MERAJUT MIMPI DI UFUK SENJA  

Posted by Unknown in


          


 Senja berjalan lambat menuju malam. Hilir mudik kenderaan yang berlalu lalang memadati sepanjang jalan di setiap sudut kota Jakarta. Hiruk pikuk bertambah menjadi panorama yang menyesakkan pandangan dan telinga tatkala suara klakson membahana dengan segala keangkuhan para pengemudi.
            Sabaruddin Teguh. Ya, itulah namanya.  Seorang anak penjaja Koran yang kerap dipanggil Udin oleh kawan-kawan, rekan kerjanya. Ia masih menjajakan lembaran-lembaran koran kepada para pengguna jalan. Namun tak banyak dari mereka yang tertarik membeli walaupun Udin kerap kali menawarkan harga yang lebih murah. Lantas ia duduk sejenak di depan ruko, sambil mengipas-ngipaskan selembar koran , ia keluhkan hari yang sungguh melelahkan baginya. Kakinya terasa semakin berat untuk melangkah, peluh keringat yang membasahi seakan pengganti mandinya setiap hari menjelang maghrib.
            Asap bercampur debu menorehkan daki hitam di wajah dan leher, serta tangan yang sembari menjinjing koran bawaannya. Ia kalut  untuk bertumpuh pada kaki kecilnya. Salahkah jika ia ingin berhenti saja dan tak seteguh harapan orang banyak? Salahkah jika ia mengingkari harapan dari sebuah nama yang diberikan kedua orang tuanya?.
            Wajah ayah ibunya terpatri jelas di benaknya. Semangat yang mereka alirkan mengingatkannya akan sebuah makna kehidupan. Kakek bilang, nama Sabaruddin Teguh, yang diberikan orang tuanya sudah dipatok jauh-jauh hari.
            “Bahkan sebelum kau lahir, nak.” Ujar kakeknya.
            Di saat lemah dalam kesendiriannya, anak berusia lima belas tahun itu sering duduk termenung, menggerutu menghadapi kodrat hidup yang  di hadapi. Ayah ibunya sudah lama meninggal, tapi mereka masih menyisahkan beban namanya. Bagaimana bisa punya ruang berlemah diri kalau embel-embel lain dari namanya adalah sabar dan teguh? Sabaruddin Teguh, begitu lengkapnya. Seakan kedua orang tuanya telah memprediksi akan cobaan yang akan anaknya hadapi.
            Waktu kecil, limpahan kasih dari ayah dan ibunya membuat Udin nyaris tak merasa minder akan minimnya kebutuhan hidup mereka. Bahkan ia sempat bercita-cita ingin menjadi seorang pengusaha sukses, menumpas kemiskinan yang menyelimuti kampung pinggiran kota metropolitan seperti Jakarta yang begitu mengganas dan kejam. Tak kenal siapa kawan dan lawan pastinya kehidupan di ibu kota sangat menyengsarakan tatkala ilmu dan pengalaman hidup belum teruji dengan baik. Terkhusus untuk masyarakat pinggiran kota yang segala kebutuhan belumlah terpenuhi dengan sempurna, bahkan untuk sekedar minum saja harus menimba air di kali bekas aliran sampah. Sungguh miris, renungnya saat itu.
            Ayahnya kerap menceritakan kisah orang-orang desa yang pindah kekota yang akhirnya sukses dengan karir yang melonjak. Tak hanya itu, ia juga sering di beri foto-foto orang sukses diantara mereka yang berurbanisasi. Tak heran ia mengidolakan sesosok Tukul Arwana yang terkenal dengan ucapan “wong ndeso, juga tak sobek-sobek” di salah satu layar televisi yang pernah ia saksikan. Tuk sekedar memotivasi dirinya kelak, meraih seperti apa yang mereka alami.
            Namun angan tetaplah bunga-bunga kehidupan yang masih misteri. Tak tahu kapankah seseorang dapat mencapainya. Begitu pula dirinya, Ia simpan rapi impiannya dalam setiap lembaran kehidupan yang ia jalani, dan tak tahu kapan ia akan menjadi seperti apa yang diharapkan kedua orang tuanya, melalui namanya. Sepeninggalan mereka akibat keracunan bau limbah tempat kedua orang tuanya bekerja.
Ketika itu hanya ialah satu-satunya buah hati mereka  untuk menjalani amanah  akan sebuah nama yang dibubuhkan dalam dirinya. Sabar dan Teguh dalam menjalani segala cobaan yang siap menghadang.Udin sempat bersekolah, tapi tidak sampai tamat SD, disebabkan minimnya pendapatan kedua orang tua.
Besar pasak daripada tiang” gurunya menjelaskan. Kira-kira ungkapan itulah yang pantas disematkan pada keluarganya ketika itu, hingga hari ini. Untungnya, ia sempat meraih segudang prestasi di bidang extrakulikuler saat bersekolah. Ia mendapatkan juara satu lukis antar sekolah, juga juara satu olah vocal tatkala pertunjukan “Singing Like Star” dalam rangka memperingati hari guru. Bahkan yang paling membanggakan adalah saat ia menang juara satu olimpiade Matematika antar kota, mewakili sekolahnya saat ia duduk di kelas lima.
Buk  Yatmini, guru agamanya sempat berpesan kepadanya agar ia mengembangkan ilmu dan bakat setamat dari SD nanti, ia kerap mengingat sebuah ayat saat pelajaran agama kelas empat  ketika itu yang melarang durhaka terhadap kedua orang tua,” jangankan memukul, berkata “ah “ saja sudah mendapatkan dosa besar”, ujar buk guru tercintanya itu.   
Lantas hati kecilnya berbisik “kapankah ia dapat berbakti kepada dua malaikatnya tersebut? Ia pernah mendengar cerita dari kakeknya bahwa hadiah yang sangat diimpikan kedua orang tuanya adalah dapat menunaikan rukun islam yang kelima yaitu menunaikan haji ke Makkah al Mukarramah, sambil mendengarkan suara adzan yang selama ini mereka dengar sangat indah dari televisi kakek.
Ia pun beritikad untuk dapat memberangkatkan kedua orang yang paling ia cintai tersebut. Sebagai wujud dari bakti kepada keduanya, dan menjadi anak yang saleh lagi berguna.
Namun, lagi-lagi sekelumit harapan itu ia simpan rapi-rapi untuk saat ini. Mengingat dirinya yang tak sempat menamatkan belajarnya sepeninggal kedua orang tuanya. Kini ia tinggal bersama kakeknya di sebuah rumah yang lebih tepat disebut dengan “gubuk” karena beratapkan rumbia dan dinding pelepah kelapa yang dilapisi kardus, namun gubuk itu menjadi surga bagi keduanya selepas lelah bekerja seharian.
Ia pun mencoba memenuhi kebutuhan hidupnya bersama kakeknya yang hanya seorang buruh pabrik limbah dekat rumah dengan menjajakan koran-koran dari grosir di persimpangan jalan  ke pada para pejalan kaki maupun pengguna jalan lainnya, dari siang hingga senja menuju malam. Sehari-hari berpeluh keringat demi mendapatkan uang yang tak seberapa, mondar-mandir dari satu ujung jalan menuju jalan yang lain di sudut kota. Sesekali ia memberanikan diri menjajakan koran ke tengah jalan, saat lampu merah menyala. Tak jarang pula ia hampir terserempet kendaraan yang berlalu lalang, sembari mengacuhkan dirinya yang masih bertubuh kecil. Mengingat kakeknya yang sudah tua, hanya dapat mengumpulkan sampah-sampah bekas berupa botol aqua, plastik, maupun ember-ember yang tak bertuan lagi yang nantinya dijual di pabrik tempat ia bekerja.
Upah yang diterima pun seringkali tak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari, terlebih saat penyakit mulai menggerogoti tubuh kakeknya yang ringkih termakan usia. Tak jarang uang yang diterima dari pabrik maupun hasil jualan koran Udin tersebut digunakan hanya sekedar membelikan obat demi kesembuhannya.
“Cobaan apa lagi yang engkau berikan kepada kami ya Allah” keluh Udin  dalam shalatnya. “Tuhan pasti punya skenario  besar untukku” bisikknya dalam hati. Dengan kepercayaan itu, ia menjalani hari-harinya dengan sabar dan teguh sesuai dengan namanya. Mungkin ini adalah doa untukku, keluhnya.
Udin enggan mencari belas kasihan dari orang-orang, bahkan meminta simpati untuk sekedar menerima uang dari mereka, seperti apa yang teman-temannya lakukan. Ia tak ingin dikasihani, dengan mengamen atapun sejenisnya yang melalaikan usaha dan kerja keras. Walaupun ia menyadari bahwa terkadang upah yang teman-temannya dapatkan melalui meminta-minta, dapat melebihi hasil keringatnya. Ia tak ingin rasa simpati dan iba melemahkan semangat juangnya untuk mendapatkan harta yang halal lagi terpuji, sesuai ilmu hadis yang ia ketahui bahwa “meminta-minta itu merupakan perbuatan yang tidak terpuji, lebih baik tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”,begitu tepatnya.
“Nak, jangan dipikirkan. Fokuslah pada kelebihanmu, jangan meratapi kekurangan”.   Ujar Ibunya yang bijak. lalu ayah yang selalu siap dengan dua jempol teracung untuknya.”Anak Ayah paling hebaat….”
“Optimis, Din….optimis!” tambah Salmi, teman satu bangkunya saat SD. Yang selalu memompakan semangat dan berusaha mengalirkan kepercayaan diri, setiap kali dilihatnya Udin termenung menatapi kekurangannya.
                                                            *******
“Din, konser yuk..! ajak Fahmi, Salah seorang kawannya yang kini bernasib sama sepertinya, penjajah Koran.
“Konser apaan, mi?  Tanya Udin heran.
“Ah, kayak gak tahu saja loe Din. Hari gini masih gak tahu lagi yang namanya konser,kuper betul lu..!”. Sindir Fahmi berlagak sambil menunjukkan gitar kecil barunya.
“Bukan gak tahu Mi.., tapi konser apaan gue gak paham maksud lu. Siang panas seperti ini mau konser dimana? Koran belum habis lagi.” Tambah Udin sedikit mengernyitkan dahi.
“Nih, lihat ni..,gitar baru gue baguskan?, Nih die buat konser kita.” Ujar Fahmi berbangga hati.
“iye, emang konser apaan..?,huh.. lain ditanya lain dijawab! Mau di mana emangnya lu konser? Kembali Udin bertanya kesal, mendengar jawaban yang tidak sesuai dengan apa yang ditanyakannya kepada Fahmi.
“Oh iye, gue lupa jelaskannya. Habis sih gue senang banget hari ini Din, gue bisa dapat gitar baru hasil usaha gue sendiri. Jawab Fahmi sambil memeluk gitar kesayangannya itu.
“emang uang dari mana lu Mi, kok bisa beli gitar gituan? Tanya Udin heran.
“Ya dari tabungan gue lah, emang nyuri apa..? Tuh bukan tipe gue lah Din. Gue tuh, ngumpulin upah hasil jajahin koran. Emang dari dulu sih gue ngimpiin tuh yang namanya gitar, ya, walaupun bukan gitar sungguhan sih. Gue harap bisa ngembaliin bakat gue main gitar Din, tidak sekedar jualan koran saja. Tapi kita juga harus bisa ngembangin bakat kita. Oh ya, lu sudi gak ikut gue? Jelas Fahmi untuk memahamkan Udin.
“Ikut apaan? Tanya Udin heran.
“Ya ikut konser lah. Duh dari tadi ga’ nyambung-nyambung juga lu Din. Gini ya din gue jelasin lebih detail lagi. Nih denger …betul-betul yee! Pinta fahmi sedikit jengkel.
“gue tuh punya rencana tuk buat konser kecil-kecilan. Dengan peralatan kita yang seadanya nanti, kita akan keliling kampung juga singgah ke berbagai kendaraan. Tuk sekedar menyanyi Din. “
“Loh, itukan sama saja dengan meminta-minta Mi, gak mau ah..! gue tuh paling anti ame yang namanya dikasihanin pake cara meminta-minta mi.” ucap Udin sembari menolak ajakan Fahmi yang dipandangnya konyol.
“ Oalah Din…, Din! Belum paham juga kayaknya lu nih. Pake pentium berapa sih lu nih.kok lamban amat, sini gue ganti dulu”,ketus Fahmi bercanda dengan nada tinggi.
 “Itukan bukan minta-minta seutuhnya, kita tuh cuma sekedar menyumbang jasa suara juga penampilan kita aje Din. Selebihnya, kalau ada yang mau memberi ya kita terima, kalau tidak ya sudah kita tidak usah memaksa. Gue tuh berpikir seandainya ada suatu pekerjaan yang sesuai minat dan bakat, betapa nyamannya gue untuk jalaninnya. Terlebih gue tuh ada impian tuk bisa konser di panggung besar, yang dilihatin banyak orang juga penggemar. Ntar uangnya kita kumpulin buat buat usaha kecil-kecilan. Duh senangnya Din, apalagi saat gue mengetahui suara lu tuh merdu bagai artis. Hu..makin tambah semangat aje gue ni Din. Itulah alasannya gue ngajak lu ikutan. Sudi gak lu Din..! Ujar Fahmi sambil menyikut lengan Udin.
“Oh gitu toh, mbok bilang dari tadi kenapa! Betul juga ya, lagi pula dah lama gue tidak menyanyi lagi Mi... kepengin ni, nyanyi lagi. Kalo gitu bolehlah…pastinya ada sumbang jasa ya  kan. Gue masih inget apa kata Bu Iyat, “Lebih baik memberi dari pada meminta”. Nih kan bagian dari memberi juga, iya kan Mi..?
“ Yup betul tuh, kita akan memberikan jasa hiburan kepada orang-orang, pastinya tidak memelas kasih meminta simpati  mereka. Inget loh membuat orang senang tuh ibadah juga kan”.  Fahmi mengingatkan.
“Eh gak biasanya lu ngomongin yang namanya ibadah Mi, biasanya lu tuh mikirin makanan aje, makanya badan lu melar gak bisa kurus kayak gitar Lu.” Sindir Udin sambil tertawa kecil.
“He…he..he…, sekali-kali kan gak apa. Bahkan gue pernah diminta adzan di Istiqlal loh!”Ujar Fahmi menambahkan.
“Ah, lu bisa aje. Oh iya, Jadi kapan nih ceritanya di mulai konser kita? Tanya Udin.
Duh kapan ya…?, hmm gimana kalau lusa aje Din!Kita buat Sesuatu yang lebih menarik dari yang lainnya! Ujar Fahmi menambahkan.
“Emang  sesuatu yang lain bagaimana maksud lu? Tanya Udin Heran.
“Kita akan menyanyikan lagu-lagu yang unik, yang belum pernah didengar sebelumnya. Pastinya penampilan juga jangan  jelek-jelek kali, yang sederhana aje biar orang-orang tidak jijik melihat kita. Belum apa-apa sudah minder gimana mau dapat simpati yang positif. Nah tuh die maksud gue Din..! jelas Fahmi menambah pemahaman Udin.
“Oke lah Mi, kalau begitu siapkan saja semuanya ya, Ntar gue tinggal latihan  ngolah vokal, ehmm.., ehmm…, tes..tes.! Udin mendehem seraya tersenyum.
“Beres, tenang saja. Biar gue yang nyiapin semuanya deh. Sambut Fahmi puas atas keputusan sahabatnya tersebut.
Akhirnya keduanya memutuskan untuk meninggalkan rutinitas mereka sebagai penjajah koran. Dan kini akan memulai profesi baru yang dianggap lebih nyaman juga menguntungkan. Nyaman bukan dikarenakan mengharap keuntungan lebih, akan tetapi dengan begitu mereka merasa menemukan kembali bakat lama yang sempat terpendam dan akan berusaha menjalaninya bersama.
Episode baru kehidupan pun dimulai, panas terik siang tak menjadi masalah tatkala kebersamaan menyatu dengan lantunan lagu. Suara Udin membahana kesetiap ruas jalan, untuk sekedar menghampiri kendaraan yang berhenti saat lampu merah menyala. Mereka kunjungi tempat-tempat umum yang di padati banyak orang , mereka telusuri setiap gang dan lorong yang memungkin kan bagi mereka untuk berajang kreasi. Tak jarang cemohan dan makian  menampar  hati mereka saat mengunjungi komplek-komplek perumahan elit di Jakarta. Bahkan sempat dikejar-kejar polisi lalu lintas dikarenakan mengamen saat lampu hijau menyala, lantas keduanya berpencar untuk mengelabuinya.
Namun ada juga sebagian orang yang merasa terhibur dan meminta keduanya mengulangi konser mereka, terkadang sampai ada yang memberikan uang lebih sabagai rasa terima kasih untuk lagu-lagu yang mereka dendangkan. Itu semua mereka nikmati bersama, suka-duka dilalui tanpa rasa berpeluh kesah menjalani kesemuanya. Jikalau ada uang tambahan akan mereka simpan sebagai modal untuk membuka usaha kecil-kecilan nantinya.
                                                            ******


“Mi, coba lihat matahari itu. Pinta Udin seraya mengajak Fahmi duduk di atas sebuah bangunan kumuh tak berpenghuni, yang menjadi tempat mangkal mereka sehabis bekerja.
Terlihat matahari memerah diufuk barat, yang hendak meninggalkan hari. Kumpulan burung yang beterbangan menuju matahari, mengingatkan Udin akan sekelumit asa yang sempat terpendam dalam lembaran hatinya. Keduanya duduk menatap langit, sambil menikmati senja yang akan sirna. Sungguh panorama alam yang kurindukan, batin Udin.
Fahmi pun mendekat di samping Udin. Menemaninya duduk melihat mentari yang tinggal separuh diujung kota. “Aku ingat sesuatu Mi, sesuatu yang amat kurindukan tatkala aku melihat burung-burung itu. Tak ubahnya burung-burung itu adalah Aku.” Ujar Udin membayangkan.
“Emang lu ingin menjadi mereka untuk apa Din? Balas Fahmi bertanya namun tetap memandang matahari. Aku ingin seperti mereka, dapat terbang tinggi di awan dan dapat mengejar mentari senja. Mengitari seluruh pelosok kota dari ketinggian, ke manapun mereka kehendaki. Tak sepertiku, yang hanya dapat termenung mengenang mimpi dan angan-angan yang tinggi, tapi tak memiliki sayap menuju ketinggiannya. Apakah memang inilah nasib kita anak Jalanan, yang hanya dapat merenungi segala angan. Tak seperti mereka yang dapat berlibur dan mengunjungi tempat-tempat indah bersama orang yang dikasihi, kemanapun mereka pergi. Aku rindu malaikatku Mi, aku rindu ayah, dan ibuku!. Dapatkah aku bertemu mereka di surga, untuk sekedar mengobati rasa rindu yang menyelimutiku. Udin berkisah seraya meratapi senja yang tinggal setitik dengan berkeluh kesah kepada Fahmi sahabatnya.
“Din, tidakkah lu tahu.  Fahmi tersenyum.
Sesungguhnya burung-burung itu belumlah mencapai angannya, mereka belum sanggup mengejar dan menggapai mentari. Andai lu tahu, mereka itu sama seperti kita yang masih merajut impian di ufuk senja. Mereka masih berusaha mengejar mentari dengan sayapnya yang tertatih, Namun apakah mereka sudah menggapainya..? Fahmi sedikit memahamkan Udin yang mulai lemah dan putus asa menjalani hari-harinya.
“Jangan kau iri sobat,  melihat mereka yang gembira bersama orang yang mereka kasihi. Tidakkah kau memandangku sebagai sahabatmu, orang yang juga menyayangimu. Aku sama sepertimu, ditinggalkan orang yang dikasihi. Bahkan jikalau lu tahu, aku lebih menyedihkan darimu. Orang tuaku membuang dan mencampakkanku tanpa menghiraukan sedikit pun kondisi ketika aku baru dilahirkan. Aku tak sempat mendapatkan belaian mesra dari keduanya, aku tak sempat meminum segarnya ASI dari seorang ibu. Namun, Alhamdulillah aku masih memiliki malaikat-malaikat selain mereka, yaitu warga-warga yang sudi menjamahku dan mengangkatku menjadi anak mereka semua. Hati malaikat yang sulit untukku membalas segala jasa yang dilimpahkan kepadaku. Lu masih syukur Alhamdulillah, sempat mendapatkan belaian kasihnya kedua orang tuamu. Masih dapat menyebut ibu dan ayah sebagai Malaikatmu. Sedangkan aku…., aku…”
“Cukup Mi, Aku tak ingin lu lebih sedih dariku.” Sambut Udin memotong pembicaraan Fahmi.
“Bukan Sedih Din, Aku hanya sedikit membandingkan atas apa yang kualami dengan situasimu saat ini. Aku ingin lu lepas dari kesedihan yang mendera. Aku ingin kedua matamu terbuka melihat ke sekililing kita, yang ternyata masih banyak malaikat-malaikat lain yang mampu  mengasihimu. Contohnya aku, aku akan berusaha menjadi malaikatmu yang senantiasa menghiburmu. Semoga kelak kita mencapai matahari kita, dengan serpihan sayap asa yang kita miliki. Betul kan Din…? Ujar Fahmi seraya menambahkan perkataan yang sempat dipotong Udin.
“Ya Benar Mi, terima kasih atas nasehat yang lu berikan Mi. Aku menjadi lebih semangat lagi.”
Keduanya masih menatap langit yang sudah menghitam, Senja sudah terkalahkan oleh malam yang akan tiba. Terdengar alunan suara Adzan maghrib berkumandang, Sungguh elok sore ini Mi” tambah Udin seraya beranjak dari duduk mengajak Fahmi shalat.
* * * * * * *
            (Seselang 5 tahun kemudian)
“Mi, konser yuk..? Ajak Udin seraya membenahi jaket kulit hitamnya sehabis mandi.
            “Konser apaan Din, he..he..he! Canda Fahmi yang baru saja bangun tidur di atas kasur milik mereka berdua.”
            “Ah, lu Mi, becanda aje. Cepetan mandi ganti baju, dah mau konser kok baru bangun tidur. Ntar lari tuh penggemar lu lihat liur lu yang dah buat pulau di bantal. Cepetan….! Ajak Udin geram.
            Akhirnya sekarang Udin dan Fahmi mencapai apa yang diinginkan. Setelah seseorang yang tak dikenal yang kebetulan pemilik sebuah stasiun musik di Jakarta tertarik akan performa juga kualitas suara yang mereka miliki saat mengamen. Awal mulanya dari stasiun radio kecil, dan pada akhirnya di minta untuk manggung ke berbagai tempat.  Sekarang mereka dikenal banyak orang, tak terkecuali band-band papan atas lainnya yang sudah menjadi sahabat mereka. Setiap kali tampil, mereka tak bosan-bosannya mengucapkan rasa syukur atas apa yang mereka dapatkan sekarang ini. Walaupun cita-cita awal ingin menjadi pengusaha, namun bukan jadi masalah. Karena bisa saja suatu saat hal itu akan tercapai apabila mau berusaha. Pikir mereka saat ini.
Sesekali mereka kisahkan perjalanan mereka dahulu, di depan para penggemar yang terharu di buatnya . lantas menjerit histeris ingin menyapa tangan idola tersebut.
            “Baiklah sobatku semuanya, kami akan membawakan sebuah lagu yang kami persembahkan untuk semua yang hadir saat ini, terkhusus kepada anak-anak jalanan di mana pun berada sebagai rasa cinta kami kepada orang-orang yang telah mencintai kami.”
            “I Love You Full…Guys…!! Udin yang kini dipanggil Adin oleh penggemarnya, mengakhiri prakatanya dengan meneteskan air mata sebelum konser.
            Penggemarnya pun semakin menjerit histeris, lantas ada yang menangis mendengarnya. Tak  tahan menahan idolanya meneteskan air mata.
            “Saat matahari pun mulai terbit..
             Dengan pengalaman mu yang pahit.
             Kakimu menyelusuri dunia sempit…..

            Dengan tubuh yang berkeringat dan kotor
            Kau hidup bersama asap kendaraan bermotor
            Tapi semangatmu tak pernah kendor….

            Kau buang segala kemarahan
            Oh…Anak jalanan…..
            Kau termenung di pinggir Taman
           
            Kau jauhkan segala tangisan
            Oh…Anak Jalanan….
            Hidupmu selalu disertai Tuhan.”
*******
                                                                                                                                                           


This entry was posted on Kamis, 28 Januari 2010 at 20.01 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 komentar

Posting Komentar