REFLEKSI [SEPEKAN] RAMADHAN : INDAHNYA KEBERSAMAAN BERBUKA PUASA  

Posted by Unknown in

Tidak seperti biasa, hari ini ingin rasanya mencari suasana baru. Setelah sepekan berbuka puasa bersama rekan-rekan Indonesia di dalam Asrama. Ingin rasanya berbuka bersama kalangan masyarakat Sudan di luar Asrama. Sepertinya akan lebih menarik, karena disamping melihat suasana luar ketika berbuka, juga mencari menu yang berbeda [ walau terkadang tak sesuai lidah, hehe…]

Adalah kebiasaan mayoritas masyarakat Sudan menjelang berbuka, kerap menyediakan tempat-tempat berbuka yang mudah dijangkau masyarakat dari berbagai kalangan. Banyak dari kalangan atas, para pebisnis dan semacamnya, menyumbangkan sebagian rezeki yang mereka miliki berupa sembako, uang tunai, ataupun dengan berbuka puasa bersama. Hal itu ditujukan kepada orang-orang yang tidak mampu juga ke berbagai yayasan kemanusiaan. Dijalan-jalan sangat mudah ditemukan tenda, maupun tikar-tikar tempat berbuka menjelang senja.

Kalau di Jami’ah [Universitas] sendiri, biasanya akan ditandai dengan datangnya mobil gerobak berisikan iftor disetiap sorenya. Kalau sudah demikian, mahasiswa bak segerombolan lebah yang menyerbu tatkala sarangnya diserang. Datang dari berbagai penjuru Asrama dengan mangkuk dan piring besar. Bilamana harus berlari untuk menjadi yang terdepan. Berharap mendapatkan jatah. Walau terkadang sebaliknya, hanya mampu ‘mengisap jempol’ belaka, tidak mendapatkan apa-apa. Hadeuh, capek deh!

Bagaimana tidak? Stok yang sebenarnya ‘cukup’ untuk dibagikan merata, menjadi barang obralan yang terkadang terbuang akibat pembagian yang tidak sistematik. Selalu saja berebut. Tak ada yang mau mengalah. Ya, kalau sudah begitu, apa nak dikato? Memang sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk dirubah. Sebenarnya sih, bisa! Kalau saja dari awal ditegaskan untuk mengantri secara teratur. Tapi, pasti ada saja yang nyeleneh! Tetap keras kepala untuk segera mendapatkan jatah. Selalu saja ada yang mencari sensasi dengan merusuh ketertiban. Nah, kalau kalau sudah seperti ini kejadiannya. Berbuka puasa diluar asrama menjadi salah satu solusi, selain bersilaturrahmi dengan masyarakat sekitar, juga gratissss!!...

Ok, lets go to outside of campus!

Hari ini, saya bersama teman saya dari Kamerun berniat sholat di salah satu masjid yang biasa di Imami oleh Qori’ ternama Sudan. Syaikh Muhammad Abdul Kariem. Beliau sudah dikenal banyak kalangan Masyarakat Sudan, maupun dunia. Nama beliau tertera di Salah satu situs yang memuat Qori’-qori ternama dunia, www.mp3quran.net. Bilamana Syaikh Maher Al-Mu’aiqily yang kini menjadi salah satu Imam di Masjidil Haram, adalah satu diantara murid yang pernah berguru kepadanya. Tilawah qur’annya hampir sama. Beliau menguasai riwayat-riwayat qira’ah baik yang mutawaatir [ yang diakui keshohihannya dengan periwatan beruntun] maupun yang syaadzah. Maka tidak diragukan lagi, banyak kalangan masyarakat yang berguru kepada beliau. Baik orang Sudan maupun dari kalangan mahasiswa asing. Namun bukanlah hal yang mudah, karena persyaratan berguru kepada beliau harus hafal Al-Qur’an terlebih dahulu. Diuji tajwid dan kuatnya hafalan dengan tepat. Pastinya harus benar-benar menguasai seluk-beluk hafalan dengan baik.

Untuk menghindari jama’ah yang membludak ketika Shalat Tarawih, kami sengaja datang lebih awal, yakni sebelum magrib. Ini untuk pertama kalinya saya berbuka di Mesjid beliau yang ternyata menyediakan iftor  [makanan berbuka] untuk kalangan masyarakat sekitar yang tidak sempat berbuka dirumah. Wah, tidak kalah menariknya! menu yang disediakan cukup ‘menggoyang lidah’ walaupun tidak ada yang berbeda. Selalu sama dengan tempat-tempat lainnya. Ful, Adas, Mulaah bil lahm  [Seperti disemur] dan Tho’miah [ gorengannya Sudan] kerap menjadi menu setia. ‘Ashirr [Jus] 3 warna [Karikade, abrey, dan Asem Jawa]  menjadi pelengkapnya. Terlihat orang-orang sudah duduk rapi menunggu waktu berbuka. Subhanallah, sungguh indahnya suasana ini! Ramadhan telah menyatukan mereka dalam indahnya kebersamaan. Kaya-miskin, tua-muda, bersama menikmati hidangan dengan tertibnya. Berbeda dengan suasana didalam Asrama ketika berebut antrian. Mereka tampak bersahaja…

Selepas berbuka kami mendengar kabar dari remaja masjid, ternyata untuk malam ini Syaikh Muhammad tidak mengimami jama’ah Shalat. Beliau lagi safar diluar kota. Ya, sudah menjadi hal biasa bagi jama’ah masjid, karena kesibukan beliau yang super padat. Khususnya tatkala Ramadhan tiba. Beliau kerap mendapat undangan dari Negara-negara tetangga untuk mengisi kajian maupun menjadi Imam Shalat. Beliau kerap digantikan oleh adik-adik beliau yang juga merupakan qori’ Sudan. Subhanallah! Lagi-lagi saya harus berdecak kagum dengan keluarga qori’ dan huffadz ini. Bagaimanakah mereka terbesarkan dalam lingkungan yang cinta akan Al-Qur’an? Pendidikan yang bagaimanakah yang diterapkan kepada mereka?  Dalam benak saya iri, mengapa hingga saat ini saya belum hafal Al-Qur’an secara keseluruhan. Sungguh, kelalaian telah mengambil peran banyak dalam hidup saya yang telah berlalu. Ah, walaupun begitu tidak ada kata untuk terlambat, insyaAllah masih ada waktu untuk berbuat! Akan saya usahakan di sisa waktu yang ada untuk menghafal Al-Qur’an. Bismillah…

***
Menjelang Isya’, Seorang kakek tua dengan tongkat ditangan berjalan memasuki Masjid. Dengan langkah kecilnya ia berjalan menuju kursi yang biasa disediakan bagi para Jama’ah yang lanjut usia, maupun mereka yang tidak mampu untuk berdiri lama. Ia duduk satu shaf tepat dibelakang saya. Perawakannya yang lemah tampak tidak menyurutkan semangatnya untuk menghiasi ramadhan kali dengan membaca Al-Qur’an. Jama’ah masjid kala itu belum banyak yang datang, maka sangat memungkinkan bagi saya mendengar bacaan kakek tua itu walau tampak samar. Sesekali suaranya meninggi, lantas tenggelam dalam renungan. Dibantu dengan kaca-mata besarnya, ia membaca dengan terbata-bata. Ah, sungguh, pemandangan yang mengharukan bagi saya. Di usia yang selanjutnya ini, masih memiliki semangat yang tinggi. Dalam hati saya hanya mampu bergumam, wahai diri dimanakah dirimu dari sosok setua ini! Dimanakah dirimu, wahai pemuda, dari semangatnya yang bergelora, sementara dirimu masih sibuk dengan dunia? Dimanakah dirimu yang asyik melantunkan lagu-lagu kemaksiatan, dari dirinya yang sibukbermuhaadatsah [berkomunikasi] dengan firman Tuhan?

Hati saya berguncang. Tak mampu menyembunyikan malu yang ada. Hanya gemuruh hati yang lamban laun melahirkan tetesan air mata penyesalan. Tak tahu mengapa? Apakah ini akibat maksiat yang telah berkarat, ataukah kerasnya hati yang selama ini mengendap dalam diri. Sungguh, bacaan kakek tua itu menggugah jiwa...!!

[8 Ramadhan 1434 H]