Selembar Sajadah  

Posted by Unknown in , ,

Kepada siapakah satu tujuan hendak kubawa
Menanam benih cinta di lubuk
Telusuri jejak-jejak manusia pilihan
Mencari jiwa-jiwa semesta di terik sahara
Sedang hati gelisah, dan ingin berlari
Tinggalkan tumpuk onak berduri

Di atas dengus tanah aku terguling
Terus jatuh terus bergulir
Terus menuju tempat datar
Hingga sadarkan jiwaku yang kusam
Tentang mereka yang tegar
Berdiri, berjalan, dan berlari
Mencari negeri impian, negeri para nabi

Di sini walau keluh meribu
Walau jantung berdegup gemuruh
Embun sejuk senantiasa bersemi
Sirami hati hamba-Nya yang ingin kembali
Sang, pada-Nya meraba kasih

Taruhlah aku di padang pasir
Agar teruji haus dan laparku.
Layarkanlah aku di lautan
Biar terlihat mabukku
Baringkanlah aku di sisi-Mu
Dalam cahaya dan surga-Mu
Bersama mereka yang putih jiwanya
Genggam tangan dalam rangkul hangatnya

Selembar sajadah tempat bermanja
Tempatku meluntur duka
Kala ingin kusapa
Dhuha, senja, malam sepertiga
Bersama luka dan dahaga

Selembar sajadah tempat bersimpuh
Akankah menjadi saksi tempat mengadu
Kala ingin kubasuh
Peluh, keluh, sedu
Di atas sujud telimpuh

Jangan sembunyi dariku
Karena jiwaku ada dalam Engkau
Betapa langkahku mengejar jiwa-Mu
Betapa aku menunggu-Mu
Betapa jiwaku kehilangan kuasa

Ampunilah aku…


Khartoum, Sudan
11/11/10


Bila Larut Tiba  

Posted by Unknown in , ,

Bila Larut Tiba

oleh Muhammad Nur pada 04 November 2010 jam 18:51
Bila larut tiba, raut wajah sejuk terbayang
Kerinduan semakin dalam
Yang hinggap hanya sebuah penantian
Entah sampai kapan, dimana, dan bagaimana
Aku hanya terdiam  menghitung hari

Bila larut tiba, coba renung meraba kisah
Terus jalan dan berlari
Mengoleksi segala yang ditemui
Menggurat kenangan, menggores sejarah
Berteriak pada penjuru angkasa
Aku punya nama!

Suatu ketika aku berjalan
Dan bertemu kehidupan.
Lalu, aku bergegas mencari cermin
Dan berkaca pada diri.
Ada kerut di dahi
Ada tanya di hati
Siapa diri ini?

Waktu setia menggerus peluh
Saat ingin kuhadapkan satu harapan
Biarlah keringat mengering duka
Saat ingin kugapai sebuah impian
Lagu kedamaian akan tiba!

Beri aku kesempatan untuk meminta
Berpuluh, beratus, beribu keinginan tak kunjung usai
Melewati batas kesabaran
Hanyut di air deras pengharapan
Saat kusandang segala kejadian sendirian
Aku tengadah pada langit.

Kucoba katakan pada dengus tanah merah
Apa yang seharusnya aku lakukan
Saat cobaan menari di atas puing keluh
Saat bisikkan suara indah godaan bergemuruh

Bila larut tiba, izinkan aku memadu rindu
Pada-Mu, izinkan aku sujud telimpuh…



Khartoum, Sudan
04/11/10

Bidak Pengembaraan  

Posted by Unknown in , ,

Siang menerik membakar pusaran kepala
Sedetik, lalu hujan.
Garis-garis turun menancapi tanah,
Memukul lantak butir benih,
Memendamnya ke basah tanah merah,
Melarutkan penanam ke dalam mimpi terang bulan
Harum daun ladang keemasan

Masih kuraba pelita di kesunyian gempita
Hening sapa langkah kuku-kaki telusuri
Sejenak kata hangatkan gigil sepi
Saat kerinduan mulai meranum di padang gersang
Subur, walau peluh mengering perih

Masih kuraba terjal di liku jalan
Kukatakan pada langit
Pengembaraanku penuh tanya
Mencari napas dan denyut nadi,
Bahkan jasadku entah di mana!

Aku hapus jejakku
Di atas pasir gurun lapang
Permainan berjalan sudah
Aku jadi bidak di papan besar perjalanan

Kotak-kotak waktu harus dilalui
Bingkai dan bangkai peristiwa menanti
Terisi kapan, di mana, bagaimana,
Sementara, detak jarum berlomba dengan nadi

Bismillah...
Izinkan aku melangkah dan menepi
merangkai sejuta impian dan harapan walau peluh terik menghujan

Bismillah...
Izinkan aku mengeja semburat senyum syahdu
di gersang ilalang panjang dengan ayat keteduhan
Ya, Rabb! Ridhoilah langkahku


Muhammad Nur
Khourtoum, Sudan
16.00
10/10/10

Denyut Tasbih Di Padang Sujud  

Posted by Unknown in , ,

Di sini sunyi meski genderang bertalu-talu
Hening, meski jantungku berdebar keras
Menyuarakan ruh-Mu, tak ada gema,
Tak ada suara, aku hanyut di padang luas.
Segalanya melebur di kesunyian ilalang panjang

Kapan semua harapan kucapai?
Kapan aku tidur dengan damai?

Aku tundukkan dalam hening sujudku
Bersama nafsu hati, ‘tuk segera larut
Di dalam kedekatan-Mu
Kucium sajadahku dalam malam sunyi
Seperti ingin kureguk nikmat cahaya-Mu
Yang menelusup di relung kalbu.

Kini mimpi itu datang, menjemputku di ujung hari
Saat harapan yang dulu sempat menawan
Saat cita itu sempat pergi dan enggan kembali
Engkau tunjukkan kuasa-Mu di terik keculasan
Menyapa dari tirai kehampaan
Lihainya Engkau membolak-balikkan hati!

Cinta, cita dan harapan
Peluang dan kesempatan mengawan di dinding hati
Meraup sejuta impian di tanah kenabian
Kini, di laman sejuta arti
Tak kusangka ia datang membawa kabar gembira
Satu rasa menyelusup rongga jiwa

Terlampau banyak kenangan yang terkumpul
Waktu yang ada hanya cukup untuk memperbaiki
Segala yang disebut salah
Sampai nanti detik terakhir
Sehingga tak ada pengabdian percuma
Karena setiap waktu adalah pengorbanan

Jika aku dapat terbang ke langit,
Akan kurengkuh kuasa-Mu
Jika dapat kukejar bayang-Mu di bumi,
Akan kuraih tanah bekas tapak-Mu
Tapi, diri-Mu adalah penguasa
Yang kuasanya ada di mana-mana

Ingin Aku mengulang, lembar hidup dari awal
Ingin membasuh, segala hitam yang nodai imam
Ya Allah, izinkan aku meneguk pelita kasih-Mu!
Ya Rabbi, lingkupi aku dengan dekapan cinta-Mu!
Di setiap rukuk dan sujud
Ilahi, biarkan aku jadi milik-Mu!


Ku dedikasikan kepada saudara/iku di bumi perjuangan, dalam meraih mimpi dan harapan. Agar senantiasa tawakkal di bawah naungan kasih-Nya. Agar berpegang teguh dan bersabar meraih cita yang tertunda. Karena peluang dan kesempatan pastilah ada di setiap denyut tasbih menjalankan titah-Nya. Ingatlah selalu sapa-Nya, Wa man yataqillah, yaj'allahu makhraja wa yarzuqu min haitsu laa yahtasib. Dan barang siapa bertawakkal, Ia akan memberi jalan keluar baginya dan rezeki yang tak terduga.
Wallah A'lam Bishowab.

Muhammad Nur
Sampali
18/09/10

Di Sudut Selakar Kerinduan  

Posted by Unknown

Pernahkah kau coba menerka
Apa yang tersembunyi disudut waktu
Meneguk embun kerinduan dalam dada
Mengeja hitam putih dalam hati


Sebait ini kulukis sejuta pesona
Yang sempat merona dalam jiwa
Tentang mereka yang tersudut di ujung senja
Tentang mereka yang terbias dalam pelangi peristiwa
Tentang mereka yang mengurung ditempurung selaksa
Masihkah enggan kau hiraukan?


Terbersit bayang-bayang damai disudut matanya
Meledak dalam telaga kerinduan
Ia  berdiri tegak di atas bukit mimpi
Mengharapkan awan tersisa sehabis hujan membasahi
Menantikan sebuah nama yang melaman cinta-Nya

Selama musim belum bergulir
Sejauh batas pengertian
Jaring kebekuan cinta tersekat di dinding kepongahan
Acuh di atas kebimbangan

Kulihat tetapak seberkas ladang kehidupan
Memopoh tubuh kecil dan membungkuk
Menggenggam ilalang menyeruak
Ah, kau pasti terhenyuk
Melihat senyumnya yang meliuk
Indah…, sejuk….

Tidakkah kau mendapati ia
Bersenandung bersuling bambu
Sorot mata dalam menyimpan rindu
Pernahkah kau mencoba membaca?
Genderang pepadi yang ia tabuh

Masih ada waktu saling membuka diri
Lihatlah sejenak ranum pesona
Di syurga selakar ini
Bersinggahlah, saat kau gundah
Menghirup sejuk embun pagi
Merasakan hangat mentari
Menjejaki tanah di kaki bukit ini.

Nb:Terinspirasi setelah mendengar Lagu Ebit G Ade "Cinta Sebening Embun"
mengobati kerinduan pada hijau suasana di Simpang Selakar.

Mahmoud Al-Amir 
Sabtu, 28/08/10

Muhasabah Ramadhan 06: Perjalanan Senja  

Posted by Unknown

Perjalanan ini membawaku pergi jauh
Hilangkan sejenak keluh yang mengusik
Di dinding hati

Ilalang menyeruak di tepian jalan
Gembala kecil bersenandung riang
Saat kupandang lamat sejuk mentari di penghujunghari
Ah, bayang-bayang kerinduan itu!
Terlukis senyum yang kau goreskan
Kasih pun mulai deras mengalir
Cemerlang sebening embun
Sungguh indah...

Aku mencari jawaban dilangit
Adakah disana?
Saat menyusuri
Saat ingin kuterjemahkan waktu
Ingin ku melumat rasa
Tentang arti senyum indahmu diselakar ini
Tentang arti hitam putih yang terpancardipelangi mata
Adakah sorot mata menyimpan rindu
Sejuta kenangan yang sempat terlupakan
Sejuta impian
Sejuta harapan

Waktu telah lama memisahkan kita
Saat ku tak mengenal kisah tentang dirimu
Saat ku sadari tersirat makna yang tak mampu terucap
Saat lalu yang telah terlewat
Saat inilah ingin kuungkap segala hasrat

Sketsa kehidupan yang telah terlukis
Memberikan isyarat padamu tentang manis dan masam
Saat angin mendengus peluh, kau hilangkan sejenak keluh
Bila masih mungkin  kutorehkan bakti
Atas nama jiwa tulus dan ikhlas
Hanya dengan ukiran jiwa diatas kertas ini kumampu
Untuk tuliskan semua kisah tentangmu

Senja....
Mampukah ku bertanya?

Pada angin yang berhembus
Tentang arti keikhlasan
Pada liuk rerumpun yang bergoyang
Tentang arti kerendahan hati
Pada hitam jejalan yang menyusur
Tentang arti pengorbanan diri
Pada hijau gegunung yang terbentang
Tentang arti perjuangan

Benang-benang merah merajut kerinduan pada suatu masa
Ah, hanyalah waktu yang dapat menjawab
Gejolak hati yang terjerat
Disemak kerinduan yang membuncah
Di perjalanan senja ini
Mampukah terjawab semua pertanyaan itu?

Gunung Sinabung
Simpang Selakar: Nama desa di Kaban Jahe

Catatan: Saat dalam perjalanan menuju Kaban Jahe
menikmati pesona alam di senja hari Gunung Sinabung

Mahmoud Al-Amir
24/08/10

Muhasabah Ramadhan 05: 'Amma?  

Posted by Unknown in , ,

'Amma? '
Tentang apakah?
kita bertanya-tanya
Saat tanda-tanda kekuasaan membungkam kedustaan
Saat risalah menjadi penerang jalan
Saat petunjuk telah bersemi
Saat karunia telah diraih
Saat kasih telah berbagi

Lantas, untuk apa kita berselisih?!

Tidak!, sekali-kali tidak!
Kelak kita akan mengetahui
kehidupan itu hanya tempat bersinggah diri

Ah, adakah mereka menyadari fana itu?
Kala busur-busur syaithan membidik
Suara-suara berbisik
Melumat sesisip pelita dihati
Membuai dengan mimpi sepi
Hampa dengan makna dan arti

Tidakkah hening suara adzan berkumandang,
menjadi tanda!
Bahwa,
Kemenangan nian datang dihati hamba-Nya
yang membersihkan diri dari sgala yang usang
;hasad, dengki, iri, batu penghalang
Jelas sudah, keberuntungan itu datang
Afalaa...tatafakkaruun?

Tidakkah alam telah menjadi saksi
kebiadaban makhluk yang terpuruk
di jurang kenistaan, yang telah abadi
;Fir'aun, Tsa'laba, wal Qorun
Ibrah untuk kita hayati
Afalaa...tatadabbarun....?

'Amma?
Maka, tentang apakah lagi yang kita pertanyakan?
Kini, keampunan telah datang
Barakah telah terbentang
Untuk kita yang menyadari hakikat ramadhan

Fabiayyi 'aalaa i Robbikumaa tukaddzibaan?


Vocabularies:
'Amma: Tentang Apakah?
Afalaa tatafakkarun: Tidakkah kau berpikir?
Afalaa tatadabbarun: Tidakkah kau mengambil pelajaran?
Fabiayyi 'aalaa i Rabbikuma tukaddzibaan: Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?


Surah Annaba', Ayat 1-5

Mahmoud Al-Amir
18/08/10
[8 Ramadhan 1431 H]

Muhasabah Ramadhan 04: Melepas Resah  

Posted by Unknown in , , ,

Demi malam apabila menutupi; cahaya siang
Adakah kedamaian itu datang, kala hati ini gersang
Kembali kumerangkai berbata asa
membangun keabadian jiwa merangkai cinta-Nya
Ah, keresahan ini membidik qalbu
enyahlah, ditelimpuhku memaut rindu

Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?

Lantas, mengapa kini kumenjauh
Jarak dan waktu telah memisahkanku dari keheningan
hati yang lalai
jiwa yang terkulai
malam-malam terbuai
menepi kehampaan diteluk sepi
Ah, keresahan ini merentas lini
penyangga, menopang diri

Dan Kami pun telah menurunkan bebanmu, darimu,
yang memberatkan punggungmu

Saat tersadari jamah-Nya
Sesisip embun melumat ubun-ubun
Dan rasakanlah, Ia sedang bersamamu
Menuntun leliku manhaj
Memupuk benih-benih hasrat
Membimbingmu dengan ayat-ayat
Menabuh kasih dipenghujung malammu

Ah, kesusahan itu bukanlah resah!
Dan tidakkah kau tahu tentangnya
Tentang hati yang semesta jiwanya
Tentang arti yang menyamudera maknanya
Tentang diri yang tersandang cinta-Nya
Himada, Sang penggenggam hujan

Sesungguhnya bersama kalutmu ada kemudahan
dan hanya kepada Tuhanmulah engkau merajut harapan
Maka, enyahlah resah!
Ramadhan telah tiba, penuh keampunan


Surat Al- Insyirah 1-8

Mahmoud Al-Amir
17/08/10
[7 Ramadhan 1431 H]

Muhasabah Ramadhan 03: [Halaqah dipagi hari] Fungsi Hidup Muslim Sebagai Khalifah  

Posted by Unknown in , ,

Dan (Ingatlah)ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifahdi bumi". Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusakdan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu danmenyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidakkamu ketahui."(Al-Baqarah, ayat-30)

Saudaraku!. Ada banyak pertanyaan selepas halaqah pagi ini yang berkeliaran di pikiran.Tentunya, tidak lari dari mempermasalahkan eksistensi diri kita sebagai khalifah. Dewasa kini, konflik internal dalam kepemimpinan sering kali menghiasi ranah pemikiran kita. Bahkan, terjadi perdebatan disana-sini yang sampai sekarang belum ditemukan titik temunya. Sistem demokrasi yang berjalan, tidak seperti yang diharapkan, dan cenderung didasari kepentingan politik semata, tanpa adanya maslahat umat didalamnya. Nah, dari sini telah tampak, bahwa, demokrasi yang kita usung masihlah lemah untuk dijadikan panggung  kepimpinan negara yang bermayoritas muslimin ini. Kegelisahan yang menggunung, seakan siap-siap meletus kapan saja, melihatkondisi yang tak karuan ini. Maka tak salah jikalau diawal penciptaan kita, malaikat bertanya sebagai pelajaran awal demokrasi yang diajarkan Allah melalui dialog-Nya dengan malaikat ketika akan menciptakan Adam. Malaikat bertanya sebagaimana ayat diatas "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak danmenumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikannama-Mu?"
Dalam kajian yangsaya ikuti pagi ini, pertanyaan kritis malaikat tersebut banyak yang menanggapidengan pandangan yang berbeda-beda, yang pada kesimpulannya terangkum dalam 3 poin berikut:

1. Di awal penciptaan manusia-Adam. Dialog yang tertera diatas bukanlah disebabkan lemahnya kekuasaan Allah dalam bertindak. Pastinya kita bertanya, dengan kekuasaan-Nya, apa yang tidak dapat ia lakukan dan kehendaki. Lantas, mengapa diadakannya dialog tersebut. Ternyata itu adalah Isti'lam-pemberitahuan-kepada malaikat dan iblis ciptaan-Nya, bahwa akan diciptakan-Nya makhluk termulia yang belum pernah ada sebelumnya. Sebuah pengakuan, dan eksistensi sebagai makhluk yang mendapat amanat sebagai 'khalifah' di muka bumi. Dari sini, ada pelajaran penting bagi kita yang ingin menjadi pemimpin, bahwa, sebagai pemimpin hendaklah transparan dalam mengambil keputusan. Memberikan pengakuan, pengukuhan terhadap keputusan yang telah ditetapkan, siap menjadi benteng dan tulang punggung apabila terjadi kekhilafan sewaktu-waktu. Itu jelas dengan adanya pernyataan Allah "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."  Nah, pastinya Allah telah menjamin apa yang akan terjadi setelahnya. Walaupun realitanya kita banyak mengingkari apa yang telah diamanatkan sebagai khalifah untuk sekarang ini. Dengan banyaknya kerusakan yang kita lakukan, Ia masih saja memberikan banyak peluang, rezeki, dan karunia lain yang masih dapat kita rasakan untuk saat ini.

2. Dari pertanyaan Malaikat di ayat ini. Tampak bahwa, Allah ingin mengajarkan bagaimana sistem demokrasi yang baik itu. Mengajarkan kita untuk berpikir kritis menyikapi segala hal, pastinya sesuai dengan rambu-rambu yang jelas. Yakni, dengan adap dan kesopanan. Tidak dengan kekerasan dan prilaku anarkis seperti yang terjadi dewasa kini. Mengawali dengan menjalankan kewajiban sebelum menyuarakan hak. Lihatlah! malaikat bertanya dengan mengutarakan kepatuhan yang selama ini telah dilakukannya. Rasa penasarannya terhadap makhluk yang bernama khalifah yang akan diciptakan Allah, menimbulkan pertanyaan kritis dengan adanya makhluk-makhluk lain sebelum penciptaan Adam, yang lebih dulu yang sempat memberikan gambaran bagi malaikat untuk meragukan makhluk berwujud manusia ini. Dengan kerusakan-kerusakan yang telah diciptakan Allah sebelumnya. Makhluk seperti apakah itu? Wallahu a'lam. Kekhawatiran malaikat lantas disambut dengan baik oleh Allah. Dan jikalau dilanjutkan ayat diatas dengan ayat selanjutnya. Jelaslah, bahwa malaikat menerima dan mengakui kelebihan yang diberikan Allah terhadap manusia, yang tidak dimiliki oleh makhluk Allah lainnya. Yakni, akal. Sebagai pembanding dan penuntun jalan hidup yang kerap kita pergunakan. Nah, kalau saja kita mengawali kewajiban-kewajiban kita terlebih dahulu sebagai bangsawan sejati, dan menyuarakan hak-hak yang memang sepantasnya dimiliki. Dan sebagai pemimpin pula, hendaklah menerima masukan dan suara tersebut. Maka, besar kemungkinan agama, bangsa, ini akan senantiasa diliputi kedamaian. Perselisihan pun dapat diminimalisir.

3. Dari kekhawatiran malaikat yang timbul di atas. Bahwa manusia akan melakukan perusakan dimuka bumi. Kalaulah ditinjau dari bahasa arab yang tertera di ayat, tampak bahwa kekhawatiran dan pengrusakan tersebut diawali dengan fi'il Mudhari', yang berarti akan dilakukan. Nah, dilihat hingga akhir kekhawatiran itu, setidaknya malaikat mengharapkan adanya pembenahan dan pensucian. Coba kita simak urutan fi'il mudhari yang tertera di ayat tersebut (kalau bisa dengan Qur'an tarjamah). Kata Yufsidu (merusak), Yasfikuddima'(menumpahkan darah), nusabbihu (memuji), nuqaddisu (mensucikan). Keempat kata mudhari' di atas seakan urutan yang menunjukan adanya keseimbangan hidup. Diawali dengan merusak, menumpahkan darah, memuji, dan mensucikan, kita diajarkan tentang keseimbangan. Bahwa, setelah melakukan suatu keburukan hendaklah diakhiri dengan kebajikan. Kerusakan diakhiri dengan perbaikan, dan bukan untuk formalitas saja. Subhanallah, sungguh tersirat makna mendalam yang sangat luas.

Yang menjadipermasalahan sekarang adalah, Sudahkah kita menyadari derajat kita sebagaikhalifah? Sudahkah kita tahu apa makna khalifah itu? Siapa-siapa sajakah yangmengemban amanah sebagai khalifah? Apa visi dan misi khalifah itu? Nah,pertanyaan-pertanyaan di atas hendaklah kita tanggapi bersama.

I. Menyadari eksistensi sebagai khalifah

Khalifah, berasal dari kata khalafa-yakhlufu-khilafatan, yang berarti menggantikan. Di masa kenabian istilah ini sering dijadikan sebagai derajat kepemimpinan, yakni, sepeninggalan Nabi Muhammad SAW. Kalau kita ingin mendalam lagi, dari kalimat ini dapat di ubah ke berbagai macam bentuk fi'il (kata kerja) dan ism (nama), yang pada akhirnya akan kita temukan makna berikut, Khaalafa (menyalahi),Mukhaalafah (tak setuju), takhallafa (tertinggal), Ikhtalafa (berselisih), Khilaaf ( perselisihan, kesalahan)-Kamus Prof. Dr. H.Mahmud Yunus dll. Nah, dari sini terlihat beragam makna yang tercipta dan kalau kita hayati bersama,ternyata khalifah itu sendiri adalah makhluk ciptaan-Nya yang penuh dengan perselisihan, saling menyalahkan, dan persaingan. Jelas terlihat kalau tidak berselisih dan bersaing, maka akan tertinggal-takhallafa, dan pastinya kalau saja  hal tersebut tidak secara baik ditanggapi akan mengakibatkan perselisihan-khilaaf-antar sesama. Tak salah Allah mengatakan: Fastabiqul Khoirat, saling berlomba-lombalah. Lomba yang bagaimana? Maka, berlomba-lombalah dalam kebaikan.

Dalam ayat lainAllah menuturkan (maaf lupa ayat dan suratnya) bahwa, "Hendaklah manusia memakmurkan bumi dan apa yang di dalamnya (Wasta'marakum fiiha)". Memakmurkan dalam artian membenahi bumi dengan utuh, tidak setengah-setengah. Tidak untuk memanfaatkan bumi dengan ambisi individualnya. Khalifah yang dalam pengartiannya hampir sama dengan Ra'in (pembimbing) sebagai mana dalam hadisrasul mengatakan:

كلكم راع و كلكم مسؤول عن رعيته
(Setiap kamu adalah pemimpin, dan sepantasnya bagi seorang pemimpin bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya)

II. Siapa saja yang menjadi khalifah?

Siapa saja. Namun, dalam konteks ini lebih dikhususkan kepada kita-muslim. Karena perankhalifah itu adalah semata-mata untuk mengemban amanah dari-Nya. Mengapa tidakkepada Non-muslim? Jawabannya karena mereka telah lari dari konteks keislaman.Kalau kita kembali kepada hadis rasulullah yang mengatakan bahwa "Sesungguhnya bani Adam itu dilahirkan (adalah) dalam keadaan fitrah". Namun karena telah teridentifikasi oleh ayah dan ibunya, yang mungkin bukanlah kaum muslim, maka, tidak lagi terimbas kepada mereka. Bahkan orang atheis (tidak mengakui adanya tuhan) sekalipun. Jikalau kita lihat, secara spontan, tatkala mereka terkena musibah atau terkejut, mungkin dari kalangan dari non-muslim sekalipun, akan sesekali mengatakan "Oh My God, Oh, God."dll. itu menandakan bahwa fithrah manusia tidak dapat terbohongi, dan mengakui adanya Tuhan-Allah- yang telahmenciptakan.

Baik laki-lakiataupun perempuan, akan mendapatkan jatah yang sama, dengan syarat: Mukmin/ahTak diberatkan bahwa kaum lelaki saja yang selayaknya menjadi pemimpin. Perempuan juga dapat menjadi pemimpin apabila kadar keilmuan mumpuni dan dalam konteks yang telah ditentukan. Seperti kalau dalam kenegaraan, wanita dicukupkan kepada menjadi pemimpin daerah atau kelompok yang komunitasnya tidakharus melebihi suatu negara. Bukan maksud untuk mendeskritkan kaum hawa, namunbegitulah ketentuan yang telah Allah atur kian hari. Karena disatu sisi, adahal yang lain-dari wanita- yang tidak dapat saya ungkapkan untuk sekarang ini(karena minimnya pengatahun, dan insyaAllah akan didalami lagi) yang selayaknyalebih difokuskan kepada keluarga. Dari keluarga inilah yang selebihnya akanberdampak kepada kinerja bangsa dan negara. Wallahu A'lam.

III. Visi& Misi Khalifah

Dalam garisbesar, visi khalifah ialah mengemban amanah Allah untuk menjalankan segala tuntunan dan syari'at-Nya. Untuk beribadah kepada-Nya semata. Dengan mengajarkannya kembali kepada antar sesama tentang keseimbangan hidup yang pastinya tidak terlepas dari pada kepemimpinan yang telah tertera di surat Al-Baqarah, ayat 30 diatas.

Misinya adalah untuk memakmurkan bumi dan apa yang ada didalamnya. Memakmurkan dalam artian, tidak sesekali merusak, dan membuat kerusuhan-kerusuhan. Walaupun menilik defenisi awal khalifah itu sendiri yang tak terlepas dari pada perselisihan.

Dan untuk mendalami apa, siapa, bagaimana, khalifah itu. Mohon koreksian saudara & sahabat pembaca, untuk melengkapi pemaparan yang saya dapat hasil halaqah pagi ini. Semoga menambah keimanan Ramadhan yang cerah ini. Semoga bermanfaat!

Wallahu A'lam Bishowab
Wassalam.wr.wb

By. Muhammad Nur
16/08/2010
(6 Ramadhan 1431H)


Muhasabah Ramadhan 01: Kalla!  

Posted by Unknown in , , ,

Kalla!
Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas
Ingatkah kau!
Luka bersama mana yang kita cari,
Hidup jauh sudah mengemudi sepi
Kita lamat bersemedi di kukung ambisi
Sudahkah kau merasa cukup?
Ataukah enggan melirik nuranimu yang telungkup

Kalla!
Sungguh, hanya kepada Rabbmulah tempat kembali
Mampukah kau!
Telah tersemat dipundakmu amanat..
Khalifah, itulah setinggi-tinggi derajat
Kita lamat berkutat di dinding berlumut
Mencari jalan panjang yang masih berkabut
Sudahkah kau merasa cukup?
Ataukah buta; mata, telinga, mulut terkatup

Bismillah...
Kulangkahkan kaki menuju ridho-Mu
Kala mata tak mampu meraba, di bulan penuh barakah
Menyisir hikmah yang terselip dipintu Maghfirah-Mu
Adapun keampunan itu, akankah bersinggah?
Pada kesekian kalinya ku menumpuk dosa
Pada kesekian kali pula hasrat taubat bergelora

Walhamdulillah...
Dan kini semakin ku meraba
Merasakan titik nadir alfa dan beta
Di Ramadhan, ruang muhasabah
Menyenandung rindu kasih-Mu
Moga, dalam telimpuh mendapat ridho-Mu



Surat Al-Alaq, Ayat: 6-8
Mahmoud Al-Amir
13/08/10

Muhasabah Ramadhan 02: Munajat Subuh  

Posted by Unknown in , , ,

Segala puji bagi-Mu, Allah, Rabbal izzati..
Iyyaaka..., telimpuh ku menghamba diri
Iyyaaka..., kukutip malu lewati onak deduri
Di ambang subuh, kusebut nama-Mu yang tersepuh kabut
memadu benang-benang kerinduan di padang sujud

Hanya bukti sepi; kokok ayam pun seakan menganyam sisa luka
tertegun, ketika embun yang merayap ubun lebih membakar dari api
ah, masihkah gelap ini berdiwana dalam sepiku yang membeku melintasi batu?

Demi fajar, demi malam apabila berlalu...
Kutitipkan hati yang selalu bergemuruh
Di pancuran, aku basuh tubuh
;menabuh kembali riuh yang mendengkur jauh..
mengingat-Mu dalam kuyup rindu

Tetapi seribu ranjau menjebak jejakku
begitu langkahku bergerak,
nama-Mu menggelegak,
meledak!

Katakanlah, "Aku berlindung pada Rabb yang menguasai subuh
Itu sapa-Mu di penghujung gelisah kumeraba bisu
dari gulita malam,
dari hasud membungkam,
dari buhul-buhul yang menghujam

Aku pun mulai mengeja dan merangkak
menanam benih-benih munajat
obati hati yang liat, lamat, dan tersekat
dengan ambisi membengkak

Ya Allah, anugrahkanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu
yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepada-Mu
dan anugrahkanlah kami keberkahan di bulan keampunan
Moga kami senantiasa menjalankanperintah dan amanat-Mu
Sebagai Ummatan Wasathan, menegakkan syariat-Mu


Surat Al-Fajr 1-4, Al-Falaq 1-5

Mahmoud Al-Amir
15/08/10

Ber-iqra' di Hira'  

Posted by Unknown in , ,


Iqra’!, Bacalah…
Suara itu menghentak keheningan
Angin menderu, membentur bebatuan beku
Untuk pertama kalinya ia bergumam
pekik ketakutan menghujam
Diam
Bungkam
Sunyi
Hanya desau angin yang menemani

Iqra!, Bacalah…
Kembali ia mengeja malam
Cinta? itukah harapnya?
I’tikaf hening batu sunyi di Goa Hira
Cahaya memintal jaring laba-laba
Suara itu kembali, pekak...
Galau jiwanya pada dinding-dinding
Semakin tenggelam diterkam hening
Siapakah gerangan?

Bingung..
Dalam kemurnian jiwanya ia papah
Tak tahu harus berbuat, maupun berkata
Buta?
Ah, bukankah ia utusan-Nya?
Mengapa harus bertanya?


Iqra’! Bacalah…!
Dengan menyebut nama Rabbmu yang menciptakan
Manusia, dari segumpal darah


Lantas? mengapa sekarang kau dustakan?
Bangga dengan keegoisan

Iqra’! Bacalah…!
Dan Rabbmu lah yang Maha Mulia
Mengajari manusia dengan pena, dan tidak diketahuinya


Lantas? Mengapa sekarang kau nistakan?
Berkubang dilembah kejahiliahan


Ingatkah...
Malam itu semesta berdzikir
Sejarah terukir
Daripadanya risalah dibawa
Daripadanya wahyu terjaga

Tubuh gigil pun meringkuk
di keheningan hiruk pikuk,
Jiwanya
Sang lelaki semesta

Ingatkah kau senandung iqra'
dimalamnya hira' bersamanya?

SEBUAH SANDIWARA TENTANG KITA  

Posted by Unknown in , ,

"Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpahnya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjaan” (Yunus [10] : 12)

Saudaraku, betapa hati ini meradang membaca ayat diatas. Begitu jelasnya sindiran yang terlukis dalam ayat tersebut kepada kita yang selalu saja melalaikan karunia-Nya yang tak terhitung banyaknya. Betapa malunya diri ini yang kerap mendustakan ayat-ayat-Nya. Saat diri kita lebih sering meminta daripada menjalankan perintah yang telah diamanahkan. Ketika musibah-musibah datang, bahkan terlalu kecil untuk seukuran cobaan yang diberikan Allah kepada para rasul-Nya. Kita begitu lihainya menjadikan diri bagaikan kapas yang dihembus angin pagi. Lemah, tanpa daya. Mengharapkan adanya ruang yang mampu menutupi dari sepoinya angin tersebut. Saya ibaratkan angin dipagi hari, karena sejatinya, angin itu berhembus sejuk, menentramkan, bahkan menyehatkan tubuh. Namun karena memang dasarnya kita kerap bersandiwara, maka bukan hal aneh lagi kita juga lebih sering bersandiwara menyikapi cobaan dan musibah yang menimpa. Yang pada hakikatnya justru melemahkan potensi jiwa agar tegar dalam menyikapi apa yang terjadi. Malah sebaliknya, tatkala kita telah dijauhkan dari bahaya, juga musibah yang datang. Seakan kita tidak menyadari sikap yang dulunya mengiba. Kita menjadi budak nafsu dan ambisi. Serta menjauhi bimbingan-Nya yang dulu kita harapkan.


Saudaraku, saat merenungi ayat ini, tidakkah kita menyadari betapa peringatan-Nya itu menjadi suatu bukti kelalaian kita?. Lalai akan perjanjian yang setiap shalat kita ucapkan. "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, hanyalah kepunyaan Allah semata". Ya, seluruh aktifitas yang kita lakukan adalah sebuah karunia yang terbesar agar kita melaksanakan titah-Nya dibumi ini. Sebagai khalifah tentunya. Tidakkah kita ingat hadist rasulullah yang mengatakan bahwa salah satu ciri orang munafik itu adalah orang yang mengingkari janji-Nya. Kita lebih sering mengingkari nikmat-Nya dari pada harus mensyukuri. Bahkan yang lebih hina lagi, kita kerap menghardik Sang Rajjaq atas kurangnya rezeki yang telah diberikan. Nau’dzu billahi min dzallik!

Saudaraku, bukan niatan ingin menggurui ataupun melangkahi amal yang tidak seberapa ini. Bahwa yang tertulis ini belumlah sesuai perbuatan yang diamalkan. Sekedar menjalankan keharmonisan kita sebagai hambanya, sebagai makhluk sosial. Saling mengingatkan antar sesama, dalam kebaikan dan kesabaran. Bukankah itu perintah Allah juga? Tapi itulah, walaupun dalam ranah saling mengingatkan. Setidaknya diri ini haruslah berbenah diri pula. Takut akan ucapan Allah yang mengatakan bahwa, "Ia sangat membenci hamba-hambanya yang bermulut besar". Kabura Maqtan; berbicara tanpa dilandasi perbuatan. Maka tulisan ini pula setidaknya menjadi motivasi diri ini agar terus berbenah dari setiap perbuatan yang berlalu. Agar lebih baik dan lebih baik lagi. Seperti Hadis Rasulullah mengatakan, “Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, ialah orang yang beruntung.”

Saudaraku, insan sejati yang diliputi damai dihatinya. Ada satu kisah, dua orang yang berjalan menuju taman. Keduanya menyaksikan sekuntum mawar indah di tangkai. Salah seorang dari mereka ingin memetik mawar tersebut, dan ia terkena tusukan durinya. Ia pun berkata pada dirinya, “Betapa keras dan sudahnya kehidupan, bahkan mawar pun dikelilingi oleh duri sehingga kita tidak dapat menikmatinya”. Sementara orang yang kedua berkata, “Bagi Allah lah segala kehidupan, betapa elok dan manisnya kehidupan, bahkan duri pun diletakkan di antara mawar nan anggun memesona.”

Begitu pula ketika kita dihadapkan kepada sebuah cangkir yang diisi air hanya setengahnya saja. Seseorang yang berbagia akan mengatakan, “Sesungguhnya cangkir itu penuh hingga sampai setengahnya.” Seorang yang lain yang tidak berbahagia akan mengatakan, “Sesungguhnya cangkir itu kosong sampai setengahnya.” Demikian perbedaan manusia dalam mempersepsikan kehidupan. Segala sesuatu pastinya memiliki sisi indah dan buruk. Nah, sekarang tergantung bagaimana kita mengambil sikap? Hendak yang berbahagia, atau sebaliknya, yang mengeluh akan kehidupannya. Kebahagiaan merupakan seni menikmati apa yang kita miliki, berpikir tentang keindahan hidup dan menjauhkan aspek yang buruk. Bukanlah kebahagiaan itu hanya dengan kepemilikian, akan tetapi ia terletak pada bagaimana menggunakan apa yang kita miliki dengan cara yang baik dan benar.

Bila kehidupan kita jauh dari kesengsaraan dan penyebab-penyebabnya, maka jangan katakana, “Saya tidak susah”, tapi katakanlah, “ Saya berbahagia.” Janganlah sampai kita mengatakan, “Sesungguhnya sebagian hidup saya kosong (seperti cangkir di atas)”, tapi katakana, “Sesungguhnya sebagian kehidupan saya penuh”. (Dr. Muhammad Fathi, Falsafah As-Sa’adah)


Maka janganlah kita jadikan sandiwara kehidupan kita menyikapi segala musibah, bagaikan mengangkut beratnya bumi. Pastikan bahwa semua ada hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil. Begitu pun kita haruslah tetap menjaga integritas kita terhadap janji kita kepada Allah. Bahwa kita akan tetap menjalankan amanahnya walau bagaimana pun itu. Jadikanlah ayat diatas sebagai peringatan bagi kita agar selalu konsisten menunaikan perintah-Nya. Sebagai motivasi diri agar menjauhi sikap otodidak memainkan peran sebagai muslim/ah dan mukmin/ah. Agar tidak termasuk hamba-hamba-Nya yang melampaui batas. Serta menyadari segala keburukan yang kita perbuat, agar tidak menjadi sebuah kebiasaan yang menyatu dalam jiwa kita. Karena amal yang buruk yang dikerjakan berulang-ulang akan menjadi baik (menurut dirinya). Tanpa menyadari bahwa itu justru memperburuk hubungan horizontal dan vertikalnya.

Ya Rabb, teguhkanlah iman kami. Sejukkanlah hati kami dengan embun kasih-Mu. Tetapkanlah hati kami pada agama-Mu, wahai zat yang membolak balikkan hati. Amin Ya Rabb..


Wallah A'lam Bishowab!!

CATATAN SANTRI PEMIKIR
Mahmoud Al-Amir
26/07/10

Jiwa Semesta  

Posted by Unknown in , ,


Ia berdiri memandang langit
Saat Kau titahkan ayat-Mu
Tentang nafas kehidupan dan cakram warna
Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus; maka ikutilah dia

Itu kata-Mu pada sebilik hati yang jenuh
Pada setangkai jiwa yang keluh
Padaku, pada diri yang lalai angin syurga-Mu
Adakah aku bersamanya di jalan-Mu?

Ia, berdiri memandang laut
Saat Kau titipkan padanya satu isyarat
Tentang semu dunia dan fatamorgana
Harta, istri, dan anak, sebagai amanah
Dan bahwa, itu adalah perhiasan kehidupan dunia..


Itu kata-Mu padanya yang selalu merendah
Pada hati semesta, seluas samudera
Adakah aku bersamanya dalam cinta-Mu?

Kau mengingatkanku tentang sebuah makna
Tentang sebuah hati dengan warna tak sama
Untuk teladani mereka yang semesta jiwanya
Agar ikhlasku,laksanakan perintah-Mu
Dan ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu,
dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk


Kau janjikan pelita-Mu menyertai
Terangi hati walau perih
Dan tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyembah
Kau yang menciptakanku, dan hanya kepada-Mulah ku pasrah
Dan ingatlah juga, tatkala rabbmu memaklumkan;
Jikalau kau bersyukur, pasti Ia menambahkan


Maka ajarkanlah aku ikhlasnya
Keikhlasan seorang hamba yang merindu Rabbnya
Di setiap telimpuhku menghamba, agar tenang jiwaku bersama
Jiwa-jiwa semesta
Yang padanya ku mengingat-Mu
Yang padanya ku merindu-Mu


Maka tunjukanlah aku jalan-Mu yang lurus
Jalan yang tidak ada keraguan padanya
Jalan orang-orang yang telah Engkau ridhoi karunianya
Petunjuk bagi mereka yang bertakwa
Dan bukan jalan mereka yang termurka
Bukan pula jalan mereka yang menghamba durja


Mahmoud Al-Amir
26/07/10

Merindu-Mu di ufuk senja  

Posted by Unknown in , ,

Telah lama ku memendam rasa rindu ini
Mencari sebuah makna yang terselip disetiap pandangan
Menyisir onak duri yang terselip meradang
Pada-Mu, pada hati yang rindu kasih-Mu

Bening tetes embun ini
Sejuk hati mengandai indahnya mentari di pagi hari
Dalam renung mencari sebuah arti
Dalam renung melambai kasih Ilahi
Ku temukan lantunan sepoi angin yang berbisik
Untuk mencapai ridho-Mu, ridho Sang Khaliq
Untuk merindu-Mu selalu dalam hela nafasku

Kini, awan hitam menjamah senja
Semakin rindu itu kurasakan
Dalam telimpuh malu, ku rajut sejuta rindu bergemuruh
Ingatkan diri dari sesalnya dosa
yang selalu kembali, hingga ku tak tahu
" bagaimanakah?

Indah ayat senandung senja
Berlari dari bayangan hitam laluku
Tuk iringi langkah dengan dalat kuasa-Mu
agar mantab jiwaku, lewati perjuangan panjang
Dalam naungan kasih-Mu

Ketika aku merindukan-Mu
Menanti sebuah jawaban
Di ayat-ayat dalat kuasa-Mu
Kudapati satu arti yang padu
Bahwa Kaulah, Arti itu...

Mungkin hanya kesendirian yang mampu menjawab
bimbangku, dalam tafakkur menengadah
Mengharap petunjuk disetiap langkah
Kepada-Mu, Sang Kuasa
Sang, pada-Mu aku berjalan
meraba kehendak di dinding takwa
 

Ya Rabb, hadirkanlah cahaya itu
dikelamnya malam
Menjamah jiwaku yang legam
atas noda-noda buram

Ya Rabb, hadirkanlah sejuk itu
digersangnya padang
Sirami hatiku yang meradang
atas haus peluh yang bertandang

Maka, izinkanlah
Ketika aku merindukan-Mu…
Kutuliskan semua rasa yang ada
Kucoba rangkai menjadi bait-bait puisi indah
Seadanya rasa ini, sedalamnya hatiku


Maafkanlah aku jikalau salah
Memaknai rindu di jiwa
dalam untaian kata, yang tak tahu
"Apakah mampu obati hatiku?
Jikalau aku tetap sama
dari dulunya tingkah yang tetap sama


MAHMOUD AL-AMIR

Apa Arti Persahabatan Bagimu, Sobat?  

Posted by Unknown in , ,

Apa arti persahabatan bagimu, sobat?

Linglung ku telusuri liku
Tanpa arah, tanpa sua, tanpa canda
Tanpamu, yang selalu menyemai jiwa
Saat kau tak lagi hadir di malamnya siang,
Dan siangnya malamku
Kau pergi tanpa meninggalkan sepucuk pesan
Saat ku sadar arti sebuah persahabatan

Apa arti persahabatan bagimu, sobat?

Rerumpun pun ingin bertanya, pada embun
"Mengapa ia menyejukkan lemahnya?
Awan pun ingin bertanya, pada air
"Mengapa ia mengorbankan beningnya?



Begitu pun aku ingin bertanya, padamu
Pada dinding hati semestamu
Pada rekahnya senyum menghiasi wajahmu
Pada damainya pandangan matamu
Saat kau tak lagi iringi langkahku
Kalutku telimpuh dalam sesal meraga

Sebait ini ku rangkai doa persembahan
kenangan indah lalu agar tak terlupakan
Bersamamu, menapaki jalanan pantai
agar angin pun ikut berdendang sepoi
menghantarkan jiwamu
bersama-Nya
Dibawah pohonan kamboja, kini..
kembang tujuh rupa
saksi akhir kisah kita

Kaukah arti itu?
Mulai kusadari, jauh pandanganmu tentang hidup
bahwa ia hanya sekali dan takkan kembali
bahwa ia berarti, maka berilah arti
Memberikan warna sebanyak-banyaknya
bagai pelangi, indah sesaat hujan tak lagi membasahi
Begitu pun kau, bak pelita
sekejap tampak, menghiasi gemuruh yang telah meredam

Telah ku sadari tiada arti penyesalan ini
Karena kaulah arti bagiku dihati,
sahabatku...

Genangan Bisu  

Posted by Unknown in , ,


Ada hal-hal yang semestinya terungkap
di ujung selaksa memandang kesunyian
dalam benak terselip sebuah pertanyaan
"Adakah satu jawaban tentang kehidupan?"

ku hadapkan kerinduan pada mentari jingga
ku lemparkan galau penat, pada genangan bisu nestapa

Dalam diam, tampak buram pun terkatup
meninggalkan sisa tanya...
Aku tampak menggidik kala bulu roma itu menjadi selimut detik
'tiba-tiba tanya itu menjadi bumerang, siap melantakkan degup pelik

Seperti juga diriku
yang terpagut dalam lamunan panjang mencari tepi
menyelami sebuah makna semi yang menghijau diujung pandang
setiap 'ayat-ayat' ciptaan dalat kuasa
hatta jiwaku berkabung dalam genangan bisu menyapa
mengarti baris-baris alif ba ta

Namun, telah keserahkan pada-Nya
satu kepastian yang mengakar
tanpa kelakar
tanpa berujar
tanpa sukar
karena Ialah Kepastian itu, siap menuntun jalan hidupku
hanyalah kembali pada satu jalan
yang dihiasi cakram penuh cobaan
'Siap hadapi!, atau mati dilumat jaman
tanpa satu pengorbanan

Mahmoud el-Ahmady
Pengembara Jati Diri
Mengeja Hikmah kisah
30/6/1

"Man Jadda Wajada", Jargon ala santri yang menginspirasi.  

Posted by Unknown in , ,

"MAN JADDA WAJADA", itulah judul buku yang kini telah saya miliki dan alhamdulillah telah saya ikutin pelatihannya. Bersama penulisnya,Hyperlink ke Ust. Akbar Zainuddin, saya mendapatkan banyak hal dan motivasi baru dalam menyelami sela kehidupan yang akan saya hadapi kedepannya. Selama dua hari menjadi panitia dan asisten beliau, sekaligus mengikuti pelatihan yang ia berikan, merupakan kesyukuran yang teramat besar dapat secara langsung bertatap muka dan bersenda gurau dengannya. Melihat selama ini saya hanya mengikuti catatan yang beliau tuliskan di facebook dan perjalanan pelatihan lewat foto yang di upload, menjadikan saya berkeinginan kuat untuk bertemu dan mendapatkan ilmu lebih banyak dari sekedar catatan yang pernah saya baca. Inisiatif mendatangkan penulis buku “MAN JADDA WAJADA” sudah lama terngiang, setelah berdiskusi panjang bersama kabid Pengasuhan santri Ust. Junaidi dalam hal mengisi kekosongan santri/I kelas V menjelang acara yudisium yang sebentar lagi akan berlangsung. Hal ini baru pertama kali dilakukan, dalam upaya peningkatan mutu dan pendidikan, khususnya dalam hal mengasuh dan mendidik jiwa kepemimpinan dalam benak santri/i. tentunya ide ini disambut meriah oleh santri/I juga guru-guru pondok yang mendapatkan kesempatan itu. Setelah sebelumnya juga telah dihadirkan penulis yang tak kalah populernya untuk saat ini, Ahmad Fuadi dengan novelnya Negeri 5 Menara yang sempat memberikan motivasinya kepada adik-adik 3 bulan yang lalu.

Tidak jauh berbeda dengan Kang Abik dan Akh. Ahmad Fuadi. Ust. Akbar Zainuddin juga menjadikan mantra “MAN JADDA WAJADA” sebagai jargon yang memotivasi beliau dalam hal meraih mimpi dan kesuksesan. Kalimat pertama dalam pelajaran Mahfudzat yang dipelajari oleh santri/I kelas I pondok ini, telah menjadi sihir tersendiri bagi mereka yang kini menggenggam kesuksesan lewat karyanya. Terbukti Kang Abik dengan Ayat-Ayat Cintanya (baca-biografi “The Inspiring Life Of Habiburrahman el Shirazy), dengan lantangnya menjadikan sihir MAN JADDA WAJADA sebagai bekalnya memunculkan karyanya yang fenomenal itu. Juga Ahmad Fuadi dengan Negeri 5 Menaranya, yang berani mengungkapkan sisi dibalik kehidupan santri pondok yang penuh misteri dalam mencapai cita-citanya, juga dikarenakan mantra MAN JADDA WAJADA. Kini, dengan adanya buku MAN JADDA WAJADA-nya Ust. Akbar Zainuddin, seakan menjadi pelengkap juga perangkum makna spesifik dari kalimat yang konon telah menjadi jargon santri dimanapun itu. Pastinya dengan penjelasan-penjelasan lain dalam mengungkapkan petuah juga syair dalam pelajaran Mahfudhzat. Buku ini secara mendalam menjabarkan juga menuntun mereka yang ingin meraih kesuksesan ala santri pondok.




Lagi-lagi saya mendapatkan pengalaman luar biasa selang dua hari ini. Mendapatkan kepercayaan mendampingi Ust. Akbar sekaligus menyerap energy poisitif yang ada didalam dirinya. Seperti halnya Ahmad Mujib ketika mendampingi abangnya, Kang Abik, setiap kali mengikuti kajian, juga kunjungan-kunjungan kepelbagai tempat untuk mengisi undangan. Begitu bangganya ia, terlebih menyadari bahwa abangnya adalah penulis tersohor. Bukan karena pamor abangnya itu yang ingin ia manfaatkan, namun keinginannya untuk menyerap sebanyak-banyaknya ilmu dari abangnya itulah yang kini ingin saya teladani. Mengingat waktu dua hari adalah waktu yang amat singkat, segera saya menyadari bahwa saya hendaknya bergegas dan sigap menyikapi waktu. Terlebih bukan hal mudah untuk bertatap muka secara langsung dengan Ust. Akbar, mengingat ia telah menjadi orang penting dan pastinya waktu yang ia gunakan haruslah dipergunakan sebaik mungkin untuk menyaingi kepentingannya. Ya, saya harus segera memanfaatkan waktu ini untuk kembali menjadi hamba ilmu kepada empunya ilmu. Maka, ingin rasanya saya menceritakan kembali perjalanan dua hari ini kepada para pembaca dan sahabat tercinta untuk sekedar berbagi wejangan yang telah saya dapatkan khususnya selama mengikuti pelatihan yang Ust. Akbar tebarkan dibumi waqaf tercinta.

Sekilas membaca curriculum vitae yang ada di bagian belakang buku MAN JADDA WAJADA.

Akbar Zainuddin lahir di Banyumas Jawa Tengah. Selepas Sekolah Dasar dia melanjutkan pendidikannya di Pondok Modern Gontor, Ponorogo. Pendidikan Sarjana ditempuh di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah (dulu, masih bernama IAIN), kemudian melanjutkan di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya, mengambil konsentrasi Manajemen Pemasaran.
Sejak di Pondok Modern Gontor dia suka menulis, menjadi redaktur di penerbitan Pondok, kemudian sebagai redaktur di penerbitan kampus. Bidang kepenulisan yang ditekuninya adalah manajemen, pendidikan dan motivasi. Tulisannya tersebar di beberapa majalah mulai dari SWA hingga Majalah Gontor.

Sekarang, selain mengelola perusahaan di bidang konsultasi manajemen, ia juga memberikan berbagai pelatihan di bidang manajemen, motivasi, kepemimpinan, dan pengembangan diri. Klien yang pernah mengikuti pelatihannya tersebar, mulai dari perusahaana swasta hingga kalangan pemerintahan di berbagai kota di Indonesia.


Baik, itulah sekilas perjalanan hidup beliau. Dan kini saatnya saya ingin berbagi wejangan yang telah saya dapatkan dari sosok beliau yang humoris dan cerdas. Materi yang beliau sampaikan adalah tentang “Memanfaatkan Potensi Diri”. Berikut pelajaran yang saya dapat dari beliau

Membuka Potensi Diri

Jarrib Walaahidz Takun ‘Aarifan
(Coba dan Perhatikan, Niscaya Engkau Akan Mengerti)

-> Yakni, mengamati dan merasakan secara langsung hal-hal apa yang membuat kita senang untuk melakukannya. Menyadari potensi diri dan jangan sampai kita merasa puas dengan potensi yang kita miliki untuk saat ini, namun tetap mencari hal-hal baru dan mengembangkannya lebih kreatif. Pastinya dibarengi dengan meluaskan network (jaringan kerja) kepada orang yang lebih ahli.

Kenali Kelebihan dan Kekurangan

La tahtaqir man duunaka falikulli syain maziyyat
(Janganlah Engkau menghina orang lain, karena setiap orang mempunyai kemampuan masing-masing)

->Setiap orang mempunyai kemampuan dan kelebihan yang berbeda-beda. Maka hendaklah kita fokus pada bagaimana meningkatkan kelebihan yang dimiliki. Jadikan kelebihan itu sebagai SUMBER KEUNGGULAN BERSAING. Ada kelemahan yang bisa ditutupi, ada juga yang sulit untuk dibenahi, ataupun tidak bisa karena sudah “pemberian Tuhan”. Kelemahan, jika tidak terlalu prinsipil, akan tertutup oleh kelebihan yang dimiliki. Tuliskan, nikmat TUHAN apa yang telah kita dapatkan hingga HARI INI?

Cobalah untuk berpikir Positif!

Wa ‘ainur-ridha ‘an kulli ‘aibin kaliilatun,
Kamaa anna ‘aina-ssukhti tubdi-l-masawiya
(Jika kita melihat sesuatu dengan positif, maka semuanya akan terlihat baik. Sebaliknya, jika kita melihat sesuatu dengan negatif, maka semua yang tampak adalah kejelekan)

->Memandang hidup sebagai sebuah keindahan yang luar biasa. Setiap sesuatu, baik peristiwa atau orang mempunyai sisi positif dan negatif, pandanglah dari sisi positifnya. Jangan berprasangka negatif terlebih dahulu terhadap suatu hal, jangan sampai pikiran negatif menutupi mata hati kita


The Miracle is YOU!

Al jaddu bil jiddi wal hirmaanu bil kasali, fanshab tushib ‘an qariibin ghayatal amali
(Kesuksesan akan didapatkan dengan kerja keras dan kegagalan terjadi karena kemalasan, bersungguh-sungguhlah maka Engkau akan dapatkan dengan segera apa yang dicita-citakan)

->Jangan menunggu keajaiban. Keajaiban itu ada pada diri kita, The Miracle is You!. Mulailah bekerja memanfaatkan keajaiban kita.

Lupakan Masa Lalu

Lan tarji’al ayyamul-latii madhat
(Hari-hari yang sudah berlalu itu tidak akan kembali)

->Masa lalu biarlah menjadi catatan dalam hidup kita. Jika kita pernah melakukan suatu kesalahan, biarlah itu menjadi pelajaran agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama. Semua orang pernah melakukan kesalahan dan kebodohan. Hilangkan dendam, maafkanlah

Membangun Impian

Idza shadaqal ‘azmu, wadhahassabiilu
(Jika keinginan sudah terbentang, akan terbuka jalan untuk mencapainya)

->Punya cita-cita juga tujuan hidup yang lebih jelas akan membantu menunjukkan arah hidup kita.Menunjukkan jalan kalau kita sedang bingung mau mengerjakan apa. Agar kita mempunyai fokus terhadap satu tujuan yang jelas, tidak berbelok-belok



Percaya dengan kemampuan diri sendiri

Innal Fataa man Yaquulu Ha anadza,
walaisal fata man yaqulu kaana abiii
(Sesungguhnya seorang pemuda sejati adalah pemuda yang menyeru: “INILAH SAYA”, bukan yang sekedar membangga-banggakan orang tuanya)

->Semua orang mempunyai kekurangan, nikmatilah!. Fokus pada meningkatkan kelebihan, bukan menutupi kekurangan. Yakin dengan kemampuan yang kita miliki dan jangan ragu untuk melangkah.

Dan masih banyak lagi yang beliau sampaikan, namun kiranya tak memungkinkan saya untuk menuliskannya dinote ini. Sungguh pelajaran hidup yang patut di refleksikan dalam keseharian diri. Maka pengalaman ini senantiasa akan tetap saya cari dalam menggali potensi yang saya miliki, pastinya dengan mantra ala santri "MAN JADDA WAJADA".

Selamat menjalani...!!!

[Renungan-Q] Suara hati untukmu, Saudaraku!  

Posted by Unknown in , ,


Saudaraku!. Saat ini ada banyak pertanyaan yang sedang menggandrungi pikiran dan jiwaku. Pertanyaan yang bersumber dari refleksi objektifitas dalam memaknai pentas kehidupan ini. Apa yang kini mengganjal dan ingin rasanya mengungkapkan gejolak dihati. Saat dimana hening menjadi kerinduan dikala hiruk pikuk menjalani aktifitas hidup bertambah rumit dan sukar untuk dielakkan. Keberanianlah yang kerap dituntut menapaki terjalnya jalan. Realita hidup telah menampakkan posisi diri yang hanya mampu meratapi nasib. Bagaikan perlombaan yang tiada henti, hidup seakan menjadi panorama menyesakkan dikala bekal yang dibawa tak mencukupi. Maka tiada lagi waktu untuk mengulangi kesemuanya dan pastinya hanya kenangan semata. Penyesalan tiada habisnya menghiasi bibir yang tak mampu berzikir mengingat-Nya. Ya, hanya keluh kesah yang terlontar, namun tidak tahu kemana dan kepada siapakah harus diadukan. Itulah realita sekarang, dan kini terjadi! Lari dari jalur, mencari jalan yang tidak pada tempat dan koridornya.

Saudaraku!. ingatkah engkau sebuah ayat yang mengatakan “Barang siapa bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan menunjukkan jalan keluar dan memberikan kepadanya rizki yang tak disangka-sangka”. Ingatkah kita kemaha besaran-Nya juga kuasanya yang tiada terduga itu? Sudah sangat jelas disini Ia ingin memberikan sebuah jawaban dan jalan keluar dari suatu kesulitan. Yakni, dengan syarat Taqwa sebagai landasan utamanya. Tidak diragukan lagi, bahwa dalam tuntunan-Nya kita akan dibawa kepada sikap bersyukur dan ridho menjalani likuk jalan ini. Maka, apabila keridhohan serta syukur telah memegang peran dalam hidup, bukan hal mustahil lagi kita akan menemukan cahaya setiap lembar buram cobaan yang datang.

Saudaraku!. disini aku bukanlah bermaksud ingin melangkahi ilmumu juga pengalamanmu. Tiada salahnya kita saling menasehati juga memotivasi. Bahkan inilah yang aku, kamu dan seluruh umat muslim butuhkan untuk saat ini. Dalam renung panjang yang sesekali menyeringai hati dan pikiran. Aku seakan terbawa dalam lamunan panjang mencari sebuah makna dan arti. Tuntutan hidup mewajibkan diri untuk segera mengambil tindakan kalau memang ingin meraih prestasi. Perjuangan tanpa henti, tawakkal, serta do’a menjadi tolak ukur keberhasilan. Entah mengapa aku ingin sekali mengungkapan kesemuanya? Rasa sensitif menanggapi fenomena yang telah terjadi, menjadi factor utamaku mencari kebenaran dari kebenaran yang ada. Perlu adanya tafakkur dalam memaknai setiap sela cobaan yang silih berganti.

Saudaraku! Terkadang aku berpikir. Bagaimanakah Ia mengajariku juga dirimu? Sejenak aku hanya ingin mengungkapkan apa yang kini masih mengganjal dalam pikiranku. Tentang hidup dan masa depanku nantinya. Sempat terlintas sebuah pertanyaan dalam renungku. Apa yang akan kulakukan dimasa mudaku yang mungkin dapat dikatakan belumlah dewasa dalam mengatasi dan bijaksana dalam menanggapi segala permasalahan?. Aku seakan linglung, tidak tahu kemana harus kukemudikan langkah kakiku. Cita-cita yang terbayang hanyalah semu, kala realita yang kualami jauh berbanding dengan tingkah laku. Aku terasa jauh dari apa yang selama ini aku inginkan. Padahal, kalau saja aku mau untuk mengulangi dan memperbaikinya. Maka tidak mustahil aku akan mampu menjadi diriku yang sebenarnya. Aku pastinya akan mudah untuk mengendalikan pola pikir, kemanakah harus ku tempuh perjalanan jauh. Dengan banyaknya prestasi yang dulu pernah kuraih, aku seakan tenggelam dengan kenangan semata. Hanya terhanyut dalam alunan kisah yang takkan kembali. Pastinya masing-masing haruslah meyakini, bahwa sesuatu yang paling jauh dari diri nantinya, dan takkan bisa ditempuh adalah masa lalu. Masa lalu yang jauh dari apa saja yang pernah kita miliki. Maka masa depanlah yang kini menjadi bahan perbandingan dari masa lalu, apakah tetap sama, atau sebaliknya, akan lebih baik dari pada sebelumnya. Hal ini sangat sesuai dengan apa yang dikatakan rasulullah Saw, bahwa," barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia adalah orang yang merugi. Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari pada hari kemarin, maka ia mal’un." Mengingat hadis ini, rasa menyesal meraba jiwaku yang kini bingung. Lama ku dalam lamunan, memikirkan apa yang dulu terlewati. Namun, lagi-lagi ku mendapat anjuran agar tidak mengingat kembali masa lalu karena itu akan membuang waktu begitu saja. Ingin rasanya ku bersamamu, menjalin ukhuwah, merapatkan barisan menuju izzah. Menjadi mujahid pena, merangkai hati yang kerap terurai, akhlaq yang kian lumpuh.

Ya, dengan menulis. Media ini seakan menjadi pengerat tali silaturrahim antara kita. Karena didalamnya, ku menemukan jiwaku yang dulu sempat linglung tak tahu arah tujuan. Menulis juga menawariku semacam kesabaran yang tidak kumiliki dalam kehidupan sehari-hariku. Menulis membuatku berhenti. Menulis membuatku mencatat. Menulis memberiku semacam perlindungan yang tidak bisa kuperoleh dalam kehidupanku yang tergesa-gesa dan penuh dengan kegiatan. Menulis membantuku menjadi matang selama aku tidak membohongi diriku sendiri. Hal ini memaksaku untuk menghadapi dan memahami kekurangan, kelemahan, dan kekuatanku. Tindakan ini pula yang lamban laun mengajariku untuk tidak bersikap menghakimi. Dan pada akhirnya, menulis satu-satunya tempat aku bisa menjadi diriku sendiri dan tidak merasa dihakimi. Bagaimana pula perasaanmu tentang itu?


Saudaraku!. Kini, bersamamu, Aku kembali tercerahkan. Bahwa hidup bukanlah kenangan semata. Hidup bukanlah iming-imingan realita. Hidup bukanlah sekedar berkeluh kesah. Karena kesungguhan serta ketegasan hendaklah menyertai kebimbangan. Karena tujuan hidup telah jelas, mencari ridho-Nya semata, Inna Khalaqtu Al-Jinna Wal ins illa liya'budun. Hidup dalam naungan hidaya-Nya. Semoga kita selalu mendapatkannya. Amin....




Renungan-Q untukmu Saudara/i-Q, Mujahid Pena Peradaban.

Mahmoud el-Ahmady
23/06/10
Pengembara Jati Diri
mengukir hikmah kisah

Melukis Sepetak Hati di Padang Senja  

Posted by Unknown in , ,

Dalam telimpuh sujud
ku sisipkan sebuah harapan pada-Mu
Ku titip hati yang selalu cemburu
Pada nurani diujung senja
lamatku memandang sepotong jiwa yang bertandang
ketika mata dan telinga tak sanggup meraba
hanya keluh kesah meranum dibibir nista

Duh, senja..
Mengapa ku terpaut cintamu?
Aku linglung mencari sebuah makna yang terselip disana
menanti sebuah jawaban dalam rengkuhan doa
sembari ku resapi setiap langkah
di tepian pantai, ku mengadu resah
mendayung hati yang terombang ambing
tuk menepi di semenanjung cinta-Nya

Untuk kesekiannya ku merangkai kata
melukis sepetak hati yang terkotak ambisi dan nafsu
sedarkan kembali pikiranku yang rancu
Pada-Nya ku rajut sejuta rindu

Lama kusesali duri yang sempat menusuk
untuk kesekian kali pula ku selalu terpuruk
dengan kelemahan yang kerap mengusik dinding semesta nurani
dengan lelucon hati, kadang patuh dan kadang lumpuh
Sungguh, kuingin mengakhiri pentas drama ini
Memohon pada-Nya pelita hati

Allahumma...
Engkaulah Tuhan
Sang Khaliq Alam Semesta
'Bagiku itu sudah cukup
untuk sujud dan menyembah pada-Mu
di Padang Senja memahat cinta-Mu'




Mahmoud el-Ahmady
21/06/10

Sang Murabbi  

Posted by Unknown in , ,


Allah, Ya Rabbi...
Dengan segala kuasa dan kemaha besaran-Mu
Ku tengadahkan tangan bertumpu malu
Kala hati hanya berdusta
Terombang ambing dengan nafsu sia
Di keheningan malam
Waktu yang sepantasnya kupergunakan
Merajut cinta-Mu

Allah, Ya Rabbi...
Adakah hati dan lidah ini selalu berujar
Berkilah dan mengumbar ayat-ayat-Mu yang berpijar
Terangi hati mereka yang sadar
Obati jiwa mereka yang pudar
Namun, hanya akulah yang kurang ajar
Memaknai setiap dalil yang erat mengakar
Dengan potongan-potongan ayat samar
Lantas ku jadikan alasan untuk menutupi hidayah-Mu

Allah, Ya Rabbi...
Kegundahan hati ini lama berlumut
Terkatup dibalik dinding-dinding usia yang larut
Dalam jurang nista
Adakah pertolongan yang siap menghampiri
Sedangkan aku hanya berdiam diri
Dan enggan berlari menjemput kasih-Mu
Pantaskah aku menerima
Dengan kealpaan diri.

Kini hanya diamlah yang menjadi saksi bisu
Hanya jejaring malam yang setia menunggu
Kala simpuhku dihadapan-Mu
Menjadi bukti kelemahanku tentang diriku
Menjadi bukti kehampaanku tentang jiwaku
Menjadi bukti kelalaianku tentang usiaku

Bahwa, Engkaulah yang Maha Tahu dan akan mengatahui
99 lapis isi hati ini, yang karat dan berduri
Dan ingin ku benahi dalam sujud kasihku pada-Mu
Bahwa, Engkaulah Sang Murabbi
Penuntun hidup dan terjalnya jalan
Melangkahkan kaki lewati aral rintangan


Mahmoud el Ahmady
Selasa,03.15
15/06/10

Mengenal Sang Fenomenal, Habiburrahman el Shirazy  

Posted by Unknown in , ,

Itulah sepenggal kata yang saya kutip dari sebuah buku biografi “The Inspiring Life Of Habiburrahman El-Shirazy” karya Ahmad Mujib El-Shirazy. Buku ini memberikan kesempatan kepada pembaca untuk mengetahui sisi lain keseharian Habiburrahman el-Shirazy. Mengenai masa-masa terberatnya, kebiasaan-kebiasaannya dari sejak kecil, juga pola asuh orang tuanya.
Pertama kali saya berniat untuk membeli Novel terbaru karya Kang Abik, “Bumi Cinta” yang konon sama halnya dengan novel-novel sebelumnya sebagai Novel Penggugah Jiwa. Namun, entah mengapa saya secara tak sengaja menemukan buku biografi tentang Kang Abik ketika itu. Padahal sebelumnya saya sudah menenteng Novel yang hendak saya beli, novel terbarunya “Bumi Cinta”. Betapa keinginan untuk membeli kedua buku ini merasuki hati saya seketika. Namun, setelah mengecek kondisi dompet yang ternyata tidak mencukupi, sejenak saya membanding-bandingkan mana yang terlebih dahulu saya utamakan. Novel atau biografi Kang Abik? Benar-benar membingungkan. Keduanya sama-sama berkualitas. Pada akhirnya, saya memilih untuk membeli buku Biografinya terlebih dahulu. Mengingat perkataan seorang teman," bahwa jikalau kita ingin meniru seorang tokoh, kenalilah ia lebih dekat bukan karena karyanya, namun karena perjalanan hidupnya yang merupakan jiwa dari sebuah karya itu sendiri. "

Terbesit dalam benak saya. Saya ingin menjadi penulis. Maka penulis pulalah yang harus saya tiru.
Tetapi yang perlu saya tiru bukanlah karya-karya penulis, karena itu akan membatasi ide untuk berkreasi. Namun ialah sebagai pembanding tatkala karya itu telah tercipta. Karena saya pastinya memiliki ciri dan karakter dalam berbuat, pastinya saya harus menyajikan karya baru yang lebih berkualitas khususnya dalam menulis. Saya harus meniru cara hidupnya yang penuh inspirasi. Bukanlah karya yang harus ditiru karena ia merupakan luapan dari pada jiwa si empunya karya. Maka jalan hidup serta masa-masa menghasilkan karya itulah yang semestinya saya tiru.

Setelah membaca buku ini, Saya mulai mengetahui betapa faktor keluarga atau keturunan bukanlah satu-satunya penyebab seseorang menjadi apa yang diharapkan sebagai mana mestinya. Seperti orang-tua yang merupakan seorang penulis, pastinya melahirkan anak-anak yang penulis. Kakek-nenek pengusaha, belum tentu cucu-cucunya akan memiliki jiwa pengusaha sebagaimana dirinya,dll. Begitu juga Kang Abik dalam biografinya, bahwa ia tidak dilahirkan dari keluarga yang memiliki garis keturunan seorang penulis atau sastrawan. Namun, jauh dari pada itu, bahwa kedua orang tuanya adalah petani yang kesehariannya hanya dihabiskan di sawah juga ladang milik mereka. Masa kecil Kang Abik bukanlah masa kecil yang dilingkupi oleh kekayaan dan kemudahan. Bahkan kondisi lingkungan masyarakatnya pun miskin harapan. Mengingat itu saya pun seakan dinasehati agar tidak berkecil hati dalam berbuat. Karena factor keluarga terkadang menjadi sandaran bagi mereka yang hanya mengandalkan kedua-orang tua saja.

Dalam biografinya ini, Ahmad Mujib telah memberikan pandangan sekaligus pengalaman panjangnya bersama tokoh yang diceritakannya yang tak lain adalah abang kandungnya sendiri. Sudah barang tentu apa yang diceritakannya bukanlah omong kosong belaka, karena ia secara langsung merasakan juga mengalami hal yang sama apa yang telah dialami oleh kakak kandung juga dirasakannya semasa kecil. Sejak kecil Kang Abik sudah tampak memiliki jiwa keingintahuan yang tinggi. Itu dijelaskan dalam kisahnya bahwa suatu ketika dengan kepolosannya ia bertanya kepada paman nya, tetangga belakang rumah. “Mengapa rel kereta api itu panjang sekali, keras lagi. Pohonnya tumbuh dimana? Tanyanya lugu. Tentu saja pamannya itu tertawa, tapi tidak ingin mengecewakan Kang Abik dan tak mau ambil pusing. Pamannya menjawab sekenanya bahwa “ besinya rel kereta api tumbuhnya di Arab, jauh”. Seketika ia berniat untuk pergi jauh ke negeri peradaban sejak itu. Begitu pula dengan kesehariannya yang sudah ia rancang dalam buku diary juga dengan jadwal kegiatan harian yang ditempel di lemari dalam kamar. Sudah menunjukkan bahwa ia adalah anak yang tertib dan teratur walaupun lingkungan amatlah jauh daripada itu, seakan ia mampu memilah energi positif dan negatif dalam dirinya.
Perpindahan dari pesantren, ke Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) menjadi titik perpindahan yang teramat fundamental dalam hidup Kang Abik. Ia seperti memiliki lompatan berpikir yang teramat jauh dari sebelum-sebelumnya. Hasrat untuk ikut andil menyalakan kembali cahaya peradaban islam berkobar dalam hatinya. Pada saat itu pula, begitu bulat tekadnya mencicipi ilmu pengetahuan di Universitas Islam paling terkemuka di dunia, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Lagi-lagi saya mendapati bahwa proses amatlah dibutuhkan dalam segala hal. Kesungguhan juga kekonsistenan dalam berbuat amatlah diperlukan. Terlebih dalam meraih apa yang telah dicitakan. Begitu pula Ahmad Fuadi dengan Novel “Negeri 5 Menara”nya, juga Akbar Zainuddin dengan buku motivasi“Man Jadda Wajada”Nya, Kang Abik menjadikan jargon “Man Jadda Wajada” sebagai motivasi dalam hidup. Semenjak ia kecil hingga kuliah ia selalu menanamkan `mantra’ ini dalam lubuk hatinya agar semangat tetap terjaga.

Bukanlah Ayat-Ayat Cinta sebagai karyanya yang pertama, sebagai mana komentar banyak sastrawan yang sebelumnya yang menyatakan bahwa Kang Abik adalah penulis kawakan yang “ujug-ujug” fenomenal tanpa melalui proses. Justru ia telah melahirkan karya-karya yang cukup membuat jatuh hati para penggemarnya sebelum lahirnya AAC, yakni dengan “Pudarnya Pesona Cleopatra”, Di Atas Sajadah Cinta. Dan kisah-kisah pendek lainnya. Hanya saja yang lebih banyak laris dipasaran terlebih dahulu adalah AAC. Dikisahkan bahwa proses penulisannya ialah tatkala ia sedang mengalami kecelakaan dan mengakibatkan kakinya patah,lantas tidak mampu berbuat apa-apa, begitu banyaknya cibiran tetangga yang meremehkan kemampuannya sebagai Mahasiswa Kairo, itulah yangmenguatkannya untuk berkarya dan akhirnya menciptakan karya fenomenal AAC dalam kondisi terpuruk ketika itu. Ia meyakini ayat Allah yang mengatakan “Barang siapa bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan menunjukkan jalan keluar dan memberikan kepadanya rizki yang tak disangka-sangka” ayat ini besar-besar dipajangkan diruang kamarnya ketika ia sakit, sebagai motivasinya untuk berbuat lebih.

Buku biografi karya Ahmad Mujib tersebut juga dilengkapi jejak-jejak kenangan bersama Habiburrahman el Shirazy dalam foto seperti masa kanak-kanak Kang Abik bersama ibu dan adiknya, ketika menjadi santri di MAPK Solo, menjelang keberangkatan ke Mesir, bertemu BJ Habibie di Jerman, di tanah suci, pergelaran seni di Kairo (Mesir) maupun ketika bermain peran di film Ketika Cinta Bertasbih.

Mungkin inilah yang patut saya, dan Anda teladani, dari sosok Habiburrahman El-Shirazy Sang Fenomenal. Bahwa dalam keadaan sesulit apapun, sebenarnya itulah pembuktian bahwa kecintaan Allah amatlah dekat. Terlebih pada masa-masa sulit yang hendaknya kita manfaatkan sebaik mungkin untuk lebih dekat kepada-Nya. Dan bukan sebaliknya malah menyalahi Tuhan dengan sumpah serapah yang justru memperburuk citra diri dihadapan-Nya. Bukan Ayat-Ayat Cinta atau Ketika Cinta Bertasbih-nya yang menarik, namun jalan panjang menuju karya-karya itu yang patut diteladani. Ketenangan dan kontemplasi menjaga dirinya dari sikap implusif. Daya tahannya atas" kegagalan-kegagalan" membuatnya semakin matang dalam menyikapi kesuksesan. Hambatan dan beban hidup sejak masih kecil hingga dewasa terbukti memberikan buah yang manis.
Sungguh, buku yang menginspirasi. Cocok bagi para penulis pemula yang ingin merasakan lebih dekat "atmosfer cinta" yang diciptakan Kang Abik dalam setiap karyanya.
Judul: The Inspiring Life of Habiburrahman el Shirazy, Biografi
Penulis: Ahmad Mujib el Shirazy
Penerbit: PT. Balai Pustaka (Persero)
Tahun: September 2009
Tebal: 270 hal
Harga: Rp.51.000

Perjuangan Panjang  

Posted by Unknown in , ,

Perjuangan Panjang


Sulit aku melupakan beribu pasang mata birumu
Bingungku, lantas berkabung…
Kala senja ingin pergi tinggalkan hari
Kau masih saja berdiri
Menanti aroma syurgawi
Menghampirimu...

Sua tiada habis diselaksa pandang
Menatap tingkah laku iblis dunia yang menghadang
Intifadhoh akan tetap meradang
Kala jiwamu terus di hujam
Bingungku,lantas bertandang…
Aku hanya mampu berkumandang
Serukan keadilanmu yang dikekang

Jihad menjadi besi sendi
Sabar menjadi pilar tegar
Tawakkal menjadi dinding hati

Kau adalah jiwa haus
Yang tidak dapat istirahat
Kecuali dalam pangkuan keterjagaan
Kehidupanmu di atas bumi
Merupakan satu rangkaian panjang
Dari perbuatan perbuatan besar
Yang ingin kuraih, namun hanya mimpi
kala rayuan syaitan kerap menghampiri

Predikat syahid jelas tersandang
Hakikat mati tak mematikan hati
Jiwamu kan selalu bertandang
Dalam sanubari yang merindu makna dan arti

Aku hanya mampu menitip salam kasih
Pada angin kasturi bumimu…
Pada awan syurgawi dihatimu
Pada bebatuan, saksi hidupmu

Kala tangan tak mampu menyapa dan hampiri
Perjuangan panjang membentang
Do'aku kan selalu membasahi
Untukmu…
Wahai mujahid sejati…



Dibuat untuk seleksi naskah Tribute to Plestine
(http://www.facebook.com/note.php?saved&&suggest&note_id=411106508880)

Donasi untuk Palestina dapat di kirimkan pada
Rekening Mer-C untuk Palestina :
BCA cab. Kwitang No. Rek. 686.0153678
BSM cab. Kramat No. Rek. 009.0121.773
a.n. Medical Emergency Rescue Committee

Rekening KISPA untuk Palestina :
Bank Muamalat Indonesia cab.Slipi
No. 311.01856.22 an.Nurdin QQ Kispa

By: Muhammad Nur
Ahad, 06/06/10