REFLEKSI [SEPEKAN] RAMADHAN : INDAHNYA KEBERSAMAAN BERBUKA PUASA  

Posted by Unknown in

Tidak seperti biasa, hari ini ingin rasanya mencari suasana baru. Setelah sepekan berbuka puasa bersama rekan-rekan Indonesia di dalam Asrama. Ingin rasanya berbuka bersama kalangan masyarakat Sudan di luar Asrama. Sepertinya akan lebih menarik, karena disamping melihat suasana luar ketika berbuka, juga mencari menu yang berbeda [ walau terkadang tak sesuai lidah, hehe…]

Adalah kebiasaan mayoritas masyarakat Sudan menjelang berbuka, kerap menyediakan tempat-tempat berbuka yang mudah dijangkau masyarakat dari berbagai kalangan. Banyak dari kalangan atas, para pebisnis dan semacamnya, menyumbangkan sebagian rezeki yang mereka miliki berupa sembako, uang tunai, ataupun dengan berbuka puasa bersama. Hal itu ditujukan kepada orang-orang yang tidak mampu juga ke berbagai yayasan kemanusiaan. Dijalan-jalan sangat mudah ditemukan tenda, maupun tikar-tikar tempat berbuka menjelang senja.

Kalau di Jami’ah [Universitas] sendiri, biasanya akan ditandai dengan datangnya mobil gerobak berisikan iftor disetiap sorenya. Kalau sudah demikian, mahasiswa bak segerombolan lebah yang menyerbu tatkala sarangnya diserang. Datang dari berbagai penjuru Asrama dengan mangkuk dan piring besar. Bilamana harus berlari untuk menjadi yang terdepan. Berharap mendapatkan jatah. Walau terkadang sebaliknya, hanya mampu ‘mengisap jempol’ belaka, tidak mendapatkan apa-apa. Hadeuh, capek deh!

Bagaimana tidak? Stok yang sebenarnya ‘cukup’ untuk dibagikan merata, menjadi barang obralan yang terkadang terbuang akibat pembagian yang tidak sistematik. Selalu saja berebut. Tak ada yang mau mengalah. Ya, kalau sudah begitu, apa nak dikato? Memang sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk dirubah. Sebenarnya sih, bisa! Kalau saja dari awal ditegaskan untuk mengantri secara teratur. Tapi, pasti ada saja yang nyeleneh! Tetap keras kepala untuk segera mendapatkan jatah. Selalu saja ada yang mencari sensasi dengan merusuh ketertiban. Nah, kalau kalau sudah seperti ini kejadiannya. Berbuka puasa diluar asrama menjadi salah satu solusi, selain bersilaturrahmi dengan masyarakat sekitar, juga gratissss!!...

Ok, lets go to outside of campus!

Hari ini, saya bersama teman saya dari Kamerun berniat sholat di salah satu masjid yang biasa di Imami oleh Qori’ ternama Sudan. Syaikh Muhammad Abdul Kariem. Beliau sudah dikenal banyak kalangan Masyarakat Sudan, maupun dunia. Nama beliau tertera di Salah satu situs yang memuat Qori’-qori ternama dunia, www.mp3quran.net. Bilamana Syaikh Maher Al-Mu’aiqily yang kini menjadi salah satu Imam di Masjidil Haram, adalah satu diantara murid yang pernah berguru kepadanya. Tilawah qur’annya hampir sama. Beliau menguasai riwayat-riwayat qira’ah baik yang mutawaatir [ yang diakui keshohihannya dengan periwatan beruntun] maupun yang syaadzah. Maka tidak diragukan lagi, banyak kalangan masyarakat yang berguru kepada beliau. Baik orang Sudan maupun dari kalangan mahasiswa asing. Namun bukanlah hal yang mudah, karena persyaratan berguru kepada beliau harus hafal Al-Qur’an terlebih dahulu. Diuji tajwid dan kuatnya hafalan dengan tepat. Pastinya harus benar-benar menguasai seluk-beluk hafalan dengan baik.

Untuk menghindari jama’ah yang membludak ketika Shalat Tarawih, kami sengaja datang lebih awal, yakni sebelum magrib. Ini untuk pertama kalinya saya berbuka di Mesjid beliau yang ternyata menyediakan iftor  [makanan berbuka] untuk kalangan masyarakat sekitar yang tidak sempat berbuka dirumah. Wah, tidak kalah menariknya! menu yang disediakan cukup ‘menggoyang lidah’ walaupun tidak ada yang berbeda. Selalu sama dengan tempat-tempat lainnya. Ful, Adas, Mulaah bil lahm  [Seperti disemur] dan Tho’miah [ gorengannya Sudan] kerap menjadi menu setia. ‘Ashirr [Jus] 3 warna [Karikade, abrey, dan Asem Jawa]  menjadi pelengkapnya. Terlihat orang-orang sudah duduk rapi menunggu waktu berbuka. Subhanallah, sungguh indahnya suasana ini! Ramadhan telah menyatukan mereka dalam indahnya kebersamaan. Kaya-miskin, tua-muda, bersama menikmati hidangan dengan tertibnya. Berbeda dengan suasana didalam Asrama ketika berebut antrian. Mereka tampak bersahaja…

Selepas berbuka kami mendengar kabar dari remaja masjid, ternyata untuk malam ini Syaikh Muhammad tidak mengimami jama’ah Shalat. Beliau lagi safar diluar kota. Ya, sudah menjadi hal biasa bagi jama’ah masjid, karena kesibukan beliau yang super padat. Khususnya tatkala Ramadhan tiba. Beliau kerap mendapat undangan dari Negara-negara tetangga untuk mengisi kajian maupun menjadi Imam Shalat. Beliau kerap digantikan oleh adik-adik beliau yang juga merupakan qori’ Sudan. Subhanallah! Lagi-lagi saya harus berdecak kagum dengan keluarga qori’ dan huffadz ini. Bagaimanakah mereka terbesarkan dalam lingkungan yang cinta akan Al-Qur’an? Pendidikan yang bagaimanakah yang diterapkan kepada mereka?  Dalam benak saya iri, mengapa hingga saat ini saya belum hafal Al-Qur’an secara keseluruhan. Sungguh, kelalaian telah mengambil peran banyak dalam hidup saya yang telah berlalu. Ah, walaupun begitu tidak ada kata untuk terlambat, insyaAllah masih ada waktu untuk berbuat! Akan saya usahakan di sisa waktu yang ada untuk menghafal Al-Qur’an. Bismillah…

***
Menjelang Isya’, Seorang kakek tua dengan tongkat ditangan berjalan memasuki Masjid. Dengan langkah kecilnya ia berjalan menuju kursi yang biasa disediakan bagi para Jama’ah yang lanjut usia, maupun mereka yang tidak mampu untuk berdiri lama. Ia duduk satu shaf tepat dibelakang saya. Perawakannya yang lemah tampak tidak menyurutkan semangatnya untuk menghiasi ramadhan kali dengan membaca Al-Qur’an. Jama’ah masjid kala itu belum banyak yang datang, maka sangat memungkinkan bagi saya mendengar bacaan kakek tua itu walau tampak samar. Sesekali suaranya meninggi, lantas tenggelam dalam renungan. Dibantu dengan kaca-mata besarnya, ia membaca dengan terbata-bata. Ah, sungguh, pemandangan yang mengharukan bagi saya. Di usia yang selanjutnya ini, masih memiliki semangat yang tinggi. Dalam hati saya hanya mampu bergumam, wahai diri dimanakah dirimu dari sosok setua ini! Dimanakah dirimu, wahai pemuda, dari semangatnya yang bergelora, sementara dirimu masih sibuk dengan dunia? Dimanakah dirimu yang asyik melantunkan lagu-lagu kemaksiatan, dari dirinya yang sibukbermuhaadatsah [berkomunikasi] dengan firman Tuhan?

Hati saya berguncang. Tak mampu menyembunyikan malu yang ada. Hanya gemuruh hati yang lamban laun melahirkan tetesan air mata penyesalan. Tak tahu mengapa? Apakah ini akibat maksiat yang telah berkarat, ataukah kerasnya hati yang selama ini mengendap dalam diri. Sungguh, bacaan kakek tua itu menggugah jiwa...!!

[8 Ramadhan 1434 H]

 

Posted by Unknown in , ,


 

Keadilan manakah yang kini tersisa?

Tatkala kehormatan dihina, jiwa terluka oleh tangan-tangan nista
Diatas pengakuan dusta, kebenaran berpaling makna;
ムBerwajah duaメ
Setiap perjuangan dianggap kejahatan
Langkah terjerembab onak kemunafikan
Sementara penyeru risalah mulai dikekang
dalam jeruji srigala berbulu domba
Menghadang setiap harakah dakwah

Keadilan manakah yang kini tersisa?

Ketika pandangan terusik di depan mata
Melihat dirimu berjuang sepenuh jiwa  dan raga
Berlumur darah suci  mempertahankan hak yang diusik
Para penjajah yang kian berisik
Sementara diri masih terdiam dalam renungan panjang
Sibuk dengan nafsu dan angan-angan meradang
Bergumul dengan pertanyaan tak berkesudahan
Usailah diri dari kebinasaan

Kedamaian manakah yang kini tersisa?

Saat diri tersakiti, ringkih tulang tak lagi peduli
Mungil tubuh menjadi saksi setiap jeritan perih
Tangisan gersang mengering bersama seruan perjuangan
Yang kerap terbungkam oleh kesaksian durja para penyeru agama kekufuran
Memperjuangkan kebatilan dalam selimut indahnya lisan
Diatas genderang perang pemikiran
Menguliti aqidah yang rapuh dalam jerembab peluh kemiskinan

Kedamaian manakah yang kini tersisa?

Saat kemuliaan enggan lagi berdiri
Jiwa-jiwa semesta satu- persatu pergi
Menyisakan generasi instan, budak angan-angan
Tiadalah tahu hakikat penciptaan, menuhankan akal pikiran
Bahwa hanya kepada-Nyalah tertuju satu pengabdian
Hanya kepada-Nyalah datangnya pertolongan

Wahai penyeru Keadilan....

Masihkah kau tinggal diam tatkala saudaramu dihujam?
Tentara-tentara iblis yang meraung dan menikam
Sampai kapankah kau berselimut kenikmatan?
Sementara mereka bertelanjang badan dinista kemiskinan

Wahai penyeru perdamaian...

Masihkah kau perjuangkan janji-janji kemunafikan
Di atas aqidah yang saling bertentangan; Putih-hitam
Tidakkah kau beri'tibar dari kaum-kaum  yang dihinakan
Bahwa khianat adalah siimah yang kerap mereka terapkan
Masihkah kau enggan mengambil pelajaran?

Kini, keadilan dan kedamaian manakah yang kau perjuangkan?



Abu Ayyash Al-Ahmady
Khartoum-Sudan
7/4/1439 H

Masihkah Aku Mengeluh ?  

Posted by Unknown in , ,





Masihkah aku mengeluh…
Tatkala diriku tak kuasa menahan nafsu
lewati hari-hari peluh dan ragu
kenikmatan sesaat menghiasi rona-rona semu
aku tetap saja berdalih oleh kelemahan yang menyatu
dalam diri, bersama angan-angan yang tiada menentu
Akankah aku tetap tertidur nyenyak  di bawah naungan pohon di siang hari
Yang pasti pergi bersama perginya jejak mentari

Masihkah aku mengeluh…
Tatkala noda-noda hitam masih menyelemuti hati,
Bisikan-bisikan syeitan turut menyertai
Setiap hembusan nafas dan langkah kaki
Tiada kusadari, terkadang aku mengikuti ‘sang penabur mimpi’
pengumbar janji-janji tiada pasti
‘Bahwa ialah pengelabu antara hitam dan putih
‘Bahwa ialah musuh sejati yang harus diperangi

Masihkah aku mengeluh…
Tatkala ayat-ayat pengaduan hanya sekedar kalam
Penyesalan pun hanya bualan kelam
Aku tetap saja diam, bergumul dengan suara hati
janji-janji teringkari
Enggan menyuarakan kebenaran,..
Kerdil dengan berbagai pertanyaan…
Akankah aku tetap bungkam oleh setiap kemungkaran;
dalam pandangan yang takkan usai sebelum mata terpejam
dalam setiap hela nafas yang takkan berhenti sebelum nyawa pergi
dalam setiap kegelisahan jiwa atas pertanggung jawaban ilmu yang dibawa

Tiadalah yang tersisa kini selain rasa pasrah kepada-Mu
Tiadalah yang tersisa kini selain kerinduan dalam naungan kasih-Mu
Ampunilah diri yang kerap lalai dari mengingat-Mu
Atas nikmat-nikmat yang Engkau anugerahkan
Atas setiap kesempatan menghirup nafas kehidupan

Akulah hamba-Mu yang rapuh tanpa kuasa-Mu
Kokohkanlah diri dengan cinta dan ridho-Mu
Sadarkan diri dari alfa dan dosa
Ingatkan diri disetiap sujud telimpuh menghamba
Terangi kelamku dengan 'nuurrahmah' di jiwa

Bahwa tiada kuasa selain kuasa-Mu;
Kuasa diatas kuasa ...
Cahaya di atas cahaya...
Yang senantiasa menghiasai Jiwa-jiwa semesta dibawah naungan Hidayah

Ya Robby, Engkaulah Pelita hati...
Hanya kepada-Mu  tempatku mengeluh
Sandaran bagi perindu Syurga-Mu


By : Ibnoe Amier
Di Lentera Muhasabah
Khartoum-Sudan 
29/3/1434 H

[MENUNTUT ILMU ] “MERENDAH DIRI DAN TIDAK SOMBONG”  

Posted by Unknown in , , ,

Catatan Seorang Thalib’ilm Di Negeri Dua Nil
By: Abu Ayyash Al-Midany


“Berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (QS. Al-Hijr 88)
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Luqman 18)


Siapa sih, yang suka melihat orang yang sombong? Hmm, dari cara berjalannya saja sudah kelihatan tuh orang; belagu, muka sewot, cuek, angkuh, de el el, deh pokoknya. Yang penting sukanya hanya merendahkan orang lain, sombong terhadap diri sendiri. Sukanya memotong ucapan, seakan-akan dirinya yang paling benar. Dari segala sisi maunya hanya dirinyalah yang paling di unggulkan, baik itu ucapan maupun tindakan. Eiitzz…, Ntar dulu guys, Jangan-jangan sifat itu ada dalam diri kita pula lho…! Wal’iyyadzu billah…


Akhi wa Ukhti fillah, Itulah sedikit gambaran orang sombong yang sering terjadi di sekitar kita. Dan masih banyak lagi sifat-sifat lain yang mungkin dapat dikategorikan seperti di atas. Ternyata sifat madzmum ini amat berbahaya dampaknya. Bukan saja pada diri sendiri, tapi kepada orang lain juga.
Sombong merupakan awal maksiat dalam tatanan penciptaan yang dihadapkan Iblis terhadap Allah Subhanahu Wat’ala. Tatkala menganggap dirinya yang lebih baik dari Adam ‘Alaihissalam, manusia pertama ciptaan Allah.

وإذ قلنا للملائكة اسجدوا لآدم فسجدوا إلا إبليس قال ءأسجد لمن خلقت طينا
Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: "Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?" (Q.S. Al-Isra' 61)

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

(عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاء (صحيح البخاري ٥٣٣٧
Dari Ibnu Umar radliallahu 'anhuma bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah tidak akan melihat orang yang menjulurkan pakaiannya dengan sombong." (Shahih Bukhari 5337)

Khuyala’ yang dimaksud adalah takjubnya seseorang terhadap diri sendiri dengan menampakkannya kepada orang lain, baik itu berupa harta, tahta, maupun ilmu yang dimiliki. Kalau muaranya hanya didalam hati ia dikategorikan ‘I’jaabunnafsi. Nah, kalau sudah sampai menampakkannya kepada orang lain dengan sombong, inilah yang disebut dengan khuyala’. ( Syaikh Utsaimin, Syarh Hilyah Tholib ‘Ilm)

Keduanya sama-sama dilarang. Kalau dalam hati saja dilarang, bagaimana pula yang ditampak-tampakkan. Dalam puisi arab Seorang penya’ir berkata : “ I’jaabunnafsi daalatun ‘ala dho’fi ‘aqlihi” (Takjub terhadap diri sendiri tanda bahwa lemahnya akal yang dimiliki). Yang lebih parah lagi, ialah menampakkan diri yang bukan sebenarnya. Yakni, ibarat kisah seekor katak yang hasad kepada Sapi. Dengan ukuran tubuhnya yang kecil, ingin seperti Sapi yang memiliki tubuh yang besar. Begitu pula orang suka membangga-banggakan diri, sombong terhadap apa yang ia miliki. Karena sejatinya kita adalah makhluknya yang lemah yang berada dalam kuasa-Nya.

Bukan berarti kita menafikan nikmat yang telah diberikan. Akan tetapi rasa syukurlah yang hendaknya diwujudkan baik dalam keadaan ria atau sebaliknya. Betapa banyak kisah tauladan yang dicontohkan para leluhur kita para Nabi dan salafussholeh. Betapa indah kisah mereka yang pasrah kepada-Nya dengan dilukiskan dalam sebaik-baik kitab yang takkan luntur sepanjang zaman- red: Al-Qur'an. Salah satunya, Kisah Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam dalam Surat An-Naml, yang jelas menampakkan ciri-ciri mereka yang merendah diri. Tatkala seruan seekor semut terdengar olehnya, saat hendak menghindari pijakan bala tentaranya.

"Maka Dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) Perkataan semut itu. dan Dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". (Q.S An-Naml 19)

Sangat Jelas sekali kecaman Allah Subhanahu Wat’ala terhadap mereka yang menyombongkan diri dimuka bumi ini. Karena hanya Ialah yang patut untuk menyombongkan diri atas segala ciptaan-Nya. Hal ini seiring dengan sabda-Nya :

"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS. Al-Israa’ 37)

Maka, Kepada Siapa hendak dibanggakan harta, kalaulah Qorun yang memiliki harta kekayaan melimpah, toh diazab dengan harta kekayaannya sendiri. Kepada siapa hendak sombong, kalaulah Fir'aun yang memiliki kekuasaan dan mengaku-ngaku Tuhan pada akhirnya ditenggelamkan dalam lautan. Kepada siapa pula hendak memalingkan wajah - karena sombong- kalau pada akhirnya tanah kuburlah yang akan menutup wajah.

Hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam turut mewaspadai sifat ini, dan kerap menasehati para sahabat serta umatnya agar menjauhinya.

عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ أَنَّهُ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
Dari Iyadh bin Himar ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku, hendaklah kalian bersikap rendah diri, hingga seseorang tidak berbuat aniaya kepada orang lain, dan seseorang tidak berlaku sombong kepada orang lain." ( Sunan Abu Daud 4250 )

Saya merinding kerap kali membaca dan mendengar kisah tiga orang yang masuk neraka, yang mana ketiganya adalah Penuntut ilmu, Mujahid, dan Orang yang bersedekah. Bagaimana tidak, apa yang mereka lakukan termasuk dalam kategori perbuatan yang mulia. Hanya dikarenakan 'Riya', terhapuslah amal perbuatan mereka.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menuturkan: Aku pernah mendengar Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda:
“Sesungguhnya orang yang pertama kali diberi keputusan pada hari kiamat adalah seseorang yang mati syahid. Lalu ia didatangkan dihadapan Allah. Kemudian Allah memperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatanNya yang diberikan kepadanya. Lalu orang tersebut mengakuinya. Allah pun berfirman, ‘Apa yang kamu kerjakan padanya?’ Ia berkata, ‘Aku berperang karena diri-Mu, hingga aku mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Engkau telah berdusta. Sesungguhnya engkau berperang agar dikatakan sebagai pemberani dan hal itu telah dikatakan.’ Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa lalu diseret mukanya hingga ia dilemparkan ke neraka.

Lalu seseorang yang belajar suatu ilmu kemudian mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an lalu didatangkan di hadapan Allah. Kemudian Allah memperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatanNya yang diberikan kepadanya. Lalu orang tersebut mengakuinya. Allah pun berfirman, ‘Apa yang kamu kerjakan padanya?’ Ia menjawab, ‘Aku mempelajari suatu ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur’an karena-Mu.’ Allah berfirman: ‘Engkau berdusta. Sebenarnya, engkau mempelajari suatu ilmu, mengajarkannya dan membaca al-Qur’an agar dikatakan bahwa engkau adalah orang yang ahli membaca. Dan hal itu telah dikatakan.’ Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa lalu diseret mukanya hingga ia dilemparkan ke api neraka.

Lalu ada seorang yang telah Allah berikan kepadanya kelapangan dan berbagai macam harta. Kemudian Allah memperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatanNya yang diberikan kepadanya. Lalu orang tersebut mengakuinya. Allah pun berfirman, ‘Apa yang kamu kerjakan padanya?’
Ia menjawab, ‘Tidak ada suatu jalan yang Engkau senang untuk diberi infak kecuali aku telah mengeluarkan infak padanya demi Engkau.’
Allah berfirman, ‘Engkau telah berdusta. Tapi engkau melakukannya agar dikatakan sebagai orang yang dermawan dan hal itu telah dikatakan.’ Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa, lalu diseret mukanya, kemudian dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Bagi seorang penuntut ilmu, hal ini perlu diwaspadai. Karena ia kerap kali dilupakan dan tidak disadari menyelinap dalam diri masing-masing. Syaikh Bakr Abu Zaid berkata : “Hendaklah [Seorang Tholib ‘ilm] berhias diri dengan adab sopan santun; saling memaafkan, berkasih-sayang, teliti, sabar, dan berendah diri kepada suatu yang haq. Ibarat seekor burung yang melayang diudara; tenang dan seimbang kedua sayapnya. Merendah diri dalam menuntut ilmu saat merasakan mulianya ilmu. Berhati-hatilah dari sifat ria ilmu. Karena ia merupakan penolak ilmu dan perbuatan. Sebab datangnya dosa dan malapetaka. Karena sesungguhnya para salaf sangat mewaspadai diri mereka dari sifat ini” (Hilyat Tholib Ilm)

Begitulah seharusnya seorang thalib ‘ilm. Berendah diri dalam kebenaran juga kepada makhluk ciptaan-Nya. Artinya, tatkala kebenaran telah jelas baginya janganlah berpaling darinya. Berhias diri dengan sifat merendah, karena ilmu bukan untuk dibanggakan, namun dijunjung kemuliaannya. Dengan sendirinya, oranglah yang akan menilai siapa empunya ilmu yang sejati. Ia akan menjauhi hal-hal buruk, tidak terburu-buru dalam mengambil sikap dan menghukumi suatu permasalahan. Sabar bila ia disakiti orang lain, kerabat, maupun guru yang mengajarinya.

Tetap istiqamah dan berjaga diri dari kesombongan. Jangan berlarut diri dari sebuah perdebatan, karena sejatinya ia akan menimbulkan benih-benih kesombongan dan menyebabkan kerasnya hati. Carilah kebenaran dan bukan pembenaran. Menerapkan dalil dahulu sebelum beri’tiqad (yakin) dalam perbuatan. Hingga pintu kebenaran benar-benar terbuka dan dimudahkan oleh-Nya.

Ya Rabb, Sang Pemberi Ilmu dan kekuasaan. Lembutkanlah hati kami dengan merendah diri, jauh dari 'ujub, riya', khuyala', dan takabbur'. Kami sadar bahwa diri kami teramat lemah atas kuasa-Mu. Maka, sadarkanlah kami atas kelemahan kami untuk menerima kebenaran dari-Mu.


Sobat..., masihkah Anda bersombong diri?


Khartoum, Sudan.
9/11/ 1433 H