggam mesra jemari istri tercinta. Padahal
dosa-dosa akan berguguran dari sela-sela jemari saat
kedua tangan disatukan.
Duhai Allah,
Airmata itu pernah tumpah, deras bercucuran
Luruh dalam isakan, menyayat kepedihan
Hanya karena enggan jemari ini bersentuhan
Ampuni diri yang dzalim ini yaa Allah
Sadarkan, sebelum saatnya harus beranjak pergi
Jauh, dan... tak akan pernah kembali
Wallahua'lam bi showab.
*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah,







