Perjuangan Panjang  

Posted by Unknown in , ,

Perjuangan Panjang


Sulit aku melupakan beribu pasang mata birumu
Bingungku, lantas berkabung…
Kala senja ingin pergi tinggalkan hari
Kau masih saja berdiri
Menanti aroma syurgawi
Menghampirimu...

Sua tiada habis diselaksa pandang
Menatap tingkah laku iblis dunia yang menghadang
Intifadhoh akan tetap meradang
Kala jiwamu terus di hujam
Bingungku,lantas bertandang…
Aku hanya mampu berkumandang
Serukan keadilanmu yang dikekang

Jihad menjadi besi sendi
Sabar menjadi pilar tegar
Tawakkal menjadi dinding hati

Kau adalah jiwa haus
Yang tidak dapat istirahat
Kecuali dalam pangkuan keterjagaan
Kehidupanmu di atas bumi
Merupakan satu rangkaian panjang
Dari perbuatan perbuatan besar
Yang ingin kuraih, namun hanya mimpi
kala rayuan syaitan kerap menghampiri

Predikat syahid jelas tersandang
Hakikat mati tak mematikan hati
Jiwamu kan selalu bertandang
Dalam sanubari yang merindu makna dan arti

Aku hanya mampu menitip salam kasih
Pada angin kasturi bumimu…
Pada awan syurgawi dihatimu
Pada bebatuan, saksi hidupmu

Kala tangan tak mampu menyapa dan hampiri
Perjuangan panjang membentang
Do'aku kan selalu membasahi
Untukmu…
Wahai mujahid sejati…



Dibuat untuk seleksi naskah Tribute to Plestine
(http://www.facebook.com/note.php?saved&&suggest&note_id=411106508880)

Donasi untuk Palestina dapat di kirimkan pada
Rekening Mer-C untuk Palestina :
BCA cab. Kwitang No. Rek. 686.0153678
BSM cab. Kramat No. Rek. 009.0121.773
a.n. Medical Emergency Rescue Committee

Rekening KISPA untuk Palestina :
Bank Muamalat Indonesia cab.Slipi
No. 311.01856.22 an.Nurdin QQ Kispa

By: Muhammad Nur
Ahad, 06/06/10

Nurani Di ujung Samudra  

Posted by Unknown in , ,

Nurani Di ujung Samudra


Mungkin hanya laut yang mengerti
Kapan langit akan menangis...
Atau mungkin hanya buih yang tahu
Kapan mendung berganti warna..
Saat ombak melahirkan darah di bibir karang

Selarut ini aku tuliskan sebait pesan buatmu
Aku lampirkan penggalan mimpi untuk menyapamu
Dalam diam...dalam dendam...dalam ketiadaan...

Terpagut mata memandang perih
Diujung samudera, panggilan hati membawamu pergi
Kala hatimu tersayat belati
Aku hanya mampu merintih
Adakah mereka miliki segumpal nurani?

Setetes darah dengan sebuah kerinduan
Yang mampu mengeja gambar keangkuhan tanpa makna
Semacam doa tanpa harapan
Dan sebuah kerinduan yang kering terbakar
Kau masih menanti diujung samudera
Bertanya pada ombak…
Adakah nurani bersinggah menepi?

Oh…Palestina…
Tragedi tanpa kesudahanmu
Meluluh lantakkan qolbu
Ingin kurajut perihmu dengan jamahku
Obati lukamu dengan jiwa…
Agar kalut tak dapat meraja kembali dalam sepi

Oh…Palestina
Bumi Isa yang ternoda
Kala serdadu zionis gagah diujung samudera
Hendak halangi nurani yang ingin menepi
Ditanah syurgawi, taman mujahid sejati

Ah, aku hanya mampu membias
Di balik cermin, malu tanpa arti
Kala sendimu kokoh menghadang buas
Penar matamu denguskan dedebu
Bebatuan siap menjadi saksi juangmu
Aku hanya mampu mengutuk
kala suamu kian mengetuk
dinding semesta nurani


Dibuat untuk seleksi naskah Tribute to Plestine
(http://www.facebook.com/note.php?saved&&suggest&note_id=411106508880)


Donasi untuk Palestina dapat di kirimkan pada
Rekening Mer-C untuk Palestina :
BCA cab. Kwitang No. Rek. 686.0153678
BSM cab. Kramat No. Rek. 009.0121.773
a.n. Medical Emergency Rescue Committee

Rekening KISPA untuk Palestina :
Bank Muamalat Indonesia cab.Slipi
No. 311.01856.22 an.Nurdin QQ Kispa



By: Muhammad Nur
Jum’at, 04/05/10

Jingga Di Palestina  

Posted by Unknown in ,

 
Takkan kubiarkan tangan terhenti
Walau pahit menghadang diri
Lambaian aroma syurgawi, elokkan semerbak mewangi

Takkanku elak diri, menghadap halang melintang
Secerca asa masih tersimpan
Mari sama kita berjuang
Wahai mujahid islam.



Izzuddin Al-Qossam..!!!, dimana janjimu pada rakyat palestina..! teriakku dengan pilu menyaksikan tubuh ayahku yang terkapar tak berdaya dengan lumuran darah. “Ayah, jangan tinggalkan aku. Aku tak sanggup hidup tanpamu ayah..” tangisku bercucuran tanpa henti menggenang dan membasahi pipiku. Marah, sedih, dan pilu bercampur satu didalam hati. Ku ingin mengutuk kekejaman Israel yang selalu berdalih demi perdamaian dunia itu.
Keluargaku tewas dibantai badan intelligent Israel yang terselubung dan menuduh keluargaku sebagai keluarga teroris dan aktivitas HAM. Kini otot kakkiku kurasakan lemah, seketika menyaksikan anggota keluargaku yang turut syahid dalam insiden mengenaskan ini. Luka yang menganga dilenganku tidak kuhiraukan, disebabkan kesedihan yang mendalam. Luka yang ditorehkan serpihan bom yang meledak di perbatasan perkampungan kumuh An-Nashr, di saat ku pulang dari pengajian di perkampungan yang sama.

Namun, saat itu kuhanyut dalam kenangan masa lalu. Kurasakan ada seseorang yang memegang lembut pundakku. Dengan ragu-ragu kubalikkan tubuhku dan kuarahkan pandanganku untuk mengetahui siapakah yang berani mengganggu kesedihanku ini. Kuperhatikan dengan seksama seorang lelaki yang berdiri dihadapanku ini. Seorang lelaki yang berjubah hitam dan disertai serban yang melilit di wajahnya, membuat dahiku mengernyit, tak mampu mengenali lelaki berbadan tegap itu. Namun, sinar mata elangnya mampu meneduhkanku serta menentramkan hatiku yang sedang kalut, “man eintah yaa akh..? tanyaku dengan terbata-bata. Tidak sanggup ku menyembunyikan keingintahuanku yang mendalam dan menggilik hati kepada lelaki itu. Ku kepalkan tangan kecilku dan ku eratkan genggamanku bersiap-siap untuk menjaga diri andai kata lelaki yang dihadapanku ini ternyata ingin menghancurkan hidupku. Aku tak gentar menghadapi siapapun yang bermaksud menghina dan menghancurakan agamaku.
“lebih baik syahid memegang bara api agama dari pada hidup berkalung noda”, pesan itulah yang selalu kuterapkan di dalam relung hatiku. Namun, ternyata lelaki yang berwibawa itu seakan tahu akan paranoid yang tumbuh di diriku. Dengan perlahan-lahan, lelaki itu berlutut di hadapanku dan melepaskan lilitan serban yang menutupi wajahnya. Dan baru kusedari, air matanya telah menggenang di kedua kelopak matanya, sembari membentuk aliran sungai kecil. Dengan sigap lelaki itu mendekap tubuh kecilku, serta kedua tangannya erat memeluk diriku. “Nak.., akulah lelaki yang engkau panggil dalam teriakkanmu. Akulah Izzuddin Al-Qossam yang akan bertanggung jawab akan kelangsungan hidupmu. Ikhlaskan ayahmu yang telah syahid menuju surga. Aku akan berkorban apa saja demi demi kehidupanmu, dan demi senyuman anak-anak palestina” serunya perlahan-lahan. Seruan yang mampu membangkitkan semangatku yang telah terkubur dalam kubangan hatiku.

“Nak, maukah engkau menjadi malaikat Allah yang rela berkorban baik dengan jiwa dan raga demi kejayaan agama-Nya?” bisiknya ke telingaku. Aku hanya mengangguk memantapkan diri sembari memabalas dekapannya. Tidak terasa bulir air mata meleleh di ujung pelupuk mataku, membuat aliran sungai kecil yang mengalir, bercucuran membasahi pakaian yang membaluti tubuhku, dan membuaikanku dalam sejenak mimpi masa depanku.

*****
“ Komandan Aslam..!! bertahanlah”, ujar salah seorang pasukkanku sembari membetulkan letak pembaringanku. Ucapan itu telah menyadarkanku dari pingsan yang merenggut pikiranku. Dengan bersudah payah aku berusaha untuk bangkit dari pembaringanku. Namun, aku tak berdaya. Kurasakan tulangku telah remuk seketika. Untunglah usahaku langsung dicegah oleh salah seorang pasukanku yang setia menjagaku.

“Jangan komandan, lukamu cukup parah. Engkau harus banyak beristirahat guna memulihakan tenagamu” terang pasukan itu dengan sedikit cemas.

“Ahmad.., siapakah yang memimpin gerilya saat ini?” tanyaku tertahan.

“Alhamdulillah komandan, yang memimpin gerilya malam ini adalah Al-Baz Al-Sahab karena di sebabkan kelihaian dan kecerdasan strategi perangnya.

“Alhamdulillah, sampaikan salamku buatnya. Kuamanatkan baginya untuk memimpin pasukan setelahku. Nyawaku sebentar lagi akan pergi untuk menghadap-Nya” pesanku dengan perlahan. Kini aku terlarut dalam anganku. Tangisan Ahmad yang mendengarkan pesanku tak ku hiraukan. Biarlah ia dalam kesedihannya. Aku bersyukur di saat ketakutanku akan kehilangan araya dan ibuku. Izzuddin Al-Qossan hadir di hadapanku sebagai mana janjinya padaku. Akhirnya aku terdidik dengan penuh perhatian. Berkat didikan pimpinan jihad Al-Qossam itu, aku mampu memimpin pasukan dalam umurku yang relatif muda.

Aku menjadi komandan perang di saat aku berumur 21 tahun. Dan berkat kemahiranku dalam menyusun strategi perang, membuat badan Inteligent Israel kalang kabut menghadapi kobaran semangat jihadku yang telah berkorban bagaikan kobaran api yang membara.

“ Assadullah At-Tsani”. Demikian Izzuddin Al-Qossam menjuluki kegesitanku dalam berperang. Sering kali aku membuat jengkela pasukan Israel karena kepiawaianku dalam memimpin pasukan. Namun, takdir tetaplah di tangan Allah. Walau bagaimanapun aku berusaha dalam menegakkan panji kibaran keagungan Allah, maut tetap selalu berada di tangan-Nya. Sore tadi di saat aku dan pasukanku berjihad dalam merebut pusat penjagaan senjata Israel di perkampungan Er-Rukad dan di saat ku menolong salah seorang mujahidin, tiba-tiba sebuah timah panas dengan ganas bersarang di pundakku. Aku tak peduli walaupun tubuhku berlumuran darah.

Namun, teriakan asama Allah tetap meluncur di lisanku untuk menyemangati pasukan yang sedang bertarung mempertaruhkan jiwa dan raga. Hiruk pikuk peperangan, debu-debu yang berterbangan, serta bantuan musuh yang berdatangan, tidak mampu menyurutkan semangat jihad pasukanku. Desingan mewarnai senja keagungan Allah.

“Allahu Akbar.., Allahu Akbar..”. teriakku bersamaan melesatnya granat yang bertepatan jatuh tak jauh dari tempatku berdiri, dan tak mampu menerbangkan jiwa ragaku. Sesaat ku pingsan tak sadarkan diri bersamaan dengan menggemanya adzan maghrib. Dan akupun terbangun diatas kain tipis dalam keadaan tak berdaya.

“Ahmad, tolong sampaikan salam maafku buat kaum muslimin seluruhnya” pesanku kepada Ahmad yang tak henti-hentinya mengalirkan bulir air dari pelupuk matanya. Ia hanya mengangguk dan bersedih sembari menggenggam erat tanganku yang mulai dingin, lemah dan terkulai tak berdaya.
“Mengapa kau menangis wahai mujahid islam?, mengapa kau lemahkan dirimu yang perkasa? Tanyaku dengan suara seduh dan tertahan ditenggorokan. Tidakkah sadarkah engkau masih memiliki kesempatan banyak untuk menegakkan syariat islam, saudaraku..?”. Kulihat air matanya semakin membanjiri wajahnya yang tertunduk sembari menghindari pandanganku kepadanya.
“ Aku menangis bukan karena lemah komandan. Aku menangis bukan karena aku tak ingin menegakkan syariat islam. Tapi aku menangis karena aku sedih melihat diriku yang tak mampu untuk berbuat banyak demi mengobati seorang pejuang islam. Aku tidak butuh sebuah kekayaan, aku tak butuh seonggok sanjungan. Aku hanya berharap aku dapat bersama orang-orang yang cinta-Nya kepada Sang Maha Kasih melebihi cintanya kepada makhluk lain. Aku menginginkan agarku dapat senantiasa membantu dan berjuang dijalan-Nya bersama orang-orang yang keluasan hatinya bermuara di satu titik yaitu, Li I’laa’i kalimatillah., berjuang dijalan Allah. Aku tidak ingin ditinggalkan oleh jiwa orang yang selalu berdzikir kepada-Nya. Seperti engkau komandan.
“Saudaraku, jangan kau tinggikan derajatku diatas yang lain. Karena hanya Allahlah yang patut untuk ditinggikan. Bolehlah engkau menginginkanku lebih lama bersamamu juga bersama mujahid lainnya. Namun, perlu kau ketahui. Bahwa rasul sendiri pernah menganjurkan kita agar tidak menuhankannya sebagai rasul. Karena itu akan menyebabkan kepada kemusrikan. “Dan ingatlah wahai kaum muslimin, sesungguhnya Muhammad adalah suatu zat yang tidak kekal, dan sesungguhnya Tuhan Allahlah suatu zat yang abadi dan kekal”, ingatkah engkau perkataan Abu Bakar Shiddiq ini. Jangan kau lemahkan dirimu sebagai mujahid islam. Pecamkanlah dalam dirimu agar kau dapat berbuat lebih melebihiku, juga para saudara-saudara mujahid lainnya. Pastikan dirimu agar selalu membarakan api perjuangan melawan mereka yang telah merenggut tanah kelahiran kita. Aku pun selalu menjadikan pesan ayahku sebagai bara yang menyulut kobaran semangat dalam diriku. Pastinya ku mau engkau dan juga sahabat lainnya berbuat seperti apa yang aku lakukan sebelumnya” Pesanku kepada ahmad yang mulai menegakkan kepalanya.
“Baiklah komandan, saya akan pecamkan pesan komandan itu. Semoga ini adalah bara yang mampu menyulutkan semangat perjuangan diranah yerusalem ini. Dan satu permintaanku kepadamu komandan, bolehkah aku memintanya?
“apa itu ahmad, mudah-mudahan aku dapat menyanggupinya.”

“Aku hanya ingin menitipkan salam kasih kepada baginda rasul,komandan! Aku ingin setemunya kau dengannya, kau dapat membawa salam cintaku kepada kekasih Allah itu. Agar kiranya ku dapat bertemu juga dengannya di surga.” Tampak wajah Ahmad mulai merekah, semburat harapan itu dilontarkannya penuh dengan ketulusan.
“Baiklah saudaraku, insyaAllah akan kusampaikan salammu itu. Namun, perlu kau tahu, aku belum mengetahui kemanakah aku akan ditempatkan nanti. Tapi ku yakin Allah pasti memberikan balasan yang setimpal kepada hamba-hamba-Nya yang syahid. Doakanlah saya agar menutup mata dalam kesyahidan. Semoga kiranya dapat berjumpa dengan kekasih Allah itu sebagaimana yang engkau pesankan. Jagalah masyrakat kita, warga kita palestina dari cengkraman iblis Yahudi itu.” Suaraku semakin lemah dan sejenak mataku mulai terpejam.
Ahmad pun merundukkan kepala. Semakin tak kuasa menahan buncahan sedihnya. Aku merasakan bau harum bau harum surgawi menghinggapi tubuhku. Dan kulihat para bidadari cantik nan jelita siap menyambut ruhku. Sesosok cahaya terang dengan wajah tampan dan harum siap membawa ruhku menuju ke hadirat-Nya.
“Asyhadu an laa ilaaha illa Allah, Wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah” kata itu kian menghiasi bibirku. Hanya kata itulah yang terucap dari lisan untuk terakhir kali. Kini kurasakan jiwaku melayang terbang bersama sambutan para bidadari. Ku padangang jasadku dibawah sana. Tersenyum bahagia, bersama semburat jingga Palestina.

Bumi Sengketa  

Posted by Unknown in ,


Kerikil tajam turut berontak, kala bumi husein dipijak
Batu-batuan turut bicara, kala bumi Isa luluh lantak
Pelepah kurma turut berdetak, kala bumi Omar Mukhtar digasak.....
Maka......
Biarlah hamparan pasir Afghanistan jadi saksi
Lesatan mujahid anak panah kebenaran
Koyak-moyakkan tabir kejahatan kafir
“ Allahu Akbar “


3 kilometer lagi, Abi tak pantang menyerah. Dengan sigap ia lewati jilatan api. Aku berlari seakan dibelakangku ada singa yang siap untuk menancapkan kuku-kuku runcingnya, bagaikan bilah-bilah pisau tajam yang digantungkan di dinding-dinding rumah. Aku terus berlari tak menginjak bumi. Debu-debu berterbangan seiring hangus kakiku yang menginjak pasir panas, bagaikan biji timah cair yang menggelakkan timbulkan buih-buih api. Pergelangan tanganku tergenggam erat dalam kekarnya jari-jari Abi. Napasku habis terengah-engah. Menyesak dalam dada, ingin rasanya meledak. Staminaku kian habis. Aku yang masih berusia 11 tahun tak mampu mengimbangi langkah panjang Abi. Tak sanggup bertahan, kuhentikan langkahku yang menimbulkan sorot tanda tanya Abi.

“Ada apa Shir...?” tanya Abi dalam bahasa Pusthu* yang kental.
Pertanyaan menguap bersama udara panas Afghanistan. Aku tak bisa langsung menjawab karena harus mengatur napas terlebih dahulu. Tanpa menunggu jawaban, Abi langsung mengangkat serta mendekapku dalam dadanya yang bidang.
Meski bebannya kian bertambah karena harus menopang berat badanku, Abi terus berlari menuju bukit Akhdar, kubu perlindungan rahasia militan taliban. Meski harus menempuh api yang berkobar dari salah satu rumah kubus penduduk yang baru diserang pasukan Intelegent Amerika yang mendapat bocoran berita tentang kampung militan rahasia Taliban. Dimana-mana sijago merah terus melahap tiap senti rumah penduduk. 30 meter dibelakang Abi, mobil pick-up berlambangkan elang paruh putih terus menambah kecepatan. Deru mesinnya menciptakan badai debu ke angkasa. Menambah aura kebiadaban Amerika dibumi Osama bin Laden ini. Moncong AK-47 telah berisia mengoyak moyak jalaba* Abi, para pasukan terlatih Amerika tengah bersiap menarik pelatuk senjata bu buatan Rusia itu. Namun Abi tak goyah, langkah tegapnya terus menapaki lautan pasir tanpa kesudahan. Lilitan serbannya yang bertangger dikepalanya berkibar-kibar bersama tarian angin. Abi bagaikan Cheetah yang menyelamatkan diri dari tangkapan pemburu. Desingan peluru mulai terdengar berlanjutan dengan muntahan timah panas yang siap menyerang siapa saja yang mencoba menghalau kecepatannya. Sesekali Abi merunduk untuk menghindari amukan timah panas syetan itu. Aku yang menjadi beban, sedikit menyulitkannya. Namun pelatihan yang dijalankannya di Khandar, kubu perlindungan militan taliban, serta pengalaman jihadnya dalam perang begejolak di Kabul sangat membantu Abi dalam mengelak. Aku didekap erat dalam pelukannya. Dengan sekuat tenaga ia jauhkan aku dari serbuan peluru. Namun, Abi tetaplah manusia yang takdirnya di tangan Allah yang Maha Perkasa. Meski sekuat dan selincah apapun Abi, Abi tetaplah manusia biasa yang kadang kalanya kehabisan tenaga serta lalai, entah telah berapa jauh aku dan Abi berlari, namun itu seakan tanpa ada habisnya.

“ Duarrrrr.....!!” sebuah bom yang ditembakkan meledak tak jauh dari kami. Abi yang berusaha menghindari muntahan timah panas tak menyadari adanya strategi ganda. Sebelum tersadar aku dan Abi telah terlempar ke angkasa. Bias dari ledakan bom yang meledak beberapa meter dari kami. Frekuensi kekuatannya mempu menghancurkan sebuah desa menggetarkan bumi Afghanistan. Kupejamkan erat-erat kelopak mataku. Berharap, ini semua hanyalah impian belaka. Berharap waktu bergulir kembali ke belakang. Saat aku asyik bermain perang-perangan bersama Abi. Berharap canda tawa Abi menghiasi hari-hariku. Berharap kasih sayang Abi yang tak pernah habis-habisnya kembali menenangkan jiwa batinku. Namun, semuanya telah berakhir....
Ya....Rabbi....Ya Aziz......Ya Rahman......

* * *

“Ah....ah....ah...Allah...
.”, kubuka mataku perlahan-lahan, kurasa ada beban menindih tubuhku. Beban yang akan menguras air mataku hingga habis, tanpa sadar kristal air mata menganak dikedua sudut mataku. Kristal-kristal itu tumpah bermuara sungai kecil di pipiku.
“ Ah...ah...ah...Ya Allah...”, erangan tertahan kembali bergetar dari pita suaraku, erangan kala air mataku tumpah bercampur darah yang mengalir dari luka-luka menganga disekujur tubuhku. Kucoba bangkit meski perih rasanya, para pasukan Amerika yang puas menampakkan kebiadapannya telah lama pergi. Ternyata aku pingsan beberapa waktu lamanya. Bangunan-bangunan yang hangus terbakar kini tinggal puing-puing abu, dan matahari telah kembali keperaduannya ke ufuk barat. Dengan sisa tenaga yang kumiliki kuambil balok kayu yangterletak diantara puing-puing untuk menggali liang kubur bagi syahidnya anggota keluargaku yang terakhir. Dengan berlinang air mata kucium serta kupeluk Abi untuk terakhir kalinya. Tak kutemukan amis darah, hanya wangi penghuni surga yang tersisa ; SELAMAT TINGGAL ABI...!!!.

Kembali berkelebat dalam benakku. “Ya Rabbi betapa besar pengorbanan serta tanggung jawab Abiku akan agama dan keluarganya. Demi kibaran bendera keagungan agama dan asma-Mu. Ia mengorbankan dengan ikhlas keluarga yang ia cintai melebihi dirinya sendiri”, batinku merintih. Namun, walaupun Abi merupakan seorang militan Taliban yang senantiasa aktif dalam setiap perang pergolakan, ia tidak pernah mengabaikan kami keluarganya. Ia senantiasa menyempatkanwaktu untuk mengunjungi kami meski sekali dalam sebulan atau 2 bulan, dan ia tak pernah lalai akan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga serta pengayongan kami.
Saat ummi serta Raihan adikku mendapat giliran panggilan Allah sebagai syahidah dan syahid. Mereka terkena serpihan geranat yang diluncurkan pesawat tempur USA, di pasar en-Nashr. Abi mengambil alih seluruh tugas ummi. Sejak itu, bila perang tengah bergejolak, Abi senantiasa menitipkanku di kamp-kamp pelatihan militer taliban, karena Abi harus bergerilya siang dan malam. Tanpa takut dan kalut karena yakin karena Allah senantiasa mendampingi serta menjaga anaknya yang tinggal sendiri ; Muhammad Nashir Nashrullah.

Namun, semuanya berubah kala ratusan pasukan terlatih badan intelegent Amerika merangsek masuk menghancurkan kamp. Pelatihan militer Taliban di desa Abdigad, kala itu kamp pelatihan selagi sunyi. Hingga hanya sedikit perlawanan yang terjadi yang dapat dipatahkan dengan mudah, dan semuanya terjadi dalam satu petikan jari.
Dan kini, Abi adalah pahlawanku serta pahlawan bagi seluruh umat Islam yang peduli akan tangis pergolakan dari bumi sengketa Afghanistan.

* * *

Kupacu langkahku setelah memanjatkan doa diatas pusaran peristirahatan terakhir Abi. Aku berlari berurai air mata. Berlari dan berlari, tanpa tujuan. Aku berlari mengikuti langkah kakiku. Aku sebatang kara dibumi sengketa ini. Namun, aku yakin Allah tak kan pernah meninggalkanku walau sedetik saja. Malam telah menunjukkan kekuasaannya, malam telah bentangkan jubah kegelapannya. Namun, aku masih terus berlari walau kepekatan malam mencoba menghalau langkahku. Aku terus berlari diatas hamparan pasir, terus berlari....hingga seluruh tenagaku habis dan sirna. Dunia seakan berputar dimataku, perlahan....makin cepat dan berputar bagai putaran kincir air didesa bibi Mellijah, dekat Peshawar ; Pakistan.
Dan.....semuanya gelap seperti gelapnya jubah malam.

* * *

“Agh......Allah.....a..ku...di..ma...na...?” tanyaku terbata, berharap satu jawaban. Namun pertanyaanku hanya menggaung kesudut-sudut dinding ruangan berukuran 3x4 meter tersebut. Pertanyaanku seakan kembali pada diriku yang tergeletak tak berdaya, terbaring berselimutkan sulaman kain wol kasar yang entah siapa yang punya. Dengan perlahan kutatap sekeliling ruangan. Mataku menyipit terhalau kilauan cahaya matahari yang menerobos masuk melalui sekat sekat petak disetiap sudut ruangan.
“ Agh......agh.....” sakit menyayat kurasakan kala aku berusaha menggerakkan tubuhku. Otot-ototku seakan dilolosi satu persatu. Aku seakan seonggok daging dengan jiwa yang terperangkap didalamnya. Hidup namun tak mempu bergerak. Sekujur tubuhku tarasa perih, hampir sekujur tubuhku ditempeli daun-daunan yang setahuku sering dipakai dalam pengobatan tradisional.
“ Ya Allah.....kuatkan hamba yang lemah ini.....”.

Tiba-tiba daun pintu diseberang dipan berderit, bersamaan masuknya seorang nenek tua yang menurut perkiraanku umurnya berkisar 76 tahunan. Dengan tertatih-tatih ia letakkan kendi tembikar yang dibawanya diatas meja, samping tempatku tergeletak tak berdaya.
“ Nek...a...ku...di...ma...na...?” kataku dengan penasaran. “Kamu berada didesa Zabgabadek, distrik Punjwayi, 35 Km dari Kandahar”, jawabnya dengan suara datar.
“Nek...apa yang terjadi hingga aku sampai disini...?” Tanyaku lagi.
“ Saya menemukanmu ketika aku menuju pasar pagi di desa Gebrad, tak jauh dari sini. Aku menemukanmu tak berdaya dengan penuh goresan luka. Kamu hampir kehabisan darah saat aku tiba. Alhamdulillah, semuanya belum terlambat. Dengan sigap ku membalut luka-lukamu dengan racikan rempah-rempah serta resep-resep obat tradisional yang kubeli dipasar sana”. Ujar nenek.
“Alhamdulillah....Ya Allah, engkau masih menganugrahkanku nafas diakhir hidupku. Alhamdulillah Ya Rahman....” batinku berucap syukur.

” Siapa namamu nak?” Tanya nenek.
“ Nama saya Muhammad Nashir Nasrullah nek....” jawabku.
“ Apa yang terjadi denganmu ? Dan dimana orang tuamu?” tanyanya lebih lanjut.
Maka mengalirlah kata demi kata dari lisankku, betapa perih rasanya. Aku terus berusaha menguatkan mentalku. Dengan berurai air mata kuceritakan apa yang terjadi pada diriku dan kedua orangtuaku selengkap-lengkapnya.
“Nak...maukah kau seperti Abimu, sebagai penggenggam bara api agama. Menjaga agar ia tak redup dan padam, menjaganya walaupun harus menumpahkan darah hingga penghabisan. Siapkah kau menjadi malaikat Allah selamanya ?” tanya nenek itu setelah aku menghabiskan kisahku.
“Siap” jawabku dengan mantap. Jawaban yang akan merubah hidupku menuju ridha Allah, menjadi penggenggam sang bara api agama.

* * *

Rembulan tampak bagaikan sebuah bola perak yang bercahaya, sementara dikaki langit venus berpijar seperti lahar, meteor jatuh kebumi bagaikan lembing menyala-nyala yang dilemparkan oleh sesosok tangan dari langit. Sementara bintang berkelap-kelip seakan ribuan manik-manik yang berkilauan telah dijahitkan diatas jubah lembayung langit.

Nashir berdiri memandang kearah langit itu, matanya mengembara dari satu planet ke planet yang lain, dari satu bintang kebintang yang lain. Mana diantara mereka yang akan ia mintai bantuan ? Yang mana dari mereka yang dapat menolong mereka ? Namun ia sadari, tak satupun yang mampu menolongnya dalam mengobarkan gejolak jihad yang membara di jiwanya. Selain Dzat yang telah menciptakan segala sesuatu yang bahkan tak terjangkau akal. Dalam satu petika jari, dapat memusnahkan serta meruntuhkan segala biduk maksiat yang menampung tetesan-tetesan kejahatan tak lebih dari sekedip mata.
Nashir berdiri tegap disebuah anjungan lembah Zenit, berdiri diantara daratan yang mencuat dari perut bumi. Dadanya yang bidang dibalut jalaba tradisional Afghanistan berayun mengikuti hembusan angin malam, laksana mujahid padang karbala. Ia menatap lurus kedepan, menembus garis lengkungan langit penghubung bumi. Lengannya sedikit terangkat menopang klashnicov yang bergelanyut dibahunya, senjata laras panjang buatan Rusia itu akan mendampingi jihad gerilyanya dini hari nanti.
“ Komandan Nashir..., pasukan telah siap tuk menunaikan shalat sunnah berjamaah”, tegur Ahmadi dengan lembut.
Ahmadi baginya adalah tangan kanan yang senantiasa mendukungnya. Setelah kedua orangtuanya syahid, ia mewakafkan hidupnya demi jihad dalam agama Allah.
“Ya .....aku segera tiba”, jawabku lugas seraya mengikuti langkahnya menuju tenda pasukan.
“ Aku ingin syahid.....”, ungkap Ahmadi suatu ketika dengan berurai air mata kerinduan.
“ semoga Allah mengabulkan doamu”, jawabku kala itu.
Tak lama kemudian, hening mencekam menyelubungi lembah Zenit. Seluruh makhluk berkhusuk dalam munajat pada Sang pemilik alam semesta.
“ Ya Allah....Ya Rabbi.....izinkan aku berbuka puasa esok hari, bersama kekasihmu Nabi Muhammad, beserta para syuhada lainnya”, cetus doa seorang hamba dalam kehusyukan dalam munajatnya pada Rabbi.

* * *

Bagaikan badai ombak yang terdiri dari manusia, para gerilyawan mujahidin berjalan melintas padang gurun. Tapal-tapal kuda berderap menjejaki butiran pasir. Gelegak darah para mujahidin menyusup keubun-ubun. Beri sensasi surgawi dalam benakknya. Betapa rindunya mereka akan panggilan Allah untuk didekap disisi-Nya. Bara api perjuangan tersulut cepat bersama pekikan komando Nashir.
“Allahu Akbar...Allahu Akbar....Allahu Akbar....”.
Pedang dan belati berkilat kilat menakutkan dibawah siluwet fajar merah, moncong Kloshnikov telah haus akan darah para pembangkang serta penentang syari`at Islam. Dalam sekejap bumi Afghanistan telah terselubung badai, debu berterbangan. Pertempuran berlangsung dahsyat, terperangkap dalam peperangan yang menyesakkan. Namun, menjanjikan surga bagi para mujahidin dan neraka pada setiap bayangan kematian para kafir Amerika. Setiap hunjaman belati serta muntahan peluru, menyemburkan darah seperti anggur merah yang tumpah dari ribuan cawan. Tanah berubah menjadi begitu merahnya, hingga seolah-olah ribuan mawar berguguran menutupi pasir Afghanistan.
Nashir terus memekikkan takbir untuk menyemangati para mujahidin. Yang dimakmumi seluruh mujaidin. Pekik takbir peperangan para mujahidin itu mampu membuat jantung para orang yang telah meninggal berdegup kembali. Nasher terus menerjang ke garis depan musuh, memuntahkan bola api kehancuran dalam setiap muntahan timah panasnya. Ia menerjang kedalam kubu perlindungan badan intelegent Amerika, seraya terus memuntahkan timah panas. Ia bagaikan arit kematian yang besar, menebas habis siapa saja musuh Tuhan Yang Maha esa. Bising peluru serta sabetan belati tak sedikitpun menggoyahkan semangat jihad para mujahidin. Meraka berperang bagaikan singa yang terluka. Membuat pasukan Amerika kalang kabut.“Ish kariman au mut syahidan” terpatri erat dalam urat nadi mereka. Para pasukan terlatih Amerika yang tak menyadari adanya serangan dini hari tak mampu untuk menarik nafas dan menyelamatkan diri. Bayang-bayang kematian melintas dalam benak mereka.
Akan tetapi, entah dapat berita dari mana bantuan musuh mulai mengalir berdatangan. Tank-tank Amerika mulai berdatangan memuntahkan bola api menuju bilik mujahidin. Pesawat tempur IDF milik Amerika menari-nari dibayangi fajar merah. Melesatkan granat hunjam perut bumi. Para mujahidin terus bertahan menggolakkan semangat yang membara pada jiwanya. Harum syurga fidaus membayangi setiap muntahan timah panas dan sabetan belati mereka.
“Ahmadi....awas.....”, pekikku membahana. Dengan sedikit bersalto kulemparkan tubuhku yang berada diantara karung-karung pasir yang bertumpuk didekat pos pemeriksaan. Dengan sekuat tenaga, kurangkul ia menjauh dari sana.
“Duarrrrrr.....”, aku dan Ahmadi jatuh berdebam bersamaan meledaknya karung-karung pasir yang terkena lontaran granat Amerika.
“ Madi.....bangkit dan rebutlah markas penyimpanan senjata disebelah utara sana !, tinggal selangkah lagi Insya Allah kita akan dianugrahi Allah kemenangan.” Perintahku tegas. Namun tetap dibarengi senyum persaudaraan.
“siiiiiap komandan....”, jawabnya sembari mulai merunduk diantara pagar kawat yang mengelilingi pos penjagaan.
“ Allahu Akbar......!” Pekikku menyemangati mujahidin lainnya. Aku berdiri menyalakan moncong Klashnicov mengarah pada tentara Amerika yang bersembunyi dibalik dinding beton.
“Duar.” Peluru menembus dada kiriku, terasa perih timah panas yang bersarang ini. Kala mataku fokus pada tentara yang lain.
Aku terus bertahan meski tubuhku mulai berlumuran darah, ku berondong tentara Amerika dengan muntahan peluru, meski sisa-sisa tenagaku mulai habis menahan sakit.
Debug.......aku terjatuh diatas pasir kasar. Cairan merah kental terus merembes membasahi jalabaku.
“Komandan Nashir...!!!” tiba-tiba Ahmadi telah berada disampingku. Merangkul dengan linangan air mata membasahi kafiyeh* yang melilit diwajahku.
“Bertahanlah komandan...! aku akan meminta bantuan pada mujahid lainnya”.
“Jangan...” sanggahku menghentikan langkahnya.
“Jangan usik para malaikat Allah hanya demi seorang insan naif sepertiku, biarlah mereka tetap berjihad disana...”lanjutku berusaha tersenyum.
Ahmadi hanya mampu terdiam.

“Bagaimana jihad kali ini Ahmadi...?” tanyaku bertahan.
“Alhamdulillah...selangkah lagi kita akan menang, tentara Amerika kalang kabut membendung serangan kita. Markas penyimpanana senjata telah dikuasai, tank-tank mereka telah terbakar beserta keping-keping pesawat tempur yang jatuh terkena lontaran granat para mujahidin” jelas Ahmadi sembari tetap merangkulku.
Terbayang kembali ingatanku beberapa tahun yang lalu saat aku masih berusia 11 tahun. Berkat anjuran nenek Syafiah aku dididik ilmu kemiliteran Taliban di Kandahar, kubu-kubu perlindungan rahasia militan Taliban. Dibawah asuhan Osama Bin Laden aku berjuang membela agama Islam dalam jalur peperangan, dan menjadi momok menakutkan bagi badan intelegent Amerika ; sang pembangkang syari`at Islam.
“Ahmadi...sampaikan salam dan maafku buat nek Syafiah serta buat seluruh umat Islam di Dunia..., berjuanglah Ahmadi. Tegakkan din ini meski jiwa raga menjadi taruhannya....!” pesanku dalam detik terakhirku.
“Ya....Rabbi...syukurku hanya pada-Mu, akhirnya aku bisa berbuka puasa bersama para kekasihmu nanti...” cetusku dalam hati seraya tersenyum bahagia mengingat doaku dini hari lalu....
“Asyhadu Anlaa Ilaaha IllAllah...., Wa asyhadu Anna Muhammadarrasulullah....” hembusku dalam nafas terakhir.
Lalu semuanya gelap dalam dekapan jubah malam.
“Khaibar......khaibar..... Ya Yahud.....Jaitsu Muhammad.....Saufa Ya`ud...”